Mohon tunggu...
Reza AS
Reza AS Mohon Tunggu... Wiraswasta - Founder Jamaah Angon Roso (Jongos)

Belajar Berfikir Titik-Titik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kesembronoan Lirik Lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet

18 Agustus 2022   09:02 Diperbarui: 18 Agustus 2022   09:08 2095
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Joko Tingkir ngombe dawet
Jo dipikir marai mumet
Golek jamur gone mbah wage
Pantang mundur tetap nyambut gawe
Kalau Anda termasuk salah satu penikmat lagu-lagu dangdut koplo, terutama yang berbahasa Jawa, maka Anda pasti kenal dan familiar dengan syair lagu diatas. Dalam beberapa bulan belakangan, lagu berjudul "Joko Tingkir Ngombe Dawet" ini cukup viral di Youtube.
Lagu ini bisa laris dipasaran tentu karena memang memiliki banyak kelebihan, contohnya saja pilihan nada dan iramanya yang memang nge-hits. Pokoknya cocok banget untuk mengiringi joget dan goyangan dipanggung. Selain itu kandungan pesan sosial dala syairnya juga lumayan mengena banget. Lihat saja misalnya penggalan lirik berikut ini;
Ning Kediri tuku ketan
Iki crito anak rantauan
Lombok rawit, pedes tenan
Golek duit kanggo masa depan
Rokok klobot ning ngisor wit mlinjo
Paling abot ninggal anak-bojo
Tuku donat ning Kalimantan
Tetep semangat kanggo masa depan

Tulisan ini sengaja dibuat untuk menyuarakan sedikit keresahan di balik kenikmatan nada dan irama, serta syair yang dibawakan oleh lagu ini. Tentu saja keresahan pribadi saya sendiri, dan mungkin sedikit orang yang sepemikiran dan seperasaan dengan saya dalam soal ini. Keresahan itu bukan soal musiknya, bukan soal tata panggungnya, atau juga soal lenggak-lenggok egolan penyanyinya. Yakin kalau soal itu pasti tidak ada hal yang perlu digaris bawahi.

Sorotan lebih pada soal penggunaan nama "Joko Tingkir" dalam syair lagu ini. Nama seorang tokoh dijadikan judul lagu atau bahkan isi lagu itu sendiri, sebenarnya adalah hal yang biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Cuma, biasanya kandungan lagu yang menyebut nama tokoh itu adalah untuk menggambarkan dan menceritakan berbagai hal tentang kebaikan, kebesaran serta kejayaan dari tokoh yang bersangkutan. Misal saja lagu "Bung Hatta" yang dipopulerkan oleh Iwan Fals, lagu "Gie" yang bercerita tentang sosok Soe Hok Gie sebagai seorang aktivis Mahasiswa era Orde Lama,  atau juga lagu "Marsinah" yang mengangkat cerita pahlawan buruh di Indonesia dan dinyanyikan oleh grup Marjinal.

Sayangnya, nama Joko Tingkir yang muncul dalam lagu ini tak lebih hanya menjadi kata pembuka dari sebuah parikan atau pantun Jawa, yang secara arti keseluruhan sebenarnya cukup bagus juga. Sayangnya lagi, meskipun secara keseluruhan pesan yang disampaikan oleh lagu ini cukup bagus, tetapi sebenarnya tidak ada keterkaitan apapun dengan cerita atau kisah Joko Tingkir sebagai seorang tokoh sejarah.

Joko Tingkir disebut dalam lagu hanya karena sekedar cocok dengan bunyi kata selanjutnya dalam ba'it, layaknya sebuah pantun pada umumnya. Mungkin saja pencipta lagunya terinsipirasi dari pantun Joko Sembung yang sempat populer beberapa tahun lalu. Perhatikan syairnya, "Joko Tingkir ngombe dawet, jo dipikir marai mumet". Jadi pengarang hanya butuh nama sesorang yang memiliki awalan kata "Jo" dan akhiran kata "kir" atau "ir" agar cocok dengan syair selanjutnya yakni "jo dipikir", yang memiliki awalan dan akhiran kata serupa. Kemudian kata "ngombe dawet", juga agar cocok dengan syair berikutnya yang sama-sama berakhiran "met", yakni "marai mumet". Jadi, nama Joko Tingkir muncul bukan karena beliau adalah tokoh utama yang hendak diceritakan dalam lagu ini. Tetapi nama yang hanya disebut dalam rangka cocoklogi bunyi-bunyian syairnya saja.

Mungkin pencipta lagunya hendak mempersamakan dengan pantun Joko Sembung, seperti misalnya "Joko Sembung Numpak Kebo, Gak Nyambung Brow!". Sayangnya mungkin pencipta lagu ini tidak atau kurang mengetahui dan memahami akan kesejarahan Joko Tingkir. Tokoh pendiri sekaligus Raja atau Sultan Pertama dari Kesultanan Pajang eksis pada akhir abad ke-16 Masehi. Selain itu Joko Tingkir adalah juga leluhur dari banyak tokoh, ulama dan kyai-kyai besar, bahkan waliyullah yang masih ada dan dikenal hingga saat ini.

Joko Tingkir dalam kalangan orang Jawa bukanlah nama sembarangan. Beliau dikenal juga dengan gelar Sultan Hadiwijaya, Raja atau Sultan dari Kesultanan Pajang, menantu Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak Bintoro yang bisa dikatakan sebagai cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan Islam legendaris di tanah Jawa.

Nama aslinya saat dilahirkan adalah Mas Karebet, lahir menjelang subuh pada tahun 1549 M di Pengging. Pada saat Mas Karebet berusia sekitar 10 tahun, ayahnya yakni Ki Ageng Pengging dihukum mati karena tuduhan melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak. Nyai Ageng Pengging, ibu kandung Mas Karebet menyusul kemudian jatuh sakit dan meninggal pula.

Setelah kedua orang tua kandungnya meninggal dunia, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir, beliau adalah janda dari Ki Ageng Tingkir, dalang wayang kulit yang ditanggap saat merayakan kelahiran Mas Karebet. Setelah menjadi anak angkat dari Nyai Ageng Tingkir dan pindah tempat tinggal ke daerah Tingkir inilah maka kemudian Mas Karebet lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir.

Joko Tingkir remaja gemar berguru kepada tokoh-tokoh besar di Jawa. Diantara guru-gurunya, Sunan Kalijaga merupakan guru pertamanya. Selain itu Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela sehingga dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng Sela, yaitu  Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani, dan Ki Panjawi. Sosok Ki Ageng Pemanahan sendiri dikenal sebagai  Ayah dari Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, pendiri serta raja pertama dari Kesultanan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal dari Kesultanan Jogjakarta serta Surakarta.

Sultan Trenggono, Raja ketiga Kesultanan Demak menikahkan putrinya yang bernama Ayu Cempaka dengan Joko Tingkir. Kelak dari garis keturunan Joko Tingkir inilah yang akan melahirkan banyak sekali ulama dan kyai besar ditanah Jawa, yang menjadi soko guru sekaligus cikal bakal ulama-ulama besar berikutnya di Nusantara. Salah satu putra Joko Tingkir bernama Sumohadiningrat atau Pangeran Benowo menurunkan Raden Sumohadinegoro atau lebih dikenal dengan nama Mbah Sambu, Lasem. Kemudian Mbah Sambu menurunkan Raden Sumohadiwijoyo yang lebih dikenal dengan nama Kyai Mutamakkin atau Pangeran Cibolek. Masyarakat hingga sekarang mengenal Mbah Mutamakkin sebagai waliyullah di Pantura, khususnya daerah Kajen, Pati dan sekitarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun