Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Masalah Berbahasa dan Mitos Menulis Itu Mudah

8 Juni 2018   14:13 Diperbarui: 8 Juni 2018   16:56 2216 22 14
Masalah Berbahasa dan Mitos Menulis Itu Mudah
Penguasaan keterampilan berbahasa adalah salah satu kendala dalam menulis [Ilustrasi diolah dari tesseraguild.com]

Saya sering cemburu membaca orang menulis bahwa menulis itu gampang. "Terberkati sekali orang-orang ini, sungguh mujur berkemampuan begitu, sangat berbakat. Indah nian hidup saya andai bisa seperti mereka." Begitu suara batin saya.

Benar bahwa saya sering menulis. Tidak terlalu mengecewakan juga kemampuan saya. Jika mood sedang cakep, duduk sejam saya bisa menulis satu bahkan dua artikel berstatus headline di Kompasiana. Tetapi itu bukan berarti mudah saja saya melakukannya atau bahwa artikel itu beres dan baik-baik saja.

Kelak saat saya baca lagi artikel-artikel itu, saya temukan banyak kekeliruan sintaksis dan semantik. Segera saya perbaiki. Eh, besok masih saja ada kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu seperti daki di punggung yang kita pikir sudah luruh utuh setelah badan digosok pakai sikat atau lempeng batu dari pantai.

Menyebalkan, kesalahan yang banyak itu sedikit-sedikit terkuaknya. Mengapa tidak bisa sekaligus saja saya temukan? Padahal sebelum tayang, artikel sudah saya periksa dua kali.

Terkadang saya sulit percaya kenyataan ini, sampai-sampai saya berprasangka jangan-jangan penyebabnya ada admin yang utak-atik dan salah pencet. Heh!

Sebenarnya sebagian kesalahan berbahasa ragam tulis itu berupa cacat ringan saja, seperti jelaga pabrikan--eye shadow kah namanya?--yang ditorehkan perempuan penderita parkinson pada garis alis atau tepi kelopak matanya. Meski begitu saya terganggu dan merasa malu menemukannya di dalam artikel-artikel saya.

Umumnya  masalah saya dalam menulis artikel berbahasa Indonesia ada empat macam: saltik (typo); diksi kurang pas; kalimat tidak sangkil-mustajab; serta struktur kalimat melencengi kaidah.

Saya tidak akan membahas terlalu banyak masalah saltik dan diksi. Sudah banyak orang membicarakannya sebab sudah masalah umum.

"Kak, dia tidak bisa membedakan di yang kata depan dan yang awalan. Selalu terbalik perlakuannya." Suatu malam seorang editor majalah sastra tingkat komunitas curhat penilaian soal kesalahan berbahasa tulisan seorang doktor bahasa Indonesia kenalan saya.

"Ah, itu karena  fatique saja. Saya juga biasa begitu, kok." Saya membela doktor bahasa Indonesia itu.

"Kalau karena lelah salahnya tidak konsisten berulang. Kakak periksa saja status-status di facebook dia." Si redaktur keukeuh.

Yaelah. Saya bakal disangka stalker jika turuti sarannya. Yang pasti, kasus si doktor bahasa adalah bukti bahwa persoalan saltik yang terpaut lelah atau buru-buru sehingga kurang teliti adalah masalah jamak. Saya kira semua orang mengalaminya.

Saya sudah menyerah dengan masalah ini, merasa tidak bisa diperbaiki lagi selain dengan membiasakan diri memeriksa kembali artikel seusai ditulis.

Saya sudah cari referensi ke mana-mana soal masalah saltik yang saya derita. Apakah karena saya orang kidal? Atau karena sering saat jemari bergerak mengetik, otak saya sudah memikirkan ide untuk artikel lain? Atau karena dulu saya diajarkan mengetik buta sepuluh jari dan berirama, sehingga ketika kini menggunakan laptop yang papan ketiknya berukuran beda-beda, jemari kerab salah mendarat?

Tidak ada artikel yang memuaskan penjelasannya selain bahwa saltik adalah masalah normal.

Demikian pula soal diksi, kerap kurang saya perhatikan.

Kasus paling sering adalah penggunaan kata-kata umum padahal ada kata lebih khusus yang mampu memberi efek visual dan menegaskan maksud. Contohnya sering saya ketikkan "melihat" untuk hal yang sebaiknya saya pilih "menatap" atau "melirik" atau "mendelik" atau "memandang" atau bentuk-bentuk khusus lainnya.

Tidak mengapa. Soal diksi ini hemat saya bahkan bukan cacat. Ini hanya seumpama kekasih yang mengusapkan bedak tanpa mengalasnya dengan foundation. Dampaknya hanya pada kecantikan artikel yang jadi kurang kilau-kemilau.

Masalah yang kurang normal, dalam arti mungkin hanya saya dan segelintir orang yang mengalami---sebab tampaknya tidak banyak Kompasianer mengulas ini--adalah masalah ketiga dan keempat, yaitu kalimat yang bertele-tele, kurang sangkil-mustajab dan struktur kalimat yang melencengi kaidah sintaksis.

Baiknya dalam membahas ini kita gunakan contoh konkrit agar maksud saya klop dengan pemahaman Om-Tante.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3