Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengontrol Hidup Orang karena Merasa Sudah Menanam Budi?

24 Oktober 2019   18:49 Diperbarui: 24 Oktober 2019   18:56 656
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lebih Baik Jangan Menolong,Kalau Tidak Ikhlas

Menolong dengan ikhlas ? Kalau sudah menolong ,ya tugas kita sudah selesai. Tapi kalau masih ada embel embel lain yang menyertai,apapun bentuknya, maka pertolongan yang telah kita berikan,sudah tidak lagi murni. 

Tidak jarang terjadi,orang yang sudah membantu orang lain,terus merasa berhak mengontrol hidup orang yang ditolong. Bahkan merasa berhak menegur dan memarahi. Misalnya ,memberikan orang sebungkus nasi.

Terus yang menerima,membagi pula nasi tersebut kepada orang lain yang sama sama membutuhkan .Karena merasa nasi tersebut ,kita yang memberikan,maka merasa berhak menegur :"Saya kasihkan nasi tersebut untuk anda,mengapa anda bagi kepada orang lain?"

Cara dan gaya yang tidak terpuji ini,bukan sebuah fiksi,tapi nyata terjadi sejak dulu dan berlangsung hingga di era milleneal ini. Karena merasa sudah menanam budi,terus berani menuntut agar orang yang sudah ditolong,berbuat seturut maunya kita.  Betapa menyedihkan tipe orang seperti ini Hal ini berpotensi  menyebabkan orang yang ditolong,merasa menyesal sudah menerima pertolongan,karena merasa dirinya sudah tergadaikan dengan menerima bantuan orang lain

Pernah Diselamatkan Orang Berkali Kali,Tapi Tidak Tahu Siapa Yang Telah Menyelamatkan Saya

Seperti yang sudah pernah ditulis,saya sudah berkali kali diselamatkan orang ,Pertama sewaktu tenggelam di laut ,diselamatkan oleh Nelayan. Tapi setelah saya siuman,saya tidak pernah tahu,siapa sesungguhnya yang telah menyelamatkan saya. 

Pernah saya dibonceng dengan Vespa dan sewaktu berada di tikungan,seharusnya memperlambat laju kendaraan,justru ia salah memperbesar gas. Akibatnya,Vespa menabrak pohon kenari dan saya terpelanting tak sadar diri.

Baru sadar ,ketika sudah berada di Rumah Sakit Umum M.Jamil di Padang  . Menurut perawat,saya diselamatkan seorang anggota TNI ,namun tidak meninggalkan nama.Sehingga saya tidak pernah tahu,siapa yang sesungguhnya telah menyelamatkan hidup saya.

Pelajaran Hidup Tak Ternilai Bagi Saya

Pengalaman hidup ini,menjadikan saya sadar,apa arti kata :"membantu dengan ikhlas",yakni  tidak menunggu ucapan terima kasih dan sama sekali tidak merasa berhak untuk mengontrol hidup orang yang sudah ditolong.Kalaupun ada orang yang kami bantu,maka yang tahu hal ini,hanya saya dan istri,sedangkan anak anak kami tidak pernah kami ceritakan,bahwa kami sudah membantu siapa siapa. Karena sejak sedini mungkin,kami ingin  mendidik anak anak kami,kalau mau membantu orang ,jangan pakai syarat apapun.Kalau menolong dengan syarat,apapun bentuknya,maka apa yang diberikan sudah bukan lagi merupakan pertolongan,melainkan bisnis terselubung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun