Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Manuver Cak Imin Pascapemilu, Bagaimana Peluangnya?

19 Mei 2019   04:41 Diperbarui: 19 Mei 2019   14:35 0 14 2 Mohon Tunggu...
Manuver Cak Imin Pascapemilu, Bagaimana Peluangnya?
Muhaimin Iskandar dan Puan Maharani [Diolah dari monitor.co.id dan Tribunnews.com]

Abdul Muhaimin Iskandar alias AMI aka Cak Imin memang politisi jempolan, dalam makna lincah memainkan manuver mengamankan posisi PKB dalam kekuasaan.

Itu tak salah. Idealnya politisi memang harus punya dua kapasitas. Pertama, ia memiliki gagasan-gagasan tentang kehidupan publik yang lebih baik. Kedua, ia memiliki hasrat berkuasa. Tanpa kekuasaan, gagasan-gagasan baik tak bisa dilaksanakan. Tanpa gagasan tentang bagaimana baiknya kehidupan publik, kekuasaan menjadi semata-mata alat merampok kekayaan publik.

Cak Imin memiliki keduanya. Ia, seperti terwakili dalam platform partainya--yang tampak sungguh diperjuangkan-- mengadvokasi kemajemukan Indonesia. Ia juga lincah berstrategi, memainkan posisi tawar dan bernegosiasi agar PKB sebesar-besarnya terwadahi dalam kekuasaan.

Kita tentu masih ingat bagaimana di masa awal pilpres dahulu Cak Imin memperjuangkan dirinya (sebagai representasi PKB) dipinang jadi cawapres Jokowi.

Hingga detik-detik terakhir Cak Imin tak menyerah. Banyak yang jadi jengkel karena salah kaprah, menyangka dirinya terlalu ngotot. Namun begitu keputusan telah diambil, KH Ma'ruf Amin jadi cawapres Jokowi, sehari kemudian Cak Imin sudah bersafari mengkampanyekan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Cak Imin keukeuh berjuang selama peluang terbuka. Namun ia bukan pemaksa kehendak. Setidaknya itu yang kita lihat dari depan layar. Ia tipikal lanang era boom minyak, berprinsip selalu ada harapan sebelum janur kuning ditancapkan dan tenda biru digelar.

Kini Cak Imin sudah kembali bermanuver mengamankan posisi PKB dan masa depan yang mungkin diraih partai itu. Padahal KPU belum selesai melaksanakan rapat pleno rekapitulasi suara pemilu dan pilpres.

Ketika ramai orang memperbincangkan peluang Puan Maharani jadi Ketua DPR, Cak Imin segera menyatakan niatnya bersanding sebagai Ketua MPR. Cak Imin Ketua MPR, Puan Ketua DPR. AMI-Puan! Sungguh upaya cantik proyeksi 2024 nanti.

Apakah Cak Imin akan berhasil menggolkan kombinasi ini?

Ada dua tantangannya.

Puan Maharani akan mudah menjadi Ketua DPR sebab PDIP memang peraih suara terbanyak. Masalahnya, mungkinkah PDIP merasa untung menempatkan Puan di posisi itu?

Jika PDIP memproyeksikan Puan sebagai capres atau cawapres 2024, posisi Ketua DPR tidak sestrategis posisi Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia.

Jangan lupa, prioritas pembangunan pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin adalah sumber daya manusia. Ini adalah bidang yang Puan Maharani jabat. Dengan begitu, masa kedua pemerintahan Joko Widodo sebenarnya panggung bagi Puan Maharani. Inilah kesempatan bagi Puan menunjukkan kualitasnya sebagai perencana dan manajer program-program pembangunan.

Puan Maharani akan kehilangan kesempatan jadi bintang panggung dan membuktikan kelayakannya memimpin pemerintahan jika ia ditarik ke DPR. Panggung Ketua DPR sempit selama yang berkuasa di eksekutif berasal dari partai politik yang sama. Saya kira PDIP akan sangat berhitung tentang ini.

Lalu bagaimana dengan peluang Cak Imin. Tentu saja selalu ada peluang Cak Imin jadi Ketua MPR. Hanya saja, apakah parpol sealiansi tidak punya target menduduki jabatan itu pula?

Kunci terwujudnya keinginan Cak Imin terletak pada persetujuan rekan parpol sekoalisi. Itu karena penentuan Ketua MPR dilakukan melalui pencalonan, dipilih lewat musyawarah atau pemungutan suara.

Kalau PDIP, Nasdem, Golkar, dan PPP menyetujui permintaan Cak Imin, boleh dipastikan tak akan ada hambatan berarti lagi sebab komposisi suara aliansi parpol-parpol itu akan mendominasi DPR/MPR 2019-2024. Cak Imin hanya butuh melobi para anggota DPD.

Akhir cerita menjadi lain jika parpol-parpol koalisi TKN juga punya target di MPR dan hasil kompromi menentukan bukan Cak Imin yang disetujui koalisi menjadi Ketua MPR.

Cak Imin tidak bisa menjadikan jabatan-jabatan di DPR sebagai alat tawar sebab posisi ketua dan wakil ketua di sana berdasarkan perolehan suara parpol dalam pemilu. Yang bisa Cak Imin jadikan alat tawar-menawar adalah jatah menteri dalam kabinet. Apakah Cak Imin rela menukar sejumlah jabatan menteri dengan posisi Ketua MPR?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2