Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Ada yang Menyongsong Hari Raya Idul Fitri dengan Tangis

9 Mei 2021   05:43 Diperbarui: 9 Mei 2021   06:54 522 35 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ada yang  Menyongsong Hari Raya Idul Fitri dengan Tangis
Sumber: www.altmuslimah.com

Menyisakan Hati Yang Terbagi Dua

Seperti biasanya setiap bulan ramadan,walaupun secara pribadi saya dan isteri sebagai non Muslim tidak ikut berpuasa,tapi sebagaimana yang sudah pernah saya ceritakan, keluarga kami terdiri dari berbagai suku dan agama. Banyak diantara keponakan dan cucu keponakan kami selain beragama Katholik.juga beragama Islam. 

Hubungan kami sangat baik dan tidak pernah sekalipun terjadi gesekan karena masalah beda suku atau agama. Bahkan seperti yang juga sudah pernah saya tuliskan,setiap tahun kami merayakan 3 hari raya,yakni Natal, Imlek dan Hari Raya Idul Fitri Tapi karena kami sering berpindah pindah ,apalagi nomor Hp +62 sudah tidak digunakan lagi,maka kami kehilangan kontak dengan sebagian sanak keluarga dan sahabat di kampung halaman. Bersyukur beberapa orang diantaranya,bertemu di facebook,sehingga kami dapat saling bertukar nomor kontak masing masing

Tahun Yang Sarat Air Mata

Saat pertama kali saya mencoba menghubungi via WA,sangat senang sekali setelah hubungan terputus selama bertahun tahun,kini bisa tersambung lagi. Kemudian saya susul dengan menelpon ,salah satunya adalah sahabat kami pak H. Andri. Begitu tersambung,langsung dijawab oleh pak Andri:" Alhamdulilah kami lai sihaik kasado alanyo. Baa kaba apak jo ibuk di Australia?" Dan kami melanjutkan pembicaraan dengan penuh rasa syukur

Tetapi saat menghubungi Yenny,salah seorang kepoanakan kami,ketika saya menelpon,terdengar suara orang menangis dan baru beberapa saat kemudian terdengar suara Yenny yang bernada pilu:" Onde Om, Yenny indak tahu nomor telepon Om. Apak awak baru semingu lalu maningga karena covid .dan kemudian kembali suara tangisan yang sangat menyesakan dada. 

Bagaimana mungkin saya menanyakan tentang Hari Raya kepada Yenny yang sedang dirundung duka,karena ayahnya yang baru berusia 51 tahun meninggal dunia karena terkena covid 19?  Kalau orang kehilangan dompet atau barang,kita bisa menghibur "jangan sedih ,nanti cari gantinya yang lain ya" Tapi karena Yenny kehilangan ayahanda yang dicintainya,bagaimana cara menghiburnya? Nah,terasa benar,bahwa tidak jarang sebagai seorang kakek,saya kehilangan kata untuk menghibur

Kemudian saya alihkan ke nomor telpon lainnya,juga masih salah seorang keponakan  kami,yang sewaktu masih kecil seringkali saya gendong setiap kali bertemu. Tapi itu cerita 30 tahun lalu. Kini Ella sudah berkeluarga,bahkan 2 anaknya sudah sekolah. Tapi sejak beberapa tahun ini hubungan kami terputus,karena Ella pindah ke Pekanbaru ikut suami. Begitu saya telpon ,langsung dijawab :" Ya Om ,ini Ella. Baa kaba Om dan tante? Sanang bana hati awak dapek talepon dari Om. Dan kemudian hening sesaat dan dilanjutkan dengan suara tangisan....Om ,Uda ala dipanggil Allah  diawal bulan puaso lalu ." Aduh...padahal suami Ella baru berusia sekitar 30 tahun 

Kata orang ,sebagai orang tua, saya sudah banyak makan asam garam kehidupan .Tapi menghadapi berita duka yang bertubi tubi,sejujurnya saya jadi keder untuk melanjutkan menelpon... Ternyata saya tidak kuat mendengarkan suara tangisan.....

Ternyata tidak semua orang beruntung dapat menyongsong Hari Raya Idul Fitri dengan gembira.

Sementara ada yang sedih karena tidak  dapat pulang mudik ,serta ada juga yang sedih karena tidak punya uang untuk membelikan baju dan sepatu baru untuk anak istrinya,ternyata ada yang jauh lebih sedih lagi,yakni Yenny dan Ella ,yang keduanya kehilangan orang yang dicintainya.........

Sebuah renungan menyongsong Hari Raya Idul Fitri

Tjiptadinata Effendi

VIDEO PILIHAN