Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Terkurung Dalam Jurang Kehidupan

9 Oktober 2021   19:55 Diperbarui: 10 Oktober 2021   04:38 170 32 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
dokumentasi pribadi

Sepotong Kisah Hidup

Laki laki yang bernama Kim ini ,berusaha untuk menampilkan wajah ceria ,saat berada selangkah lagi didepan gubuk yang menjadi tempat berteduh dirinya bersama isteri dan anaknya  Anton yang belum genap berusia 4 tahun. Ia tidak ingin membuat isterinya cemas menengok keadaan dirinya. Karena sesungguhnya Kim siang tadi jatuh dari atap bis,saat ikut berkerja bongkar muat barang. 

Masih beruntung ia jatuh pas diatas karung berisi beras ,sehingga tidak sampai fatal. Namun ia merasakan kesakitan yang amat sangat dibagian tulang rusuknya.  Untuk beberapa saat ia mencoba berdiri dan duduk diatas tumpukan barang . Tapi ia tidak sempat mematut matur diri,karena sudah terdengar suara mandornya  berteriak :"Hai Aseng,kalau kau tidak kuat pulanglah. Nanti mati kau disini,kami pula yang terbawa bawa " . Untuk beberapa detik, rasanya Kim ingin berlari pulang,tapi tetiba ia ingat ,dirumah beras sudah habis dan terbayang wajah isteri dan putranya yang pucat,lantaran kurang makan. Maka dikuatkannya hati dan berteriak :" Siap Bang. Aku tidak apa apa" Dan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa ia kembali bekerja .

Kini dalam saku celananya ada uang yang cukup untuk membeli beras ,untuk mereka makan malam ini dan esok pagi. Ia mengetuk pintu dan sesaat kemudian kedengaran suara wanita berteriak dari dalam:"Ya ko, saya datang " dan secara hampir bersamaan terdengar suara putranya berteriak:"Horeee papa pulang "

Begitu pintu dibuka,putranya sudah berlari kedalam pelukannya dan disusul oleh Helen  isterinya. Kim membuka dompetnya yang lusuh  Mengeluarkan semua upah bongkar muat yang merupakan bagiannya,serta menyerahkan kepada isterinya dan berkata :"Sayang,puji Tuhan ,hari ini kita dapat uang untuk beli beras." Ini ada roti manis dua potong,saya sudah makan tadi"  katanya berbohong.Karena sesungguhnya,roti manis tersebut diberikan oleh penumpang bis yang kasihan menyaksikan ia terjatuh dari atap bis dan ia tidak ingin memakannya,karena ingat anak dan isteri dirumah

Isterinya bergegas kekedai tetangga untuk beli beras dan ikan asin . Lalu memasak untuk makan malam bagi mereka tiga beranak.Lega rasanya ,menyaksikan putranya makan dengan lahap ,dengan wajah berseri seri  dan ia saling berpandangan dengan isterinya. Tetiba air matanya jatuh berderai,saat menyaksikan wajah isterinya yang pucat ,karena kecapaian dan kurang makan. Buru buru ia menghapus air matanya,agar jangan sampai isteri dan anaknya menyaksikan hal ini. 

Malam itu mereka bertiga tidur dengan nyenyak 

Malam semakin larut dan hujan turun dengan sangat deras,disertai bunyi petir yang memekakan telinga. Kim langsung terbangun dan duduk ditempat tidur mereka yang terbuat dari papan bekas dan beralaskan kasur yang sudah tidak layak pakai. Ia mencoba berbaring lagi untuk bisa tidur,karena esok pagi ,sudah ia sudah harus ketempat perkerjaannya. Tapi rasa sakit yang amat sangat pada tulang rusuknya,membuat ia tidak mampu memejamkan mata. Dalam kesakitan yang amat sangat,Kim berdoa dalam hati :"Ya Tuhan,kalau boleh mohon agar kami bisa hidup lebih baik, tapi kalau memang  harus dijalani,mohon cukuplah saya saja yang menanggungnya . Mohon jangan biarkan isteri dan putra kami ikut menanggung beban hidup ini. ". Baginya doa bukan hanya sebatas dari mulutnya,tapi terbit dari rasa sakit yang hampir tidak tertahankan baginya. Apalagi menyaksikan wajah kedua orang yang dicintainya  melebihi dirinya sendiri,tampak pucat pasi dan tubuh kurus. Sungguh ia merasa amat bersalah,karena ketidak mampuannya sebagai seorang suami dan ayah telah menyebabkan kedua orang yang dicintainya,harus menanggung beban hidup. Ia berpikir apa lagi dari barang pribadinya yang bisa dijual ,agar dapat meringankan penderitaan anak isterinya. Stelan jas yang dipakai dihari pernikahan mereka sudah lama dijual ,seluruh pakaian yang layak pakai juga tidak ada lagi. Bahkan sepatupun sudah dilego,sehingga kemana mana ia hanya mengenakan Sandal Jepit. Semakin mendalam ia berpikir,semakin dirinya terpuruk dalam keperihan ...

Sementara itu hujan turun,bagaikan dicurahkan dari langit Guntur seakan akan merobek robek dinding gubuk dimana mereka berteduh.  Akhirnya saking kelelahan  menahan sakit dan rasa kantuk seharian kerja keras,Kim tertidur sambil memeluk isteri dan anaknya..

Hujan yang turun tanpa henti,lama kelamaan sudah mulai menggenangi jalan di depan gubuk mereka dan dengan cepat merasuk masuk melalui celah celah dinding dan dengan cepat  mulai mengenangi lantai gubuk mereka  .Bahkan hujan yang disertai angin kencang,menyebabkan lampu dinding padam Karena sudah 3 bulan sambungan listrik diputus petugas PLN karena mereka tidak mampu melunaskan tunggakan. Saking kelelahan, laki laki ini ,bersama isteri dan putranya sudah terlelap dalam tidur dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi..........

(bersambung) 

Tjiptadinata Effendi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan