Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih untuk teman2 yang sudah vote dan berkomentar di artikel saya

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Jangan Biarkan Nasib Mengurangi Gairah Masa Mudamu

2 Agustus 2016   06:59 Diperbarui: 15 April 2019   13:53 584 30 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Biarkan Nasib Mengurangi Gairah Masa Mudamu
Sumber: plus.google.com

Hari ini saya beserta keluarga mengantar adik saya untuk menjalani pendidikan barunya. Setelah setahun fokus bekerja kini dia kembali melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.Jika melihat keadaan ekonomi sih, rasa-rasanya tak mungkin dia bisa melanjutkan kuliah tahun ini.

Tapi untung saja kami tak menyerah pada situasi, berbekal motivasi dan optimisme akhirnya impian itu tercapai; babak baru dalam kehidupanya menuju seorang wanita yang makin dewasa melalui bang kuliah. Bersyukur juga, karena dia bisa kuliah tahun ini berkat beasiswa yang diberikan oleh gereja. Karena semangat melayani dan sedikit keahlian dalam bermusik dia rutin dan aktif di gereja. Tentu semua jerih payah tak ada yang sia-sia, dan beasiswa ini adalah salah satu hasil dari kesetiaanya untuk melayani di gereja selama ini.

Tanpa bermaksud apapun, saya hanya ingin memberi contoh bahwa "uang bukanlah  segala-galanya ialah benar adanya."Uang memang penting, tapi yang penting tidaklah berarti segala-galanya.Peluang mencapai banyak hal dengan uang memang banyak, namun hal itu tak menutup berbagai peluang yang tersedia tanpa kekuatan finansial. Contohnya kasus adik saya, memang sih ujung-ujungnya kuliah nya dibayarin, tapi hal itu membuktikan bahwa peluang untuk kuliah tak melulu berdasarkan keuangan pribadi.Nasehat purba berkata, dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Sekalipun banyak tantangan dan kepahitan saya termasuk orang yang menganut paham kalau masa muda ialah masa yang paling indah. Masa muda mendatangkan pemakluman sekalipun banyak kesalahan yang kita lakukan. Tak berhenti sampai disana, kita pun masih diberi banyak waktu untuk memperbaiki tiap kesalahan yang telah kita lakukan. Secara matematis kita masih dibekali usia yang panjang untuk merubah kesalahan menjadi pelajaran.Tanpa bermaksud menutup semua peluang yang dimiliki kaum muda pada kaum tua, harus di akui kalau anak muda itu spesial.

Sebagai anak muda bermuka tua, saya selalu menikmati masa ini sebagai era keemasan yang penuh sensasi dan petualangan. Memang sih banyak hal belum tercapai, namun justru itulah yang menarik. Masa muda bukan hanya bicara ambisi dan pencapaian, masa ini penuh dengan kekonyolan, teriakan, jeritan, idealisme, serta pergaulan yang "sebebas-bebasnya." Kita baru mengenal banyak hal, belajar jadi amatiran, dan tenggelam dengan berbagai permainan.

Itu sebab, tak seharusnya kita sebagai anak muda meratapi nasib. Memang sih menjalani hidup di tengah berbagai himpitan tidak mudah. Namun disitulah seni menikmati hidup kita di uji. Jangan sampai nasib merusak selera kita untuk hidup, tetaplah antusias terhadap sesuatu. Lalu kenapa kita harus tetap bergairah dalam menjalani masa muda ini, berikut beberapa point yang bisa kita renungkan bersama.

1. Masih Ada Banyak Waktu Untuk Mencoba dan Belajar

Saya suka pernyataan Jack Ma,salah satu pendiri e-commerce terbesar di duniaAlibaba. Dia bilang begini, "once in your life, try something, work hard at something, try to change, nothing bad can happen.

Pernyataan Jack Ma tentu berlaku untuk segala usia. Namun bagi kaum muda pernyataan itu terasa spesial.Beberapa alasanya karena kita masih memiliki banyak energi untuk melakukan berbagai hal.

Kalaupun gagal, masih ada banyak waktu untuk memperbaikinya.

2. Serunya Mengutak-ngatik Talenta dalam Pencarian Passion

Karena masih ingin mencapai ini itu, wajar kalau anak muda punya ambisi yang menggebu-gebu.Hal itu membuat setiap orang muda berpotensi memiliki watak Bill Gates,Monomania.Yaitu sebuah watak yang,"ketika sedang fokus pada sesuatu itu saja yang dipikirkanya."

Saya sendiri cukup terlambat menyadari kalau saya punya passion dalam bidang tulis menulis. Tapi okelah saya anggap itu bukan sebuah keterlambatan. Mungkin memang sekarang lah waktunya bagi saya untuk menyadarinya. Ini bukan soal tepat waktu, tapi soal waktu yang tepat (ngeless).

Itu kenapa bagi saya pribadi, jangan sampai watak monomania anak muda jatuh pada kebutuhan rutinitas, yaitu uang. Mencari uang itu penting, tapi menemukan passion (sekaligus tujuan hidup dll) juga tak kalah penting.

Dunia ini dirubah oleh orang-orang berbakat yang menekuni talentanya. Ada orang yang menemukan passionya di usia muda ada yang menemukanya di usia dewasa.Tapi alangkah lebih baik kalau disaat muda kita sudah menemukanya.Itu sebab kita harus mencoba banyak hal. Karena untuk beberapa orang yang tak terlalu senang dengan hal-hal teknis, menemukan passion memiliki tingkat kesulitanya sendiri. Jadi temukanlah keseruan dalam pencarian passion alih-alih pencarian jati diri.

3. Gabungkanlah Diri dalam Histeria Massa Teknologi

Jangan terlalu pikirkan apa yang orang bilang.Saya sendiri menulis dan suka men-sharingkan di media sosial. Walaupun tidak sering sih. Jangan takut dibilang narsis, belagu atau apalah. Toh narsis selama itu positif tak ada salahnya kan.

Bagi saya pribadi kehadiran teknologi telah mematahkan teori hierarki Maslow. Kini kita tak lagi digerakan oleh keinginan dan tindakan yang terkotak-kotak. Sekalipun kebutuhan akan sandang, papan dan rasa aman belum terpenuhi. Hasrat kita untuk mengaktualisasikan diri (sebagai kebutuhan tertinggi dalam teori  Maslow) tak melulu hadir di akhir.

Teknologi informasi telah membuat orientasi kita berubah. Tak masalah perut lapar, asal kebutuhan akan informasi terpenuhi kita fine-fine saja toh. Apalagi di zaman follow mem follow seperti sekarang ini dengan banyak follower rasanya kita sudah merasa sebagai seorang idola. Tak apa-apa, ini jaman kreatif, nikmati saja. Jangan gaptek, minimal bisa buka google lah hehe.

Tidak ada yang salah kok dengan kesenangan yang ditawarkan zaman, kalau kita tahu membatasi diri. Jadikanlah narsis kita positif dan bermanfaat buat orang lain, cobain deh rasanya serulah pokoknya.

4. Ingatlah Kalau Hidup Cuman Sekali

Hidup hanya sekali, masa muda hanya sekali, tak ada manusia yang bisa lahir kembali.Kenapa harus mengisi kemudaan kita dengan perilaku yang merusak diri. Bukan berarti kita harus memaksakan diri terus ya.Kita juga perlu sedih, marah dan merasakan emosi lainya untuk kedewasaan diri.

Ada banyak tempat wisata yang bisa dituju, teman dan kegiatan lainya untuk me-refresh otak. Lihatlah dunia dengan sudut pandang yang lebih luas. Ada jutaan anak muda yang mengalami apa yang kita alami. Sadarilah kita tidak sendirian.

5. Buat Sibuk Untuk Hidup

Kekosongan aktivitas dapat menciptakan kehampaan eksistensi dalam diri kita. Tak jarang hal ini menciptakan rasa frustasi dan kejenuhan didalam diri.Itu sebabnya kita harus aktif.

Selain mengasah talenta, ciptakanlah proyek pribadi yang membuat hidup benar-benar hidup .Saya sendiri sempat berhenti menulis di blog ini karena harus menyelesaikan naskah novel picisan saya. Syukur sudah selesai dan beberapa bulan yang lalu sudah ditangan penerbit. Sebenarnya menerbitkan buku di zaman ini sih tidak sulit. Ada banyak penerbit yang menawarkan untuk menerbitkan naskah kita.

Namun saya tetap mencoba dulu ke penerbit mayor. Prosesnya memang lebih lama, itu sebab saya harus sabar menunggu keputusan dari mereka. Tapi saya kira dengan kerja keras selama ini kita pantas mendapatkan yang terbaik. Tentu kerja tidak seharian, kalaupun ditambah kuliah seperti saya, masih ada beberapa waktu yang tersisa.

Mengerjakan proyek pribadi itu seru sekali. Seolah-olah kita jadi CEO dadakan dan diri kita sendirilah pekerjanya. Kemanakah semua usaha ini akan membawa kita? Saya sendiri tidak tahu. Tapi minimal, kita bisa menikmati hidup dengan cara yang produktif dan berisi.

Nikmatilah masa muda, dan jangan biarkan nasib merusaknya. Segini dulu, saya kan bukan Mario Teguh.

 ---

Boleh setuju boleh tidak

Penikmat yang bukan pakar

*ditulis dengan terburu-buru sebelum berangkat kerja.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x