Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Novel Kehidupan (Bagian ke-7)

5 Maret 2021   10:03 Diperbarui: 5 Maret 2021   10:14 130 20 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Novel Kehidupan (Bagian ke-7)
dokumentasi pribadi

Tak Ada Lagi Benda Kenangan di Hari Pernikahan yang Tersisa 

Sehabis menyelesaikan pekerjaannya menjual kelapa parut, jam sudah menunjukan jam 10.00 pagi. Walaupun secara resmi, Pasar ini dibuka 24 jam setiap hari, karena rata rata yang berjualan tinggal dikedai masing masing, tetapi dalam praktiknya, setelah jam 10 pagi, pasar sudah sepi pengunjung. Maka buru buru Edy mandi dan berganti pakaian. Pamitan dengan isterinya yang lagi menjaga putra mereka yang demamnya kambuh.  

"Sayang, papa mau ke PLN melunaskan tunggakan agar listerik dapat dinyalakan lagi" kata Edy kepada Leni istrinya. Leni berdiri dan mengantarkan suaminya hingga di pintu keluar dan berkata lirih, "Hati hati ya pa. Semoga hari ini ada rezeki ya. Anak kita perlu dibawa ke dokter, karena demamnya tidak turun sejak malam tadi" Dan dengan menarik nafas panjang, Edy memeluk isterinya dan berkata, "Ya sayang, selesai urusan di PLN papa akan langsung  kerja bongkar muat barang." Dan kemudian langsung berpaling. Tak mampu ia menatap wajah isterinya yang kurus dan pucat. Setiap kali memandangi wajah anak istrinya yang kurus dan pucat, serasa dirinya merasa sangat berdosa, karena tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga. 

Uang Tidak Cukup Untuk Biaya Berobat Anak

Begitu urusan di PLN selesai dan Petugas PLN mengatakan dalam dua atau tiga hari, lampu akan dinyalakan kembali. Maka Edy langsung pulang untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Begitu tiba di rumah, isterinya sudah menunggu di depan pintu. Suasana hatinya sangat galau menyaksikan wajah isterinya yang tampak tegang, "Pa, anak kita tadi kejang kejang lagi, Kita musti bawa ke dokter."

Edy terdiam. Hampir seluruh uang hasil penjualan stelan jas pernikahannya, sudah terpakai untuk membayar tunggakan PLN dan hanya tersisa beberapa puluh rupiah dan tidak mungkin cukup untuk biaya berobat ke dokter. Edy batal masuk ke dalam rumah dan berkata kepada isterinya, "Sayang, papa mau coba pinjam sama Om John ya, mudah mudahan dikasih pinjam. Karena uang kita tidak cukup untuk biaya berobat ke dokter." Isterinya hanya mengangguk lemah dan mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.

Makanya  kalau belum mampu, Jangan Buru Buru Kawin

Dengan memberanikan diri, Edy mengetuk pintu pagar rumah Om John yang luas dan megah. Hubungan kekeluargaan mereka sesungguhnya sangat dekat, tapi nasib mereka berbeda bagaikan siang malam. Agak lama menunggu, tampak seorang pembantu rumah tangga datang dan bertanya, 'Maaf mau cari siapa?" 

"Om John ada di rumah mbak? saya ada hal penting mau dibicarakan" kata Edy

Dan pembantu membukakan pintu pagar dan melapor kepada Bossnya Om John. Tampak keluar dari arah dalam seorang pria dengan pakaian parlente. Berhenti di depan pintu dan berkata, "Apa kabar Edy? Maaf Om mau buru buru ke kantor. Lu bilang aja deh,ada apa?" 

Dengan memberanikan diri Edy berkata, "Maaf Om, anak kami kejang kejang, boleh pinjam uang untuk ke dokter Om?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x