Mohon tunggu...
Farhan Iskandar
Farhan Iskandar Mohon Tunggu... Guru - Penyair Akhirat

Sebelum daun itu kering basahilah bibirmu dengan pujian

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Setitik Pena Segudang Perpustakaan

23 Februari 2020   08:37 Diperbarui: 23 Februari 2020   08:39 55
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: myshikshak.com

Penemuan Candfield adalah:"Anak-anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritkl dan 75 komentar positif atau dukungan setiap hari."

Pada suatu hari mungkin di kelas satu atau dua, anda duduk di kelas dan guru berkata: siapa yang dapat menjwab pertanyaan ini? Anda mengacungkan tangan sambil bergeser ke ujung tempat duduk anda dengan bersemangat hingga guru itu memanggil anda. Dengan penuh keyakinan anda menjawabnya. Lalu anda mendengar beberapa anak tertawa dan guru berkata, "tidak, itu salah."

Anda merasa malu sekali di hadapan teman-teman dan guru yang merupakan salah seorang tokoh penting dalam hidup anda, keyakinan anda mulai terguncang dan benih-benih keraguan mulai tertanam dalam jiwa anda. Bagi banyak orang inilah awal terbentuknya citra negatif diri.

Tetesan Air Secara Terus-Menerus Akan Melubangi Sebuah Batu

Ada hikayat bahwa ketika Imam Syafi'i hendak memahami sebuah buku ia membacanya berulang-ulang hingga 40 kali balikan, Benjamin Franklin memperingatkan, "Bila anda berhenti berubah, tamatlah riwayat anda." 

Keluarlah dari pola kebiasaan anda. Ketika kita mengerjakan ujian Sekolah Dasar kelas 3 kita hanya menemukan 3 pilihan ganda, lalu ketika SMP akan bertambah satu dan saat SMA bertambah satu menjadi 5, sulit ataupun tidak karena kita tetap memilki keinginan untuk meguasai akademik selama 9 tahun.

Kita dapat mempercepat peningkatan dengan mempertinggi derajat kesulitan belajar: misalnya cobalah teka-teki silang yang lebih sulit, atau bermain catur dengan lawan yang lebih mahir.

Banyak hal yang akhirnya membuat seseorang putus asa menghafal al-Qur'an, karna terlalu banyak ayat, banyak ayat serupa, sulit dalam mengingat, mudah sekali lupa, dan usia yang terlampau tua. 

Kita singgung sebuah peribahasa "Akal tak sekali tiba, runding tak sekali datang" peribahasa ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan membutuhkan proses panjang, bukan hanya 30 juz yang akan kita hafal, 10 juz yang akan kita targetkan per tahun atau 5 baris yang akan kita hafalkan hari ini, tapi saat kita benar-benar ingin menghafal dan terus-menerus walaupun hanya satu baris dalam satu hari. 

Misalnya seekor kupu-kupu indah berawal dari ulat yang menjijikan dan kepompong kemudian tibalah fase kupu-kupu bersayap indah, sebuah baju semula dari kapas yang dijadikan benang, ditenun, dijadikan kain dan direkadaya seorang penjahit menjadi pakaian. Dan seterusnya. "Api besar berawal dari api kecil".

 Jika kita mulai menghafal dan mengayuh sepeda dengan tekad yang kuat dan terus mengayuh, namun tidak bisa mempertahankan kestabilan atau dipertengahan berputus asa lalu mulai berhenti karna keyakinan mulai terguncang, kita mulai ragu pada diri sendiri, kita malu karna ditertawakan , maka secara otomatis kita telah terjatuh dari sepedah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun