Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Writer

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sang Raja Tua

6 Mei 2021   08:47 Diperbarui: 6 Mei 2021   08:54 112 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sang Raja Tua
old-king2-60934c588ede4817cb4f0fa2.jpg

Aku masih kuat. Aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Aku belum mau mati.

Dharanindra memejamkan mata. Nyala damar dan wewangian menghiasi ruangan perawatan. Bau wewangian yang menyengat membuatnya tidak bisa tertidur pulas. Di belakang, seorang dayang wanita berlutut dalam posisi siap sedia jika dibutuhkan. Sang raja berbaring di atas kasur jerami yang dilapisi oleh kain, khusus untuk merawat penyakitnya.

Di mana anakku itu? Di mana cucuku? Bukankah dari seminggu kemarin aku sudah memanggil mereka pulang dari tanah Jawa? Dharanindra tidak bisa mengingat terlalu jauh, pada umurnya yang sudah menginjak 80 tahun, ia tidak dianjurkan tabib untuk berpikir terlalu keras. Namun sebagai raja sebuah kerajaan besar, sudah pekerjaannya untuk berpikir.

Ketidakmampuannya untuk beristirahat memaksa Dharanindra untuk bangun, duduk secara perlahan, lalu bangkit dan berjalan pelan menuju teras ruangan. Dari sana ia bisa melihat pemandangan keluar. Lembayung sore berwarna ungu disertai air mancur yang mengalir di tengah - tengah halaman kerajaan membuatnya merasa tenang. Di sisi barat halaman kerajaan terdapat anak -- anak berusia sekitar belasan bermain bersama dan bercanda tawa. Yang paling memuaskan hatinya adalah menyaksikan anaknya yang paling kecil, Sariwanadhira, sedang berlatih memanah bersama panglima perang Kerajaan Sriwijaya, Vijayasastra.

Aku belum mau mati. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Dharanindra bertekad bahwa Kerajaan Sriwijaya harus tetap kuat. Walaupun raganya sudah tidak ada tapi jiwa besar harus melekat pada penerusnya. Kesialannya adalah bahwa ia hanya memiliki satu saja keturunan yang berhak untuk mewarisi tahta kerajaan. Samagrawira adalah anak tertuanya, dan keempat adik - adiknya adalah perempuan. Budaya Wangsa Syailendra memang mengharuskan laki -- laki sebagai calon penerus takhta. Sementara yang lain hanya berhak untuk menjadi pendamping, itu pun kalau bernasib baik. Sejauh ini semua adik Samagrawira bernasib baik dengan menjadi pendamping para bupati Kerajaan Sriwijaya, dan ia masih menantikan nasib Sariwanadhira.

Dharanindra kembali melihat ke arah halaman kerajaan. Ia tidak menemukan Sariwanadhira dan panglimanya, karena mereka telah menghilang. Mungkin mereka sadar telah aku perhatikan, pikir raja. Tidak beberapa lama terdengar suara berat di belakang raja.

"Sudah sehatkah baginda sehingga berani untuk berjalan menuju teras dan menyaksikan hamba berlatih bersama tuan putri?" suara itu membuka percakapan.

Dharanindra tersenyum sesaat. Panglima perangnya ini memang mempunyai kebiasaan untuk membuat orang terkejut. Ia memang orang yang cekatan. Aku akan tenang meninggalkan kerajaan ini bersama Samagrawira dan dirinya.

"Vijayasastra, kecepatanmu tidak berkurang. Kau selalu mengagetkanku. Jika ada kerajaan lain yang hendak menyerang, mereka akan menyesal berhadapan denganmu." raja sedikit bercanda dengan menyombongkan kekuatan Kerajaan Sriwijaya.

"Tentu baginda raja. Kami dari kelompok prajurit tidak pernah mengkhawatirkan serangan musuh. Tiap hari yang kami pikirkan adalah penyerbuan. Terakhir Kerajaan Langkasuka tidak mau menyerah setelah kami lakukan penyerangan selama dua hari berturut -- turut. Namun hamba yakin, dengan kekuatan tempur Kerajaan Sriwijaya cepat atau lambat Istana Kedah akan kami kuasai." jawab Vijayasastra.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x