Mohon tunggu...
Tri Wibowo
Tri Wibowo Mohon Tunggu... Pemerhati Sosial dan Kemitraan Perkebunan

Magister Administrasi Publik, Analis Kebijakan Publik, Pemerhati Sosial, IG: wibowotri_ email: the_three_3wb@yahoo.co.id WA: 0852-5249-2814. Pemerhati Perkebunan dan Kemitraan

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Depresi karena "Cyber Bullying"

9 Juli 2019   21:39 Diperbarui: 9 Juli 2019   21:46 0 2 0 Mohon Tunggu...
Depresi karena "Cyber Bullying"
dok. pribadi

Saat ini media sosial benar-benar tanpa batas, ada yang memanfaatkannya dengan bijak, namun ada pula yang menyalahgunakan, ada pula cacian tidak beretika yang sudah bisa kita pastikan tidak ada filter dalam mengungkapkan suatu ekspresi, atau bahasa yang lagi trend saat ini adalah "Maha Benar Netizen Dengan Segala Tulisannya". 

Saya pribadi memanfaatkan media sosial tidak untuk bisnis atau mencari sensasi. Dalam hal ini saya ingin sharing pengalaman buruk yang saya terima terkait cyber bullying yang menurut saya apabila tidak kita sikapi dengan bijak maka akan berpengaruh pada perkembangan psikologis kita. 

Cyber Bullying adalah bentuk pelecehan, penghinaan, merendahkan yang kita temukan didunia maya, sosial media dan lainnya, dengan motif tertentu, baik menjatuhkan nama baik seseorang, atau meningkatkan popularitas atas suatu kejadian kejadian. hal ini saya terima saat sebuah akun Instagram @indonesiafeminis melakukan posting capture tulisan saya di Kompasiana terkait dengan keluarga atau parenting. (baca: Wahai Para Istri, Jangan Paksa Suamimu Mengasuh Anak-anak).

Awalnya tidak pernah ada klarifikasi atas postingan tersebut sampai dengan ada yang melakukan pemberitahuan bahwa artikel saya telah dimuat dengan tidak mencantumkan isi dari artikel tersebut. Sontak follower dari akun tersebut melakukan cacian, makian kepada diri saya, profesi, pendidikan dan bahkan keluarga saya. berikut bullying atas posting capture tersebut:

dok. pribadi
dok. pribadi
Gambar di atas adalah sepenggal kisah cyber bullying yang saya terima. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dari beberapa sudut pandang.

Klarifikasi Atas Tulisan Saya
Kalau viewer sudah membaca artikel saya tersebut, niscaya nilai yang diambil adalah bagaimana rumah tangga itu harus berjalan seimbang sesuai dengan porsinya masing-masing. Itulah value yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, walau saya mengambil judul yang sedikit kontroversi. Hal tersebut adalah strategi saya untuk menarik minat para pembaca agar dapat membaca artikel sampai selesai.

Strategi ini banyak pula digunakan penulis bahkan oleh wartawan profesional sekalipun. Judul yang menarik pasti akan menggugah minat baca seseorang. Terbukti sampai dengan saya memposting artikel ini, pembaca pada artikel tersebut sebanyak 762 viewer.

Netizen Tidak Selalu Salah
Saya sedang tersudut atau disudutkan oleh netizen atas bullying yang saya terima, mengapa saya tetap membela netizen? Pola pikir seseorang terbentuk dari latar belakang yang berbeda-beda, baik pendidikan, lingkungan keluarga, sosial dan lainnya.

Kita tidak bisa memaksa netizen untuk paham atau bahkan bijak dalam berkomentar atas pola pikir yang terbentuk dalam dirinya. Terlebih netizen dihadirkan dengan materi yang dianggapnya kontradiktif, tidak jelas atau bahkan negatif. Adalah suatu kewajaran pula apabila netizen bereaksi atas materi sepenggal yang disajikan oleh akun IG tersebut.

Bijak Menyajikan Informasi
Alangkah baiknya apabila kita ingin menyebarkan informasi, sajikan dengan jelas sumber informasi tersebut, agar orang dapat mengakses dan memperoleh nilai yang hendak disampaikan oleh penulis. Ketidaksepahaman akan pendapat atau opini saya rasa adalah hal yang wajar.

Sama seperti perbedaan suku, ras dan agama. Ide atau pendapat tak bisa dipaksakan untuk masuk ke dalam suatu komunitas tertentu. Namun apabila tetap terjadi perbedaan, maka hargailah ide tersebut. Informasi yang terpenggal akan menimbulkan hoax dan mengakibatkan kedangkalan berfikir atau sesat fikir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x