Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pembiaran oleh Orang Dewasa, Ikut Andil Merusak Jiwa Anak-anak

19 Maret 2018   08:34 Diperbarui: 19 Maret 2018   09:31 428
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: carijawabananda.blogspot,com/ anak anak ini mengalami kekurangan phisik,alangkan menyakitikan bila dijadikan bahan olok olokan oleh anak anak lainnya

Pelecehan bukan hanya semata-mata di bidang seksual. Tapi bisa merambah keseluruh ruang hidup manusia. Antara lain, melecehkan  orang sakit atau orang yang mengalami gangguan kesehatan, maupun yang memiliki kekurangan fisik. Ironisnya, ketika terjadi pelecehan oleh anak-anak terhadap orang yang termasuk kategori diatas, orang-orang dewasa hanya ikut menonton, bahkan ketawa-tawa, seakan sedang menonton pertujukan lawakan.

Dan yang paling menyedihkan adalah ketika orang tua anak juga hadir disana dan sama sekali tidak menegor, malahan ikut menikmati "permainan " anak-anak mereka.

Meniru Gerakan Orang Pincang

Ketika ada orang yang mengalami cidera pada kakinya sehingga berjalan timpang, dibelakangnya  ada 2 orang anak yang menirukan gayanya yakni berjalan oleng kekiri dan kekanan. Orang-orang dewasa yang berada disekitarnya, sama sekali tidak berusaha menegor, malahan orang tua anak-anak tersebut yang tampak sibuk bermain dengan ponselnya, bersikap cuek. Seakan hal tersebut adalah hal yang biasa saja. 

Malahan ketika saya menegor anak-anak tersebut, semua mata memandang kearah saya, sepertinya saya sudah melakukan sesuatu yang salah langkah, yakni menghentikan "tontonan" menarik bagi mereka. Wanita yang mengalami gangguan pada kakinya, menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang. Tampak wajahnya sedih dan berkata "Ibu sakit nak,bukan lagi main main. Tidak baik mengolok-olok orang tua". 

Suaranya terdengar bergetar, saking menahan rasa sedih dijadikan olok-olokan oleh anak-anak. Dan hal tersebut terjadi diruang tunggu keberangkatan di Bandara Soetta. Orang-orang asing yang juga duduk disana, tampak mengelengkan kepala dengan wajah tidak enak dipandang.

Hanya Salah Satu Contoh

Hal tersebut hanyalah salah satu contoh nyata betapa telah terjadi pembiaran oleh orang-orang dewasa, bahkan orang tua anak sendiri terhadap pelecehan yang dilakukan oleh anak-anak. Pembiaran berarti membolehkan ,bahkan dapat juga dimaknai "merestui". Maka dalam diri anak-anak tertanam bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar atau setidaknya tidak salah. Meniru gaya orang timpang, meniru gaya orang gagap berbicara, bahkan meniru gaya orang yang  parkison, dianggap sebagai lelucon yang menarik hati.

Akibatnya ketika mereka dewasa, apa yang tertanam dalam diri mereka sudah tidak dapat diubah lagi karena sudah mendarah daging dalam diri mereka. Ibarat sebuah cabang, kalau sejak dari masih  muda sudah dibengkokkan, maka ketika sudah tumbuh menjadi dahan yang besar, tidak lagi mungkin untuk diluruskan kembali.

Kalau Saya Tidak Dapat,Maka Orang Lain Juga Tidak Boleh Memilikinya

Dikampung saya setiap liburan panjang maka pada waktu dulu diisi oleh anak-anak sekampung dengan adu layangan, dengan menggunakan "benang gelas" yakni benang yang diolesi dengan serbuk kaca yang sudah diaduk dengan lem. Ketika ada layangan yang putus, maka tanpa ada yang komando, anak-anak berlarian mengejarnya. Tanpa memperdulikan keselamatan diri mereka maupun pengguna jalan lainnya. Bila salah satu dari anak-anak tersebut mendapatkan layangan putus tersebut, maka jangan harap ia akan dapat memilikinya. Karena entah siapa yang memberi  komando. Layangan yang sudah berhasil diperolehnya, direbut ramai ramai oleh anak-anak lain. Kemudian saling tarik menarik, hingga layangan tersebut hancur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun