Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saya Cuma Pembantu Rumah Tangga Om

18 Januari 2019   09:35 Diperbarui: 18 Januari 2019   10:39 321 21 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saya Cuma Pembantu Rumah Tangga Om
Sumber : tribun.news

Tadi pagi ada bel dari Penerima tamu di lobi yang mengatakan bahwa ada orang mengantarkan pesanan saya menunggu di lobi. Karena para pengantar pesanan tidak diizinkan naik maka saya yang turun ke lobi. 

Sehabis menerima pesanan dan memberikan tips saya kembali kelantai 27. Masuk ke Lift ada seorang wanita muda yang menganggukan kepala dan berkata :"Selamat pagi Om." Maka seperti biasa saya menjawab:"Selamat pagi juga mbak".

Karena perjalanan dari lantai dasar ke lantai 27 memakan waktu beberapa puluh detik, maka saya melanjutkan bertanya :" Tinggal dilantai 33 ya mbak?"karena melihat lampu merah pada tombol lift disamping angka 27, lampu pada tombol angka 33 juga menyala. 

Unit 33 adalah merupakan Penthouse yang termahal dari seluruh unit apartement. Si Mbak sambil menunduk malu menjawab:"Saya cuma pembantu rumah tangga Om"

Untuk sesaat saya terpana. Rupanya stigma bahwa pembantu rumah tangga adalah  pekerjaan rendahan masih melekat pekat dalam diri wanita muda yang berdiri dengan kepala tertunduk didepan saya. Saya menjawab:" Tidak masalah mbak yang punya unit apartement ataupun kerja disana, Tidak ada masalah sama sekali mbak." Dan kembali wanita ini tertunduk dan mengucapkan :"terima kasih Om mau ngomong walaupun saya cuma pembantu rumah tangga."

Teringat saya akan  Amy, wanita yang setiap dua minggu sekali mengepel rumah dan kamar mandi dirumah anak kami di Australia, Ia sama sekali tidak merasa minder berhadapan dengan kami, bahkan pernah kami diajak makan pagi disebuah restoran.

Atau James, tukang yang membuat pagar dirumah anak kami suatu waktu mengajak kami makan siang disalah satu restoran. Mereka sama sekali tidak minder karena dalam mindset mereka tercantum bahwa pekerjaaan apapun hanyalah sebuah profesi dan tidak mengubah jati diri mereka sebagai  seorang warga yang bebas. 

Tak terbayangkan di Indonesia ada Pembantu rumah tangga yang berani mengajak bos makan pagi direstoran, karena dalam mindset mereka sudah terpatri stigma bahwa level mereka sebagai pembantu rumah tangga tidak selevel dengan bos dimana mereka bekerja.

Mengubah Mindset Bukan Pekerjaan Mudah

Mengubah bangunan kumuh menjadi bangunan  megah dan modern mungkin dibutuhkan waktu setahun atau dua tahun, tapi mengubah mindset yang sudah terpatri selama puluhan tahun membutuhkan  usaha bersama dan memakan waktu yang panjang. 

Hingga saat ini masih saja menjadi pemandangan umum bahwa bila bos berhenti untuk makan siang disalah satu restoran maka sopir pribadi menunggu dikendaraan atau memilih makan diwarung, sementara bos makan bersama keluarga direstoran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN