Mohon tunggu...
Trian Ferianto
Trian Ferianto Mohon Tunggu... Blogger

Menulis untuk Bahagia. Penikmat buku, kopi, dan kehidupan. Senang hidup nomaden: saat ini sudah tinggal di 7 kota, merapah di 5 negara. Running my blog at pinterim.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Masih Enggan Nulis? Satu Alasan Ini Sudah Cukup!

21 Agustus 2019   12:09 Diperbarui: 21 Agustus 2019   12:23 148 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masih Enggan Nulis? Satu Alasan Ini Sudah Cukup!
Menulis adalah melanjutkan estafet ilmu | Dok. pribadi

Selepas lulus SMA, saya terhitung jarang sekali pulang ke rumah di mana saya dibesarkan, sebab seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan ini, saya langsung menempuh studi ke luar kota, begitupun setelah lulus langsung bekerja di luar pulau. Maka saat pulang ke rumah, seringkali saya mencari 'harta karun' di rumah.

Saya ditinggal Bapak saya pas di hari keempat saya kuliah, maka saya belum sempat berdiskusi dan saling tukar pikiran dengan Bapak layaknya diskusi orang dewasa. Sekarang, saya membayangkan betapa 'nikmatnya' jika bisa melakukan hal itu, bisa menggali kebijaksanaannya, pengalaman panjang yang telah ditempuhnya, dan pesan-pesan personal sesama lelaki dewasa yang mungkin belum disampaikan kala saya masih dianggap anak-anak dulu.

Satu-satunya 'harta karun' yang saya temukan hanyalah goresan-goresan ala manusia purba yang ditinggalkan bapak, yakni: Sabar, Loman, Ngalah. Kombinasi potongan kata-kata ini saya temukan di beberapa tempat: di cover buku TTS yang biasa diisi Bapak di masa akhirnya, di buku catatan kecil risalah rapat pengurus Ranting NU, atau di lembaran-lembaran teks wirid istighotsah yang biasa dibacanya selepas salat.

Hanya tiga kata itu saja yang diulang-ulang di banyak tempat, tak ada penjelasan lebih apalagi syarah yang agak panjang.

Ketika saya konfirmasi ke ibu saya, kira-kira apa makna goresan Bapak itu? Ibu hanya memberikan penjelasan,
"Ibu saksinya, Bapakmu itu ya selalu berusaha sabar, loman, dan ngalah selama menjalani hidupnya. Itu juga yang sering diingatkan pada Ibu."

Sabar, kita tahu bersama makna letterlijk-nya. Loman, adalah bahasa jawa dari ringan tangan, atau suka memberi alias tidak pelit. Sedangkan ngalah artinya suka mengalah dan tidak perlu mau menang sendiri. Namun sebatas makna kata itu saja yang bisa saya ambil, selebihnya hanya tafsiran-tafsiran saya pribadi berdasar lelaku Bapak dulu.

Bapak hanya berijazah SMP, jadi tidak memiliki karya tulis ilmiah semacam skripsi atau sejenisnya, pun juga tidak memiliki kebiasaan menulis. Praktis, hanya dari goresan ala manusia purba itulah, saya bisa menerawang warisan petuah peninggalan Bapak.

Sontak, saya seperti tersadarkan kembali kenangan ini, kala kemarin saya mengikuti The Writers, semacam  online sharing tentang kepenulisan bersama Om Bud, panggilan akrab Budiman Hakim, jagoan advertising papan atas Indonesia, sekaligus pakar copywriting.

Baca juga: Jurnal Kompasianer Debutan, 6 dari 8 Jadi Artikel Pilihan: Tips dan Catatan bagi Newbie

Pertama kali saya tahu sosok beliau adalah kala mendapat buku gratis setelah menonton taping Kick Andy edisi Srimulat sekitar tahun 2008-2009. Dulu saya sering sekali ikut nonton Kick Andy di studio, sebab pulangnya selalu diberikan buku gratis bagi semua yang hadir. Sebagai mahasiswa, ini sungguh kemewahan sejati.

Buku yang saya dapatkan saat itu berjudul Sex After Dugem. Isinya berupa esai-esai pendek pengalaman Om Bud selama di dunia periklanan dan saat bersentuhan dengan kehidupan para artis yang ditanganinya. Buku ini menarik, mengalir sekali cara menulisnya. Sejak itu, saat ada kesempatan belajar langsung dengan beliau, tidak akan saya sia-siakan.

Di pertemuan pertama kemarin, Om Bud menekankan manfaat menulis, dan yang paling membuat saya tersadar adalah Meninggalkan Legacy. Artinya, dengan menulis kita meninggalkan warisan pelajaran, sari pengalaman, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah kita renungkan hasil sintesis selama masa hidup untuk dinikmati anak cucu kita.

Estafet kebijaksanaan keluarga kita jadi tidak berhenti hanya dikarenakan orangtua telah dipanggil menghadap-Nya. Kita bisa menggali kembali, mengambil pelajaran, dan tidak mengulangi kesalahan apa yang dilakukan orangtua atau kakek nenek kita. Bahkan jika kebiasaan menulis ini bertahan dalam beberapa generasi, maka kita benar-benar masih bisa belajar dari leluhur dan nenek moyang kita langsung. Sambil menikmati secara romantis kehidupan mbah buyut kita.

Jika Anda pernah membaca buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya, di sana digambarkan dengan cantik betapa urgen dan perlu-nya meninggalkan pesan-pesan bijaksana untuk anak keturunan.

Dalam buku yang sudah diadaptasi menjadi film tersebut diceritakan bahwa Sang Bapak sudah divonis memiliki waktu terbatas karena sakit yang dideritanya, padahal anak-anaknya masih kecil. Maka Si Bapak berinisiatif merekam secara audio visual pesan-pesan yang ingin disampaikan pada anaknya dengan harapan dapat diputar kembali dikala mereka sudah beranjak dewasa.

Dan tepat sekali, meski Si Bapak akhirnya meninggalkan keluarga kecil itu, anak-anaknya masih mendapatkan pesan-pesan bijak dan nasihat yang sangat berguna kala mengarungi kehidupan. Hubungan yang biasanya sudah dingin karena ditinggal wafat orangtua, menjadi tetap hangat karena masih ada 'saluran cerita' yang bisa dinikmati anak-anaknya.

Baca juga: Lebih Produktif dengan Teknik Membaca Buku: SOPIR

Lebih lanjut Om Bud mencontohkan, betapa senangnya saat anak cucu kita bisa membaca catatan perjalanan kakeknya yang suka naik vespa keliling Indonesia, "Wah.. kakekku ternyata seorang traveler pemberani, naik vespa keliling Indonesia." Seru cucu kita kira-kira.

Atau bahkan hal spesifik semisal, "Wah... ternyata nenekku dulu seorang analis saham meski di rumah saja mengurus anak-anaknya."

Bayangkan itu terjadi pada diri kita, pasti sangat exited membaca catatan-catatan pengalaman kakek nenek kita. Kita senang mendengarkan cerita kakek nenek kita, mengapa tidak kita coba juga bercerita untuk anak cucu kita nanti?

Jika membuat video seperti di film Sabtu Bersama Bapak terlalu sulit dan rumit, mengapa tidak kita mulai dengan membuat tulisan. Menulis saja hal-hal yang menarik perhatian kita, atau menulis pengalaman, ilmu, dan hasil perenungan kita. Minimal anak cucu kita akan sangat gembira membacanya, syukur-syukur jika orang banyak juga mendapatkan manfaat dari tulisan kita.

Menulis itu mudah. Tidak percaya? Buka saja buku catatan atau file Microsoft Word baru, lalu tuliskan apa yang ada di kepala kita. Masih kesulitan? Coba buat tulisan yang diawali dengan pertanyaan,

"Jika saya punya mesin waktu, maka saya akan melakukan?" *)

Selamat menulis, untuk kita sendiri, untuk anak cucu kita.

***
Ini salah satu bocoran tips di kelas menulis The Writers asuhan Om Bud. Kelas menulis ini disampaikan dengan cara kuliah Whatsapp setiap Selasa, Rabu, dan Kamis selama 12 kali pertemuan. Bayarnya seikhlasnya, mentornya bukan kaleng-kaleng. ;)



VIDEO PILIHAN