Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Kompasiana adalah dunia tanpa kelas bagi para penulis. Bukan lapak bagi mereka yang merasa diri ninggrat dalam kepenulisan. Di Kompasiana, kita semua adalah jelata. Menulis di sini adalah bentuk perlawanan terhadap aristokrasi jejadian dalam dunia kepenulisan.

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Artikel Utama

Berburu Kalesong di Air Mata, "One Stop Area" Berbuka Puasa

17 Mei 2018   03:48 Diperbarui: 20 Mei 2018   21:17 2304 24 18
Berburu Kalesong di Air Mata, "One Stop Area" Berbuka Puasa
Kalesong dan peta Kawasan Jajanan Air Mata. Olahan dokpri dan google map.

Di Kupang, berburu makanan takjil bukan hanya antusiasme kalangan Muslim yang hendak berbuka puasa. Warga Kota Kupang penganut agama lain juga doyan kunjungi pusat-pusat penjualan takjil yang umumnya berupa lapak dadakan di bulan Ramadan. Sebabnya saat Ramadan sejumlah makanan khas dijual. Salah satunya Kalesong, yang biasanya hanya bisa dijumpai di tempat tertentu.

Dua lokasi lapak-lapak takjil favorit sekaligus tempat Kalesong bisa ditemukan adalah JAM dan JKS.

JAM itu singkatan dari Jajanan Air Mata. Disebut demikian karena terletak di Kelurahan Airmata, Kota Kupang. JAM sebenarnya bukan lapak dadakan Ramadan melainkan pusat kuliner sore yang diprakarsai Ibu Agnes, istri Gubernur Musakabe di era 1993-1998. Tujuannya untuk memberdayakan perekonomian perempuan, ibu-ibu di Kelurahan Airmata.

JAM terletak di pinggir Jalan Soeharto, jalan menuju Pantai Kopan, lokasi wisata di jantung Kota Kupang yang diceritakan Kompasianer Arnold Adoe beberapa hari lalu (baca: "Menikmati "Sunset" Pantai Kopan di Kota Kupang"). Letak persisnya di seberang kantor lama Bupati Kupang, 300 meter dari Pantai Kopan.

Dari JAM, Anda bisa berjalan 100 meter ke arah selatan untuk salat Maghrib di Masjid Raya Nurussa'adah.

Jadi Anda bisa menghabiskan waktu ngabuburit dengan menikmati keindahan pantai dan sunset di Pantai Kopan; berjalan kaki sebentar saat menjelang Azan Magrib ke JAM, memilih-milih takjil dan berbuka --pastikan Anda tidak kehabisan Kalesong-- lalu salat di Masjid Nurussa'adah. Simpel, praktis, menyenangkan. Boleh dikatakan, lokasi di Jalan Soeharto itu "one stop area buka puasa".

Jajanan Kampung Solor (JKS) berada 600 meter dari JAM ke arah tenggara. JKS muncul belakangan, awal 2000-an. Letak persisnya di trotoar depan Gereja Katedral Kristus Raja di ujung Jalan Soekarno-Hatta hingga trotoar di depan Bank Mandiri di pangkal Jalan Urip Sumaharjo. Jadi JKS ada di pertemuan antara Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Urip Sumaharjo, Jalan Tompelo, dan Jalan Kosasih.

Di seberang JKS ada Perpustakaan Daerah. Sekitar 400 meter dari JKS berdiri masjid bersejarah Al-Ikhlas yang dibangun Dipati Amir bin Bahren dan Panglima Hamzah (Cing) bin Bahren, pemimpin pemberontakan Rakyat Pulau Bangka yang dibuang Belanda ke Kupang pada 1851. Kita akan bercerita pula tentang masjid ini dalam artikel "Manakah Masjid Tertua di Pulau Timor?" pada 20 Mei nanti. 

Maka seperti JAM, JKS juga "one stop area berbuka puasa". Anda bisa ngabuburit bersama buku-buku di Perpustakaan Daerah, menyeberang jalan untuk membeli takjil saat menjelang azan Maghrib, berbuka lalu berjalan kaki atau menumpang ojek ke Masjid Al-Ikhlas.

JKS, sore nanti akan dipenuhi pedagang penganan tradisional. Dokpri
JKS, sore nanti akan dipenuhi pedagang penganan tradisional. Dokpri
JAM dan JKS buka setiap sore, tidak hanya di bulan Ramadan. Di bulan Ramadan, kedua tempat itu buka lebih dini, sekitar pukul 15.00. Jumlah pedagang dan jenis jajanan juga bertambah berkali-kali lipat. Ada pedagang yang bahkan menjajakan hingga lebih dari 30-an jenis makanan.

Saat Ramadan, kita dapat jumpai aneka jenis es (es palu butung, es pisang hijau, es buah dan es tebu manis), macam-macam kolak (kolak ubi, kolak pisang, dan sejumlah yang saya tak tahu bahan dan namanya), beragam bubur (bubur kacang hijau, bubur sum-sum, bubur candil, bubur ketan, dan bubur ayam), banyak model kue tradisional dan modern (barongko, karasa, didara, beppa pute, katirisala, cucur, bolu, lemet, nagasari, perut ayam, unti, dan puluhan jenis lain).

Rupa-rupa kudapan itu umumnya kuliner yang dipengaruhi kebudayaan Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Selain di JAM dan JKS, mereka dapat ditemukan pula di puluhan lapak takjil dadakan yang tersebar di Kota Kupang.

Kalesong adalah jenis kudapan takjil yang sepertinya hanya bisa dijumpai di JAM dan JKS. Ia sejenis lontong tetapi lebih panjang dan dibungkusi daun kelapa muda. Rasanya unik, sebaiknya dinikmati berteman sate dan bumbu kacang.

Banyak yang bilang Kalesong adalah makanan khas Kupang. Saya lebih senang menduganya makanan khas orang Solor. Memang selama ini belum ada yang menulis tentang asal-muasal Kalesong.

Bolehlah saya kira Kalesong berasal dari Pulau Solor. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, Kalesong hanya dijual ibu-ibu di Kampung Solor (di JKS dan Pusat Kuliner Malam Kampung Solor) dan Airmata (di JAM).

Kampung Solor dan Airmata adalah permukiman orang-orang yang nenek moyangnya berasal dari Pulau Solor. Mereka lah penduduk Muslim pertama di Kota Kupang. Kita akan membahas ini di artikel edisi Ramadan seri ke-6 "Manakah Masjid Tertua di Pulau Timor?" Pastikan Anda kunjungi lagi lapak ini saat itu.

Kedua, Kalesong juga dijumpai di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Pulau Solor adalah bagian dari Kabupaten Flores Timur.

Jika ditarik lebih jauh, mungkin saja Kalesong di Pulau Solor dulu diperkenalkan oleh orang-orang Ternate atau Palembang.

Saya menduganya karena Islam di Pulau Solor diperkenalkan oleh orang-orang Ternate, terutama oleh rombongan pasukan yang dikirimkan Sultan Baabullah untuk membantu orang Solor dan Belanda mengusir Portugis dari benteng Lohayong.

Kedua oleh pedagang Palembang Syahbudin bin Salman Al Faris yang menikahi anak raja Lamakera dan dihadiahi wilayah yang kemudian berkembang menjadi Menanga, pusat Islam di Pulau Solor. Ini juga akan kita bahas lengkap hal ini dalam artikel "Manakah Masjid Tertua di Pulau Timor?"

Bisa juga Kalesong aslinya berasal dari Muna-Buton, Sulawesi Tenggara. Bentuknya menyerupai Lapa-Lapa, makanan khas Muna. Pada masa lampau, orang-orang Muna-Buton memang berlayar hingga Solor, baik untuk berdagang atau saat berperang melawan Portugis.

Kalesong adalah alasan kedua ---selain one stop area buka puasa-- mengapa JAM dan JKS jadi tempat berburu takjil favorit warga Kota Kupang.

Alasan ketiga adalah sentimen historis. Airmata dan Kampung Solor adalah dua kelurahan tempat pemukiman Muslim pertama di Kota Kupang. Kampung Solor mulai berdiri di akhir 1600-an hingga awal 1700-an ketika orang-orang dari Pulau Solor ikut pindah bersama Belanda ke Kupang setelah Benteng Portugis, Konkordia jatuh. Air Mata adalah permukiman perluasan dari Kampung Solor, diperkirakan berdiri sejak akhir 1700-an. Tunggu ulasan lengkapnya di "Manakah Masjid Tertua di Pulau Timor?"

Jika saya ditanya pilih JAM atau JKS, saya akan pilih JKS. Mengapa?

Jika hari Minggu tiba, haru hati ini melihat orang-orang Katolik bubaran misa sore dan orang-orang Islam yang hendak berbuka puasa, bertemu, berbaur, saling sapa dan melempar senyum saat mengerumuni lapak-lapak takjil.

Suasana yang demikian sungguh menggedor dada, menerbitkan rasa haru tak tertahankan. Di sudut mata, butir bening meleleh tanpa bisa kau tahan. Apalagi di saat begini, ketika aksi-aksi peledakan bom di gereja mengundang pilu menyayat hati.

Oh iya, sore nanti hari pertama berbuka puasa, jika berkesempatan saya akan tuliskan kondisi terkini suasana berburu takjil di JAM dan JKS. Juga mungkin tempat berburu takjil lain yang tak kalah menariknya. Kunjungi lagi lapak ini sore nanti saat Anda ngabuburit. Semoga yaaa.

Baiklah. Sekian dulu. Selamat menunaikan ibadah Ramadan. Damai sertamu.

Baca Artikel Lain Seri Edisi Ramadan

***

Tilaria Padika

_____

Aktivitas orang-orang adalah simbol. Di baliknya berbaring makna: nilai, prinsip, cara mereka memandang kehidupan. Mempelajari dan menuliskan aktivas saudara/i Muslim selama Ramadan adalah cara memahami mereka,merupakan bentuk lain dialog antar umat bergama. Untuk inilah rangkaian artikel bertema Ramadan ini dibuat, tentu saja juga untuk taklukkan tantangan menulis sebulan penuh tema Ramadan di Kompasiana.

_____