Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cukup Sekali Saja Tulis Kebohongan, Maka Seumur Hidup akan Ternoda

6 Desember 2021   09:11 Diperbarui: 6 Desember 2021   09:54 254 45 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Dokumentasi Pribadi

Media Tidak Kenal Kata "Memaafkan"

Kalau kita berbuat kesalahan pada seseorang dan sadar akan kesalahan ,maka kita  datangi orang yang bersangkutan dan mohon maaf. Biasanya melihat kesungguhan hati kita bahwa kita menyesali kesalahan yang sudah terjadi,maka masalah kesalahan sudah tidak akan disebut sebut lagi.  Begitu juga,bila kita berhutang sebungkus nasi dan belum ada uang uang membayarnya,maka kita datangi warung nasi dimana kita masih ngebon dan minta maaf,serta berjanji akan melunasi hutang bila sudah dapat uang . Dan kesalahan kita tidak akan menjadi viral. 

Beda Dengan Sebuah Kebohongan di Media 

Tetapi bila kebohongan dilakukan dengan menuliskan kisah bohong di media,maka jangan harap akan ada maaf dari media. Ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang akan mencerca ,bukan hanya sosok orang yang berbohong,tapi seluruh anggota keluarganya tidak luput dari kemarahan orang banyak . Karena itu perlu sangat berhati hati ,sebelum jari tangan menekan tombol :"tayang" Pastikan jangan ada satupun kebohongan dalam tulisan kita,apalagi menyangkut kepentingan umum .Bila hal ini terjadi,maka celakalah kita.  Tuhan akan mengampuni dosa kita,bila kita bertobat,tapi bagi media berlaku hukum: "Tiada maaf bagimu"

Ini Bukti Autentiknya:

Karena sudah pernah ditulis dan sudah menjadi viral,yakni tentang parkir liar  di Tanah Abang,maka tentu saya tidak akan mengulas lagi panjang lebar. Intinya,seandainya, apa yang saya tuliskan hanyalah karangan saya semata dan tidak ada bukti tertulis ditangan,maka saya tidak akan punya muka lagi untuk menulis di Kompasiana .Karena ternyata ,masalah yang saya anggap sepele ini,menjadi topik berita,tidak hanya dalam pembicaraan di WAG,tapi dalam media mainstream . 

Ini Buktinya:

Kompas.com
"Pengendara mobil mengeluhkan kembalinya juru parkir liar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Baru parkir kurang dari 30 menit, pengendara diminta membayar Rp 20.000. Pengalaman ini dialami oleh Tjiptadinata Effendi, yang dituangkan dalam tulisannya di Kompasiana."
Liputan 6.com-
Warga DKI bernama Tjiptadinata Effendi menulis kegalauannya itu dalam sebuah forum pada Kamis 10 November 2016. Dia mengeluhkan tarif parkir mobil yang fantastis di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia diminta juru parkir membayar Rp 20 ribu hingga menjadi viral di media sosial. Penelusuran   Liputan6.com melalui laman chirpstory.com, Sabtu (12/11/2016), ada 1.262 yang mengomentari keluhan kesah Effendi yang berjudul 'Parkir Liar Bertarif Mencekik Marak Lagi di Tanah Abang

Dari 2 contoh diatas sudah dapat dibayangkan seandainya,saya hanya ngarang ,maka saat ditelpon oleh Kepala Bidang Hukum Direktorat Perhubungan,maka saya tidak tahu mau menjawab apa. Tapi karena bukti tertulis ada ditangan saya,maka dengan mantap saya jelaskan secara rinci,apa yang sesungguhnya terjadi. 

Rp.20.000 Masalah Sepele Tapi Menjadi Viral

Sesungguhnya uang senilai Rp.20.000 rupiah adalah masalah sepele. Kalau di Australia,tidak dapat untuk beli secangkir kopi.  Tetapi karena menyangkut kepentingan orang banyak,maka apa yang sepele menurut anggapan kita ,ternyata mendapatkan tanggapkan yang serius dan menjadi viral diberbagai media massa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan