Mohon tunggu...
Thoufan Pratama
Thoufan Pratama Mohon Tunggu... Freelancer - Mari Melenting

Mulanya (?) kemudian (-) menjadi (+) maka hasilnya = eureka

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Sistematika Inovasi Pelayanan Publik

18 Oktober 2018   21:23 Diperbarui: 18 Oktober 2018   21:28 1083
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
"KADER IMP SMART"(Peningkatan Peran dan Kompetensi Institusi Masyarakat pedesaan)

            lini lapangan

  • KIE dan Konseling

            IMP telah mampu berperan sebagai wadah kegiatan penyuluhan, motivasi dan konseling program KKBPK Pencatatan, Pendataan dan Pemetaan 

            Sasaran.

  • Pelayanan Kegiatan

Telah mampu memaksimalkan pelayanan kegiatan yang bersifat pendampingan dan pembinaan tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Kesehatan reproduksi, Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit menular seksual lainya, Penyalahgunaan NAPZA dan sebagainya, Pengaturan kelahiran serta Pembinaan Ketahanan Keluarga Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga remaja, Bina Keluarga Lansia (BKB, BKR, BKL)

  • Kemandirian

            Telah terbangun upaya kemandirian didalam melaksanakan program seperti :

            Melakukan Arisan Program dimana dana dikumpulkan atas kesepakatan bersama dan menentukan pula program prioritas yang akan  

            dilaksanakan dengan biaya dari sebagian hasil arisan.

            Melakukan Metode Snowball, dimana para kader IMP melakukan sosialisasi program KKBPK ke masyarakat luas dengan membentuk  

            kelompok/komunitas kecil yang nantinya akan melakukan duplikasi kelompok yang baru.

8. Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevalauasi inovasi pelayanan publik ini

Dengan diterapkannya program inovasi "Kader IMP Smart" sejak tahun 2017 sampai dengan saat ini semakin mempermudah dalam pelaksanaan Program KKBPK di lini lapangan, di mana masyarakat tidak lagi bingung jika ada calon akseptor yang belum terlayani masyarakat cukup melapor ke kader IMP (PPKBD dan Sub PPKBD) atau Penyuluh KB di lapangan. Akan tetapi monitoring kegiatan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana tetap dilaksanakan. Dengan kunjungan ke Balai Penyuluh melakukan pertemuan lengkap tingkat kecamatan dan tingkat kabupaten masing masing sebulan sekali.

Pada kasus pembentukan kelompok Tribina (BKB, BKR dan BKL), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana melalui Koordinator Tk. Kecamatan (Ka. UPTD), Penyuluh dan Kader IMP serta Kader Tri Bina terjun langsung ke lokasi, guna memonitor secara langsung langkah- langkah pembentukan kelompok dan potensi pengembangannya dan dievaluasi melalui pertemuan desa setiap bulan.

Evaluasi setiap tahun juga dilakukan, untuk memonitor dan mengevaluasi kegiatan dalam setahun serta penyusunan kegiatan untuk tahun berikutnya. Khususnya pada perencanaan pengadaan alat dan obat kontrasepsi. Dan juga pemaparan target kegiatan tahun selanjutnya. Evaluasi tidak hanya per Kecamatan saja, akan tetapi juga per Desa/Kelurahan melalui penyuluh KB di wilayah masing-masing.

Untuk memantau  perkembangan Unmet Need yakni calon akseptor yang tidak sempat/belum mendapatkan penanganan maka diwajibkan membentuk dan melaksanakan pemutakhiran data bulanan setiap bulan nya oleh penyuh dan kader IMP.

Dengan berjalannya inovasi Kader IMP Smart lebih dari setahun sejak masa rintisan hingga masa replikasi seperti saat ini, sistem pemantauan menjadi lebih mudah. Sebab, semua tindakan dalam inovasi seperti komunikasi, informasi dan edukasi, sudah berjalan mandiri.

9. Apa saja kendala utama yang yang dihadapi dan bagaimana kendala tersebut dapat diatasi?

     Terdapat  beberapa  kendala  yang  dihadapi  saat  pelaksanaan program  inovasi "Kader IMP Smart" :

  • Mental Kader IMP sangat diuji pada awal pelaksanaan program. Menghadapi keluarga   dan  masyarakat yang  masih memandang sebelah mata Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, serta masih adanya pemahaman dalam masyarakat tentang jumah anak adalah menentukan jumlah rezki. Pendekatan yang dilakukan kadang memerlukan waktu berminggu-minggu hingga mampu teratasi dengan melibatkan Penyuluh KB dan Tokoh Pemerintah dan Masyarakat.
  • Keterbatasan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (alokon) untuk calon akseptor baru dan ulangan sehingga kami mengatasinya dengan membuat perencanaan penggunaan dan kebutuhan alokon bulanan
  • Kesibukan dari masing -- masing stakeholders baik Internal maupun Eksternal karena memiliki kesibukan masing masing berdasarkan tupoksinya hal ini kami selesaikan dengan rembuk bersama tuk menemukan jadwal yang tepat secara bersama yang kemudian melaksanakannya sesuai dengan jadwal masing-masing stakeholder/mitra (metode music jazz).
  • Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) baik dari segi kualitas dan kuantitas sehingga menyulitkan dalam menyeleksi kader yang mampu untuk dibina kami atasi dengan melakukan pre dan post test terhadap apa yang akan menjadi peran dan tuntutan kompetensi yang wajib dimilikinya.
  • Kepedulian publik terhadap masalah pengendalian penduduk dan keluarga berencana masih rendah karena belum dianggap sebagai program prioritas masa depan hal ini kami atasi dengan senantiasa mensosialisasikannya melalui media yang oleh Dinas PP dan KB telah menjalin kerjasama dengan stasiun radio serta dalam semua kegiatan kami selalu menghadirkan wacana kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun