Boris Toka Pelawi
Boris Toka Pelawi Financial Advisor

pelawi.boris@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Yang Harus Dilepaskan untuk Bahagia

12 Januari 2019   01:15 Diperbarui: 13 Januari 2019   01:45 1674 21 4
Yang Harus Dilepaskan untuk Bahagia
ilustrasi pixabay

Beberapa waktu yang lalu saya menonton salah satu youtuber favorit saya. Melalui sebuah video dia akhirnya memberanikan diri untuk mengakui bahwa terkadang dia merasa depresi. Bukan karena faktor ekonomi atau ada masalah yang begitu berat, hanya saja terkadang diapun merasa kosong, buntu, tak tahu apa sebenarnya yang ingin dia lakukan. Kemelut itulah yang terkadang diakuinya membuatnya merasa depresi.

Sayapun menghubungi salah seorang sahabat saya melalui pesan WhatsApp. Saya tanya dia, "Pernah ngerasa depresi gak? depresi ringan gitu.Mungkin ngerasa baik-baik aja padahal udah masuk tahap itu.Dan ternyata itu banyak dialamin orang-orang muda kayak kita."

Dia membalas, sebut saja namanya Mawar,"Iya, depresi mah tiap hari meuren wkwkwkw."

Sebagai orang yang dekat dengan dia sejak awal masa kuliah saya kenal betul kawan saya ini. Kalau dia jawab dia sering merasa depresi saya tahu apa penyebabnya, tapi kalau dia bilang dia selalu happy, nggak mikirin apa-apa, jalanin hidup kayak air yang mengalir, dan merasa bebas kayak burung di atas batu karang di lautan, pasti dia bohong. Saya harap si suatu hari dia bisa lepas dari tahap ini, termasuk saya.

Lalu saya balas,"Hahaha.aku nonton pengakuan beberapa orang di youtube dan aku mikir kayaknya aku pernah beberapa kali memasuki tahap begitu. Maksud aku alangkah indahnya kalo kamu juga merasa demikian jadi aku gak sendiri hahaha." Mau depresi aja ngajak-ngajak orang haha.

Lalu dia membalas lagi, "Hahaha, enggaklah ris. Sekuat apapun orang di luar sana yang kalo kita lihat dia tuh perfect, punya segalanya. Pasti dia juga ada merasa takut, insecure, afraid, struggling, anxiety, angry, sad... Pasti ada sisi vulnerable-nya. Cuman nggak semua orang berani show up mengakui itu. Padahal itu manusiawi. Karena emang susah menemukan diri sendiri. Kita, teh, merasa not good enough karena compare sama orang lain. Padahal setiap orang punya flaws, and it will never change."

Dia balas lumayan panjang. Karena sempat kerja beberapa bulan di Qatar bahasa inggrisnya jadi lumayan bagus.

Tapi karena nggak kuat digodain pria bule berhidung mancung tapi belang dia pun memutuskan untuk balik ke Indonesia. Kangen cilok, seblak, gehu. Kangen makanan Bandung, katanya.

Terus saya balas lagi, "Betul, soalnya masalah kesehatan mental di Indo masih dianggap remeh. Kalau kita cerita mungkin malah bakal di judge sama orang-orang." Begitulah pembicaraan saya tentang depresi dengan dia.

Saya tahu, salah satu perasaan yang bisa mengalahkan rasa depresi adalah rasa bahagia. Tapi membuat seseorang merasa bahagia tidaklah mudah.Kenapa ya, saya bertanya-tanya.

Saya pikir salah satu hal yang membuat banyak orang stres hingga depresi adalah karena manusia didoktrin dan diiming-imingi setiap hari agar memiliki banyak ambisi dan keinginan.

Tentu kita tahu semua tahu kisah Kartun Doraemon. Dengan kantong ajaibnya, dia bisa mengabulkan banyak permintaan seorang anak yang bernama Nobita.

Nobita ini keinginannya nggak berujung. Enggak habis-habis. Pengen ini, pengen itu banyak sekali.

Kadang tanpa kita sadari, kita juga sudah seperti Nobita. Keinginan perut juga keinginan mata menguasai diri kita. Me-manage diri tiada lagi berguna karena kita tidak bisa menyingkirkan yang seharusnya.

Saya pernah dengar sebuah cerita, ada seorang yang kaya di Inggris, sering dia berbelanja banyak barang, sangkin banyaknya, ada begitu banyak barang yang sampai dia mati belum dibuka bungkusnya. Sempat dicobain pun tidak.

Orang bijak bilang, bahwa keinginan manusia itu seperti mangkok tak berdasar. Gak akan pernah ada puasnya.

Ada hal dalam jiwa kita yang tak bisa dipuaskan dengan sesuatu yang fana (aduhh bahasamu getek deh).

Kita pun jarang diajari untuk mengurangi keinginan, bahkan membuang segala keinginan yang yang sebenarnya tak berguna. Kita diarahkan untuk semakin hedonis.

Kita menjadi seperti anak-anak yang terus merengek meminta jajan pada kehidupan. Padahal kita hanyalah musafir di dunia, waktu terbatas, kita hidup hanya sementara saja. Ada yang depresi karena tak mendapatkan yang diidam-idamkan, ada yang depresi karena tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Depresi dan segala turunannya, hal-hal yang membuat kita tidak bahagia, harus kita lawan.

Salah satu caranya adalah dengan melepaskan segala keinginan yang tak terlalu berguna. Misal, keinginan untuk memenuhi ambisi agar jadi kaya raya, keren, jadi pusat perhatian, hingga terkenal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2