Mohon tunggu...
Thomas Panji
Thomas Panji Mohon Tunggu... Mahasiswa

Berusaha dengan sebaik mungkin

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kompas.id, Misi dan Proyek Ambisius di Tengah Gejolak Bisnis Media

22 April 2020   09:00 Diperbarui: 22 April 2020   09:20 121 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompas.id, Misi dan Proyek Ambisius di Tengah Gejolak Bisnis Media
Logo dari Kompas.id | kompas.id

Siapa yang tidak kenal dengan koran Harian Kompas. Mungkin beberapa pembaca ataupun orang tua pembaca pernah berlangganan koran harian ini. Koran sudah tidak menjadi suatu hal yang cukup menjanjikan dalam bisnis bermedia yang dimana saat ini semuanya sudah berbasis internet begitu pun juga dengan para pembacanya yang lebih condong ke internet dari pada konvensional. Namun koran Harian Kompas tampaknya tetap terbit seperti sedia kala dan seolah semuanya tampak baik-baik saja. 

Di balik semua itu, industri dan bisnis media cetak hari ini seperti halnya koran Harian Kompas tentu tidak akan luput dari berbagai macam masalah dan gejolak. Seperti halnya perubahan segmen pasar, kebutuhan konten yang semakin meluas, populasi pembaca yang semakin beragam, content interest pembaca yang berbeda-beda dan hal-hal lainnya membuat koran Harian Kompas sekiranya perlu untuk merancang sebuah cetak biru yang baru dalam mempertahankan eksistensi dan popularitas dari koran Harian Kompas yang notabene menjadi hall of mark dari Kompas. 

Kompas.id akhirnya hadir dan menjadi sebuah jawaban untuk mempertahkan eksistensi dan popularitas dari koran Harian Kompas. Namun, apa dan siapakah Kompas.id itu? Dan kenapa serta bagaimana juga mereka bisa menjadi penyelamat bagi legasi dari koran Harian Kompas?

Pada hari Rabu (15/4/2020), penulis menghadiri sebuah kuliah daring yang terbuka untuk umum dan saat itu topik pembahasan yang disajikan adalah tentang Jurnalisme Multimedia di Kompas.id. Haryo Damardono selaku Wakil Redaktur Pelaksana Koran Harian Kompas menjadi pemateri dari kuliah daring ini. 

Dari sinilah kemudian Haryo bercerita dan menjelaskan secara mendalam tentang Kompas.id, misi yang ingin dicapai, kesulitan bisnis media dan lainnya. Bagi yang asing dengan platform ini, Kompas.id dan Kompas.com yang secara umum lebih populer, sejatinya adalah dua hal yang berbeda dan dikerjakan oleh kelompok pekerja yang berbeda serta dengan misi yang berbeda. 

Di sini Kompas.id sejatinya adalah versi digital dari koran Harian Kompas yang dimana pengerjaannya sepenuhnya dilakukan oleh tim koran Harian Kompas. Portal berita ini lahir dengan membawa misi untuk mempertahankan identitas dari Kompas yang terkenal karena koran hariannya. 

Kompas.id juga menjadi sebuah proyek untuk bisa mendulang keuntungan dan pangsa pasar media yang saat ini lebih banyak beraktivitas secara daring, dimana keuntungan yang bisa di dulang kebanyakan bersumber dari pendapatan iklan dan pembaca yang berlangganan.

Haryo menjelaskan prediksinya, bahwa di masa depan nanti, bisnis media pendapatannya akan di dominasi dari pembaca yang berlangganan. Sebagai contoh sederhana, New York Times adalah salah satu media yang telah berhasil mendulang keuntungannya lewat pembaca yang berlangganan di platform mereka karena sukses dalam mengembangkan koran daringnya secara konsisten dan berkualitas. 

Inilah yang kemudian menjadi semangat yang ingin diciptakan dan dihidupkan juga oleh Kompas.id. Namun, tantangan selalu menghadang di depan. Untuk bisa ke arah sana saja, Haryo menjelaskan bahwa orang-orang yang secara khusus bekerja di koran Harian Kompas yang dulunya tidak punya kecakapan dan habitus digital, saat ini mereka harus bekerja dan mampu berkawan dengan digital secara utuh. 

Tetapi, siapa sangka jika Kompas pada dahulunya sudah menyiapkan rencana untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan bentuk bermedia dan bisnisnya dengan menciptakan nilai 3 M Kompas (Multimedia, Multichannel, Multiplatform)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x