Mohon tunggu...
Tonny Syiariel
Tonny Syiariel Mohon Tunggu... Lainnya - Travel Management Consultant and Professional Tour Leader

Travel Management Consultant, Professional Tour Leader, Founder of ITLA

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Olimpiade, Antara Olahraga dan Politik

1 Agustus 2021   17:08 Diperbarui: 1 Agustus 2021   17:17 659 70 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Olimpiade, Antara Olahraga dan Politik
Pembukaan Olimpiade Moskwa yg diboikot AS dan negara sekutunya. Sumber: Getty Images/ www.insidethegames.biz

Baron Pierre de Coubertin mungkin tidak pernah bermimpi. Olimpiade modern yang digagasnya itu pernah diwarnai berbagai konflik politik. Dari Berlin 1936 hingga Moscow 1980. Bahkan di era terkini, korban suatu konflik politik di berbagai negara pun bisa hadir di Olimpiade. Itulah yang tersaji di parade pembukaan '2020 Summer Olympics' (Tokyo 2020). Sebuah kontingen khusus dengan bendera “Refugee Olympic Team” kembali tampil untuk kedua kalinya di pesta akbar Olimpiade.

Sejarah Olimpiade tidak hanya soal olahraga dan prestasi. Pesta multi-sport event ini pun pernah disusupi berbagai agenda politik. Mulai dari 'the Nazi Olympics' (Berlin 1938). Lalu saling boikot antara Blok Barat dan Blok Timur yang terjadi di Moscow 1980 dan Los Angeles 1984. Hingga isu HAM yang sempat membayangi Beijing 2008, dan lain-lain.

Jumat, 23 Juli 2021 lalu, sebuah kontingen dengan bendera Olimpiade ikut tampil bersama seluruh peserta dari 206 negara. Uniknya, kontingen yang diberi nama “IOC Refugee Olympic Team” bisa dibilang mewakili sebuah ‘negara’ tanpa negara. Pasalnya, inilah kontingen yang terdiri dari 29 atlet itu berstatus pengungsi dari 11 negara. Antara lain, Afghanistan, Kongo, Irak, Sudan, Suriah, dan lain-lain.

Tim Olimpiade Pengungsi di Tokyo 2020. Sumber: getty image/ www.olympics.com
Tim Olimpiade Pengungsi di Tokyo 2020. Sumber: getty image/ www.olympics.com

Kontingen ini resminya bernama EOR (Equipe Olympique des Refugies). Dibentuk oleh IOC (International Olympic Committee) dan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) yang berbasis di Jenewa, inilah kali kedua mereka tampil di Olimpiade setelah yang pertama di Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro (Rio 2016). 

IOC mungkin tidak berpolitik. Meskipun organisasi nirlaba yang sangat berpengaruh ini sudah seperti sebuah negara saja. Dan pembentukan tim pengungsi pun secara tidak langsung mengangkat krisis pengungsi ke dunia internasional melalui pentas Olimpiade.

Betapapun, nuansa politik yang dihembuskan IOC tidak ada artinya dibandingkan berbagai insiden politik yang pernah melanda beberapa pesta Olimpiade sebelumnya. Salah satu di antaranya adalah '1936 Summer Olympics' atau kerap disebut “The Nazi Olympics” yang merujuk ke propaganda Nazi waktu itu.

Berlin menyambut Olimpiade Musim Panas 1936. Sumber: www.pbsinternational.com
Berlin menyambut Olimpiade Musim Panas 1936. Sumber: www.pbsinternational.com

Berlin terpilih sebagai tuan rumah '1936 Summer Olympics' pada tahun 1931. Namun, pasca pemilihan itu, Partai Nazi kian menanjak di Jerman. Dan ketika Nazi akhirnya berkuasa sepenuhnya pada tahun 1933, ajakan boikot pun merebak di berbagai negara Eropa Barat.

Seperti diduga. Kebijakan rasis Jerman dan pelanggaran hak asasi manusia menjadi penyebabnya. Meskipun demikian, ternyata masih ada 49 negara yang mengikuti Olimpiade di Berlin. Jumlah peserta Olimpiade terbanyak sampai saat itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN