Mohon tunggu...
Ofi Sofyan Gumelar
Ofi Sofyan Gumelar Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil

Senang baca, belajar menulis. Minat traveling sedang membangun jejaring. Bisa Dihubungi di ofi.gumelar@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Alternatif Pengganti Kantong Plastik Pembungkus Daging Kurban

10 Agustus 2019   09:24 Diperbarui: 10 Agustus 2019   13:56 0 10 5 Mohon Tunggu...
Alternatif Pengganti Kantong Plastik Pembungkus Daging Kurban
Ilustrasi Penggunaan daun jati saat Idul Adha | (KOMPAS.com/Ika Fitriana)

"Cara terbaik membungkus daging ini adalah dengan daun jati."

Demikian ucap Dedi Mulyadi, Politikus Golkar yang juga mantan Bupati Purwakarta ini dalam salah satu video unggahan di akun facebooknya beberapa hari lalu.

Video tersebut menayangkan aktivitas beliau saat sedang berkunjung ke salah satu pasar tradisional di Purwakarta. Dalam videonya itu Dedi mengkritisi penggunaan kantong plastik yang diprediksi akan meningkat saat momen Idul Adha.

Kang Dedi Mulyadi Mencontohkan Penggunaan Daun Jati Untuk membungkus Daging (sumber: FB Kang Dedi Mulyadi)
Kang Dedi Mulyadi Mencontohkan Penggunaan Daun Jati Untuk membungkus Daging (sumber: FB Kang Dedi Mulyadi)
Ya, dalam hitungan kurang dari 24 jam lagi, umat Islam di Indonesia akan merayakan Idul Adha. Hari besar bagi muslim seluruh dunia ini merupakan puncak prosesi ibadah Haji di tanah suci. Pada hari itu pula, umat muslim yang mampu dianjurkan untuk berkurban dengan memotong hewan sapi ataupun kambing dan domba.

Di negara kita, kebiasaan ibadan kurban ini kurang lebih setelah hewan kurban disembelih kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu. 

Dahulu sewaktu saya masih kecil, daging kurban tersebut diantarkan dengan menggunakan daun pisang atau daun jati sebagaimana disinggung kang Dedi dalam video facebooknya.

Sayangnya, kebiasaan itu sudah semakin jarang dilakukan lagi (kalau tidak mau menyebut sudah hilang). Kini panitia kurban lebih banyak menggunakan kantong plastik (kresek) untuk menyebar daging kurban. Saya membayangkan secara serentak berbagai daerah di Indonesia mendadak membutuhkan kantong kresek dalam jumlah yang banyak.

Masalahnya di balik penggunaan kantong plastik tersebut, terselip kekhawatiran akan timbulan sampah yang membengkak. Rasanya saya tak perlu menjelaskan panjang lebar soal bahaya plastik ini. 

Karena diproduksi dari bahan kimia, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna.

Telah banyak bukti kalau plastik bisa jadi penyebab beragam bencana. Setiap kali ada berita banjir di Jakarta, dalam beberapa liputan terlihat bagaimana sampah plastik menyumbat saluran sungai. Dalam lingkup kecil saja, kalau saluran got depan rumah kamu mampet kemungkinan besar biang keroknya adalah sampah plastik.

Jika dianalogikan sebagai penyakit, boleh dibilang plastik ini serupa kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah dan menghambat alirannya. Tahu akibatnya? serangan jantung! Iya, kalau di lingkungan mungkin ia serupa banjir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x