Mohon tunggu...
tinezia nf
tinezia nf Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pendekatan Teori Komunikasi Internasional

9 Oktober 2018   05:37 Diperbarui: 16 Oktober 2018   02:16 2037
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di awal perkembangannya,  komunikasi internasional berfokus mengkaji informasi dan arus pesan yang disampaikan dari satu negara ke negara lainnya. Namun, perlahan-lahan teori-teori mengenai komunikasi internasional mulai berkembang lebih jauh lagi yang didorong oleh perubahan ekonomi dan sosial yang pesat akibat adanya Revolusi Industri di Eropa saat itu. 

Bangsa-bangsa pada saat itu mulai meyakini bahwa komunikasi sangatlah dibutuhkan untuk memperluas paham kapitalisme dan kekaisaran hingga munculah teknik propaganda dan sebuah paradigma internasional Free and Flow Information yang mendalami isu globalisasi, privatisasi dan imperialisme media.

Fokus dari komunikasi internasional pun mulai bergeser dengan adanya penemuan berupa teknologi informasi dan komunikasi yang baru, hal ini pun juga berpengaruh dalam berubahnya interaksi antarindividu atau antarbangsa. Karena kecepatan dan jangkauan teknologi itu berdampak secara sosial dan budaya yang mana munculah sebuah "massa". 

Dalam proses komunikasi internasional, massa ini tidak lagi dipengaruhi oleh aktor-aktor negara secara langsung melainkan melalui produk-produk sebuah media seperti berita, iklan, film, program TV dll). Pergeseran ini membuat istilah komunikasi internasional menjadi kurang pas jika melihat perkembangannya dewasa ini, sehingga mulailah dikenal istilah komunikasi global (Global Communication) dengan dasar bahwa Free and Flow Information tidak memiliki arus informasi yang bebas dan seimbang seperti yang digadang-gadang.

Dalam istilah Global Communication terdapat perluasan ruang lingkup isu dari komunikasi internasional, istilah ini memungkinkan negara-negara berkomunikasi dengan lebih luas dan dinamis. Fokus kajiannya pun tidak lagi melulu tentang politik dan keamanan, namun lebih pada hal luas dan global yang mencakup isu yang menjadi perhatian dan pemikiran bersama. Menurut pemahaman Marxis, inti dari komunikasi internasional adalah kekuasaan dimana kekuasaan inilah yang menjadi yang menjadi instrumen kontrol bagi para penguasa media atau dengan kata yang lebih sederhana, para penguasa yang memiliki kuasa atas media tersebutlah yang mempunyai kendali penuh dalam mengendalikan pemikiran kita.

Free flow of information

Tidak seperti namanya, Free Flow Of Information tidaklah benar-benar menyediakan informasi yang berarus bebas, melainkan informasi yang disebarkan cenderung berpihak dan tidak benar-benar seimbang. Setelah Perang Dunia II, terbentuklah negara-negara sosisalis dan terjadinya kapitalisme pasar yang bipolar yang menjadikan teori-teori komunikasi internasional sebagai sebuah wacana Perang Dingin. 

Bagi negara kapitalis dan pendukungnya, komunikasi internasioal digunakan untuk mempromosikan demokrasi, kebebasan berekspresi dan pasar. Sedangkan bagi kaum Marxis, diperuntukan untuk peraturan negara yang lebih besar pada saluran media dan komunikasi. Pada akhirnya, arus informasi bebas lebih berkembang menjadi arus utara ke selatan dan barat ke timur tetapi tidak ada arus informasi yang seimbang dari timur ke barat atau dari selatan ke utara.

Informasi aliran bebas ini sebenarnya adalah wacana barat, terutama AS yang digunakan dalam maksud untuk aktivitas propaganda terhadap lawan komunisnya. 

Doktrin ini adalah sebuah wacana pasar bebas dan liberal yang pada dasarnya memberi keleluasaan pemilik media dalam menjual komoditas mereka melalui sebuah media. Mengambil contoh saat ini, media cendrung tekonsentrasi ke Barat. Stasiun televisi di Indonesia saja banyak yang membeli siaran atau program-program milik Barat, seperti acara The Voice Indonesia, Indonesian Idol, Indonesia Choice Award dll. Program berita seperti CNN, program film dan kartun pun didominasi oleh produk luar, bahkan sinetron di Indonesia pun banyak yang 'import'.

Modernization theory

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun