Mohon tunggu...
Abdul Baqi
Abdul Baqi Mohon Tunggu... -

I still find each day too short for all the thoughts I want to think, all the walks I want to take, and all the friends I want to see.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kurangnya Taman yang Ramah untuk Anak-anak di Kota Medan

13 Juni 2014   03:44 Diperbarui: 20 Juni 2015   03:58 379
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_342209" align="alignnone" width="259" caption="www.medaners.com"][/caption]

Kota Layak Anak

Kota Medan termasuk salah satu kota yang meraih penghargaan sebagai Kota Layak Anak. Namun, penghargaan tersebut akan sia-sia dan sekadar seremonial berwujud piagam yang hanya menghiasi lemari kaca jikalau pemko Medan tidak sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan anak di taman kota. Melihat leluasanya pedagang dan pemodal membangun bisnis dan usahanya di sekitar taman kota lambat laun menutupi keberadaan taman kota. Kapan masyarakat dan anak-anak akan menikmati hijaunya taman kota tanpa harus semak tertutup oleh bangunan bisnis di sekelilingnya?

Sangat naif bila warga kota Medan bila ingin menikmati suasana hijau dan segar harus pergi jauh-jauh ke Bukit Lawang, Berastagi maupun Sibolangit. Kenapa taman hijau yang sudah tidak dimaksimalkan, dan kalau bisa ditambah lebih luas lagi, syukur-syukur bisa menjadi ikon kota Medan sebagai kota hijau dan ramah anak karena tiap taman disediakan sarana bermain yang cukup untuk anak-anak. Singapura yang negaranya kecil, maju dalam ekonomi dan bisnis, tapi dikenal sebagai negara yang dikelilingi hutan karena aktifnya pemerintahnya memberikan rasa nyaman dan suasana segar kepada warganya dengan giat menghijaukan kota Singapura. Harusnya Kota Medan yang punya wilayah lebih luas lebih bisa menciptakan apa yang telah dibuat Singapura.

Sudah seharusnya sebuah kota yang maju tidak hanya mementingkan pembangunan bisnis, ekonomi dan dagang yang semula bermuara kepada untung dan mengejar uang, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan membangun jasmani dan rohani warganya dengan memaksimalkan pembangunan taman kota baik sebagai paru-paru kota, tempat rekreasi warga sekeluarga juga tempat anak-anak bermain dan bersosialisasi.

[caption id="attachment_342208" align="alignnone" width="400" caption="www.hariansumutpos.com"]

1402580507525692716
1402580507525692716
[/caption]

Di kota Medan sendiri ada beberapa taman hijau yang kalau ditotal sekitar 5 sampai 6 hektar. Yaitu taman Gajah Mada seluas 1 hektar, taman Ahmad Yani seluas 1,5 hektar, Taman Teladan sekitar 0,8 hektar, Taman Beringin sekitar 1 hektar dan Taman Lapangan Merdeka seluas 2 hektar. Padahal, sesungguhnya, ukuran luas taman hijau ideal dalam sebuah kota tidak kurang mencapai 30 persen dari seluruh luas wilayah kota itu sendiri. Sementara sampai berapa persenlah luas 6-7 hektar dibandingkan puluhan ribu hektar luas Kota Medan.

Padahal, kota Medan adalah kota termaju ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya dalam bidang bisnis dan ekonomi. Tapi sayang bila kemajuan itu hanya sekadar maju diukur dari kemajuan mencari uang, tapi tidak maju berfikirnya untuk memperbanyak taman hijau di semua sudut kota dan membangun rohani dan jiwa-jiwa sehat warganya melalui taman kota yang hijau dan asri.

Kalau untuk membangun pusat perbelanjaan, bisnis, perkantoran, dan izin usaha pemko Medan sanggup kenapa untuk kebaikan pembangunan rohani, kesehatan dan jiwa-jiwa pemko Medan tidak sanggup? malah memberi izin sebanyak-banyaknya kepada pengusaha yang punya uang untuk ramai-ramai sesuka hatinya membangun bisnis di seputar taman hijau dan menggusur sebagian taman hijau dan pusat wisata murah menimba ilmu (pedagang buku) untuk keperluan pembangunan lahan parkir. Seperti tidak ada lahan lain saja buat membuat tempat parkir. Ironis!

Kebutuhan Rekreasi

Kebutuhan untuk berekreasi semakin tinggi. Anak yang sejatinya tumbuh dan berkembang berbanding lurus dengan lingkungannya akan sangat bahaya bila waktunya habis di dalam ruang (indoor) yang lebih lekat dan akrab dengan dunia permainan game, internet, televisi serta berbagai gadget yang memudahkan penggunanya berselancar di dunia maya dan perlahan menuntun mental menjadi jiwa-jiwa yang kering, ekslusif serta individualis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun