Mohon tunggu...
Tholut Hasan
Tholut Hasan Mohon Tunggu... Maaf

Maaf

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menuai Hasil Baik (1)

12 Juni 2019   21:15 Diperbarui: 12 Juni 2019   21:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Keluarga Imran adalah satu keluarga yang Allah memberikan keistimewaan. Dalam al-Qur'an di sebutkan, Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim, dan Keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). QS. Ali Imran (3): 33.

Ini menunjukkan bahwa keluarga Imran mempunyai derajat yang sejajar dengan keluarga para Nabi. Maka sungguh sangat layak bagi kita untuk mempelajari dan mengambil hikmah dari keluarga kecil ini. Dan sebenarya, apa yang menyebabkan keluarga Imran bisa istimewa seperi itu?

Dikisahkan Allah Swt dalam Al-Qur'an, (Ingatlah) ketika istri Imran berkata, "Ya Tuhan-ku sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkau-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." QS. Ali 'Imran (3): 35.

Maka ketika melahirkannya, ia berkata, "Ya Tuhan-ku, aku telah melahirkan anak perempuan," Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. "Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk." QS. Ali 'Imran (3): 36.

Maka Dia (Allah) Menerimanya dengan penerimaan yang baik, Membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan Menyerahkan pemeliharannya kepada Zakariya. Setiap Zakariya masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan disisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siap yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. QS. Ali 'Imran (3): 37.

Ayat di atas memberi gambaran kepada kita bahwasanya jika ingin memiliki keturunan yang saleh adalah niatkan di hati sang bunda sepenuh hati kepada Allah agar anaknya menjadi hamba yang mengabdi kepada Tuhannya. Karena niat merupakan pokok pondasi dalam setiap perbuatan. Setiap perbutan tidak akan menuai hasil tanpa di sertai dengan niat yang suci. Dan kesucian hati itu di sandangkan ikhlasnya hati sehingga pondasi itu semakin kuat dan kokoh. Maka, apapun yang akan kita lakukan harus di awali dengan niat. Sebagaimana hadis dari Sahabat Abu Hurairah dan Jabir bin Abdillah, Nabi berkata:manusia di bangkitkan dengan niatnya (HR. Ibnu Majah).

Dari ayat di atas, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa keberhasilan seseorang dalam rumah tangga antara lain juga ditentukan oleh istri yang saleh. Tidak ada rasa kecewa pada istri Imran dalam kata-kata yang diucapkannya. Ia menerima anak perempuannya dan memasrahkannya kepada Allah walaupun istri Imran mengharapkan anak laki-laki. Kesabaran dan sikap tawakal menerima keputusan Allah ini ternyata menyimpan rahasia bahwa kelak anak perempuannya menjadi ibu dari seorang Nabi dan Rasul. Sikap ini perlu diteladani oleh setiap keluarga muslim, terutama yang akan memiliki anak.