Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung wiraswasta

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Agama sebagai Simbol Tanda Seru (!) dan Filsafat sebagai Simbol Tanda Tanya (?)

10 Januari 2019   08:51 Diperbarui: 10 Januari 2019   14:29 155 2 1
Agama sebagai Simbol Tanda Seru (!) dan Filsafat sebagai Simbol Tanda Tanya (?)
Images : uttekefree.blogspot.com

Perbedaan antara agama dengan filsafat sepertinya ada pada dua tanda baca ini : (!) dan (?)

Agama : Tuhan itu ada !
Filsafat : adakah Tuhan ?
Agama : alam semesta adalah ciptaan Tuhan !
Filsafat : darimana asalnya alam semesta ?
Agama : akhirat itu ada !
Filsafat : adakah kehidupan sesudah mati ?
Agama : takdir adalah suatu yang tak bisa diketahui !
Filsafat : bisakah takdir diketahui ?

Artinya agama melambangkan karakter Tuhan yang menyatakan hal hal yang tidak diketahui manusia atau dengan kata lain agama berisi pernyataan pernyataan Tuhan.sedang filsafat berisi pertanyaan pertanyaan manusia- yang melambangkan karakter manusia yang ingin mengetahui apa apa yang belum diketahuinya.

Pertanyaan besarnya adalah; bisakah agama dengan filsafat dipertemukan serta lalu dipersandingkan ?

Agama dengan filsafat bisa dan dapat atau mungkin apabila pada awalnya masing masing difahami serta ditempatkan terlebih dahulu secara proporsional.analoginya, genteng dengan keramik itu bisa disatu padukan secara harmonis apabila masing masing mau ditempatkan pada tempat yang semestinya,genteng diatas dan keramik dibawah demikian juga dengan material bangunan lain.sebuah bangunan bisa berdiri tegak karena tiap material ditrmpatkan pada tempat yang semestinya

Nah kebenaran (menyeluruh) itupun ibarat sebuah konstruksi bangunan besar tetapi itu akan terbangun apabila instrumen instrument yang membangunnya ditempatkan secara proporsional.kebenaran menyeluruh dibangun oleh banyak instrument ilmu pengetahuan diantaranya yang utama; ilmu pengetahuan empirik,ilmu pengetahuan rasionalistik,ilmu pengetahuan tentang 'hakikat' serta ilmu pengetahuan hikmat (ilmu tentang makna makna terdalam).sehingga bayangkan apabila misal sains ingin atau harus dianggap sebagai satu satu nya parameter kebenaran dan segala suatu harus di ukurkan pada metodologi sainstifik untuk dapat di pandang sebagai kebenaran maka bangunan konstruksi kebenaran menyeluruh itu pasti tak akan tercapai karena konsep kebenaran menyeluruh itu merangkum keseluruhan antara yang fisik dan metafisik sedang metodologi sains tak bisa digunakan untuk merekonstruksi serta mendeskripsikan konsep konsep metafisis alias terbatas hanya dapat diterapkan di dunia fisik

Nah demikian pula dengan agama dan filsafat keduanya dapat disandigkan atau disatu padukan apabila sebelumnya keduanya ditempatkan pada tempat yang semestinya,agama sebagai firman Tuhan dan filsafat sebagai pikiran pikiran manusia.bila filsafat memandang agama sebagai hanya ilusi-dongeng masa lalu-sekedar dogma-sekedar ajaran moral atau sebagai budaya produk manusia maka fungsi hakiki agama sebagai institusi yang memberi jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang lahir dari dunia filsafat akan lenyap

Artinya dunia filsafat tempat dari beragam pertanyaan manusia yang dapat muncul ke permukaan itu memerlukan berinteraksi dengan institusi yang bisa menjawab apa apa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh para failosof nya itu sendiri.bila filsafat memilih mandiri dalam artian tidak memerlukan partner epistemologis maka pertanyaan pertanyaan tak terjawab yang ada dalam filsafat akan tertinggal hanya sebagai pertanyaan belaka.pertanyaan adalah bagian dari ilmu pengetahuan tetapi secara keilmuan apa artinya sebuah pertanyaan apabila tak pernah bisa dijawab ?

Konsep kebenaran menyeluruh itu adalah konstruksi dimana didalamnya ada lahir banyak pertanyaan tetapi ada alur-jembatan-kunci untuk menemukan jawabannya.bila pertanyaan pertanyaan penting,substansial,mendasar tidak memperoleh jawaban maka bagaimana konsep kebenaran menyeluruh bisa ditemukan serta difahami ?

Sains menemukan satu bagan dari kebenaran yaitu kebenaran empirik,filsafat menemukan satu bagan dari kebenaran yaitu kebenaran rasionalistik tetapi tidak semua hal dari kebenaran bisa di raih atau dirangkum oleh metode empirik serta metode rasionalistik maka wajar-ideal serta rasional apabila manusia harus ber estafet ke wilayah Ilahiah untuk menemukan bentuk menyeluruhnya

Dan ibarat ribuan sungai yang airnya tidak bermuara pada lautan maka airnya akan meleber ke daratan,demikian resiko dari tidak tersambungnya baik sains maupun filsafat kepada agama adalah semua pertanyaan yanh lahir dari dalamnya akan meleber ke wilayah spekulasi spekulasi yang kebenarannya tentu saja bersifat relatif karena hanya merupakan rabaan manusia

Resiko lain dari tidak berestafet nya baik sains maupun filsafat kepada agama adalah kalau dalam sains; bermuaranya tafsiran sains ke ideologi ideologi manusiawi atau sains yang lantas dibingkai oleh ideologi semacam materialisme ilmiah yang melepaskan aspek metafisis dari realitas fisik yang digarap sains,kalau dalam filsafat adalah bermuaranya wacana pemikiran ke cara pandang skeptisisme maupun relatifisme yang mana itu bukanlah tiang yang menegakkan konstruksi kebenaran menyeluruh tetapi sebaliknya adalah pandangan yang berupaya meruntuhkannya

Agama dan filsafat ibarat dua arus sungai besar dalam peradaban umat manusia,keduanya memiliki pengaruh signifikan tersendiri yang membentuk baik karakter peradaban maupun karakter individu manusia sang pembuat peradaban tetapi bagaimana cara manusia menyikapi dua arus besar itu tidaklah sama,ada orang yang mempertemukan dua arus besar itu pada satu muara dan ada pula yang cenderung membenturkannya atau menegasikan peran salah satu nya

Dan sebuah keprihatinan besar dari para pecinta kebenaran dimanapun kalau 'filsafat terakhir' atau muara dari perjalanan panjang filsafat dalam peradaban manusia adalah pandangan skeptis dan secara peradaban adalah munculnya era post truth-terbunuhnya kebenaran dalam alam fikiran manusia konon dulu nya adalah akibat pertanyaan pertanyaan filsafati yang tidak ber estafet pada agama,akibat manusia yang membiarkan pertanyaan pertanyaan yang mereka buat sendiri untuk tidak terjawab ujungnya manusia manusia skeptis itu memproklamirkan tibanya era 'post truth'

Pada akhirnya manusia pun pada akhirnya terbagi kepada dua golongan antara yang mati dengan membawa pernyataan pernyataan Tuhan dan orang yang mati dengan membawa pertanyaan pertanyaan yang tak pernah bisa dijawabnya
.............