Ulfa Khairina
Ulfa Khairina Blogger

Somewhere to learn something. Explore the world by writing. Visit my homepage www.ulfakhairina.com

Selanjutnya

Tutup

Musik

Nabila dan Mamak

16 Mei 2018   11:12 Diperbarui: 16 Mei 2018   11:32 214 0 0

"Mak, semalam Nabila keluar, ya?!" Tanyaku pada mamak yang bersiap menyalakan TV sambil menikmati makan malam. 

Mamak sontak kaget, "Serius?" 

"Kata adek begitu. Dia dapat info akurat dari bosnya." Jelas saya pada mamak. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada mamak siapa Nabila yang saya maksud. Nabila mana pun yang akan saya sebutkan pikiran mamak akan berporos pada satu Nabila. Nabila Liga Dangdut Indosiar yang mewakili Aceh. Siapa saja yang bertandang ke rumah mamak pasti akan bercerita tentang Nabila.

 Nabila, Nabila, Nabila. 

Berasa sangat bosan saya mendengarnya. Apalagj mamak suka menceritakan apa yang ditontonya pada malam konser pada saya. Padahal saya bukan fans danhdut, bukan fans Nabila. Tidak nyambung dengan cerita mamak tentang Nabila. 

Seiring waktu berlalu saya memang terbiasa dengan mamak yang terus menceritakan Nabila. Tentang pujian dan pembelaannya kepada Indosiar. Menurut pendapat mamak, Indosiar akan memberikan Nabila popularitas dan kesempatan berkarir. 

Mamak juga mengatakan jika Nabila harus dan akan pindah ke Jakarta. Kalau dia bertahan di Aceh tidak akan maju. "Harus. Dia harus pindah kalau mau berkarir. Pindah sekolah seperti Resty." Penuturan mamak sedikit berbau seperti diktator. Seperti mamak lah ibu Nabila. Padahal sudah jelas saya lah yang menempati posisi anaknya. 

Mamak mengait-ngaitkan kekalahan Nabila karena Popda yang tengah berlangsung di Takengon. Tanpa Popda Nabila akan menang. Karena perhatian pemerintaj daerah akan berfokus pada Nabila. Penyelenggaraan Popda menyita 'jatah' sms untuk Nabila. Perhatian orang terpecah. Itu adalah opini mamak. 

Saya berulang kali mengatakan pada mamak agar tidak menuruti apa yang ia tonton. Mamak hanya diam, berwajah cemberut, namun tetap menonton semua program acara favoritnya. Terutama Liga Dangdut (LIDA) Indosiar. Meskipun tidak ada Nabila lagi di TV.

 Ketika kami sedang menghabiskan waktu duduk bersama, mamak tiba-tiba nyeletuk tentang Nabila. "Nabila lebih cantik tidak berdandan." 

"Kalau Aceh tidak mau mendukung Nabila memalikan sekali. Nabila ada di TV dan bisa menang kan suatu kebanggaan juga buat Aceh." 

"Ternyata Nabila itu ada cinlok."

 Ya ampun, mamak! 

Saya tahu mamak sangat menyukai Nabila. Tapi tidak terbayang sefanatik itu. Bahkan mamak tahu benar dimana alamatnya. Ketulan teman satu sekokahan Nabila sering ke rumah. Dia teman adik saya. Jadi informasi tentang Nabila juga lebih mudah didapatkan oleh mamak dari teman si adik. 

Memang benar seperti kata mamak. Selama pentas dangdut berlangsung posisi Aceh tidak pernah maju hingga ke sepuluh besar. Masalah talent dari Aceh bukan kualitas saja. Ini juga menyangkut kekuatan penilaian melalui sms. Mana ada orang Aceh di pesisir mau membuang-buang pulsa untuk kirim sms. Nabila berbeda. Dia memang perwakilan Aceh. Dia putri daerah Gayo. Etnis gayo yang berdiam di Aceh Tengah memiliki bakat seni yang tinggi. Darah seni mengalir hingga ke sumsum mereka. Solidaritas mereka dalam dukung mendukung tinggi. Inilah salah satu alasan mengapa kali ini Aceh masuk hingga lima besar. 

Nabila mempunyai dukungan luar biasa dari orang-orang sekampung. Ditambah lagi orang-orang yang menyukainya. Dengan kemudahan vote dari Bukalapak, Nabila bisa saja semakin mendapatkan dukungan dari fans di luar Aceh. 

Menurut mamak, Popda adalah penyebab utama Nabila tidak masuk ke empat besar. Saya nyaris tertawa dan mengingatkan mamak, "Jangan baper, mak. Nabila ya Nabila. Bagaimana pun mamak mendukung dan membelanya, Nabila tidak kenal mamak. Nggak usah dibela mati-matian." 

Mamak dengan enteng menangapi, "Setidaknya kalau kita sudah tidak mengirim sms, kita nonton saja penampilannya. Kalau Nabila menang pun kan kita juga senang sebagai orang Aceh." 

Skakmat! 

Dalam hati saya berdoa kencang-kencang. Semoga suatu hari nanti mamak bertemu Nabila dan berfoto bersama. Bukan tidak mungkin, kan?! Mengingat mamak dan Nabila tinggal di kota yang sama. Itu pun jika Nabila tidak pindah ke Jakarta atau peduli pada fans.