Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Di Jogja Tak Kutemukan R

14 Mei 2017   08:00 Diperbarui: 14 Mei 2017   14:58 829 19 13
Cerpen | Di Jogja Tak Kutemukan R
foto dok TS

Cerita Minggu Pagi 29:

Sengat panas mentari seperti menolak kedatanganku. Ubun-ubun pun terasa panas dan gembur olehnya. Apalagi di jalan Polisi menahanku.

“Selamat siang, Pak.” Hormat klasiknya sembari mengangkat tangan. Lalu serenteng pertanyaan klasik pula menyertati, “Ada surat-surat?”

“Surat nikah?” aku ingin menjawab itu. Namun yang kulakukan adalah merogoh kantong jeans belel yang akan membawaku ke Pasar Ngasem. Aku ingin mencari R di situ. Siapa tahu?

“Saya akan ke sebuah acara penting.”

“Oh ...silakan.”

“Ketemu R.”

Ia mengernyitkan kening. Tangan yang hendak diangkat untuk menghormat basa-basi itu berhenti.

“Siapa itu R?”

Barulah aku tertawa. Karena ini sama sekali nyeleneh tak ada dalam skenario. Orang hendak bertemu dengan seorang gadis berambut ...seingatku panjang. Sehingga ia pernah menjadi bintang iklan sebuah produk shampo. Ah, R yang suka dengan es krim. Di mana kau berada? Seperti langit-langit yang kusam. Kemarin-kemarin.

“Lupakan saja.”

“Jangan. Saya jadi penasaran saudara menyebut nama itu.”

“R?”

“Ya, R.”

Aku tertawa.

“Kenapa dengan nama itu, memang?”

Sang petugas berbaju cokelat tersenyum.

“Mengingatkan pada seseorang.”

“O.”

“Kependekan dari Renata ....”

Aku tertawa lebih keras. Untung bukan Raisa. Raisa, di mana kau di Ngasem pada siang menyengat kini.

Sekumpulan orang dari satu stan ke stan lainnya, tak secuil pun yang menyamai R ku. R yang belakangan menghilang dari peredaran di tanah Sunda. Entah ke mana. Padahal antara Bandung-Cianjur-Bogor tak seberapa jarak. Hanya berbilangan tiga empat jam saja.

“Katanya mau ke Jogja ...,” kata orang rumah.

“Untuk apa?”

“Kegiatan apa. Ya nggak jauh-jauh dari komunitas ....”

Masuk akal. Yang tak masuk akal, kenapa mesti jalan sendiri. Jika saja memintaku untuk mendampinginya, siapa menolak? Tak ada dalam kamus liarku.

“Es cendolnya, Bu ....”

Dawet item atau es cendol dengan warna hitam itu kuaduk-aduk, lalu keteguk membahasi hatiku yang tersengat hitam entah. Jogja seperti sedang marah. Tak menerima kedatanganku. Atau telah berkabar kepada R kalau aku datang untuk ditolaknya?

Kusandarkan punggung yang menyerupai sekeping papan karena capek yang mendera.   

“Kaos, Mas ....”

Aku tak peduli. Deretan kios penjual kaos dari Mrongos sampai yang lucu tak membuatku berubah. Tak kunjung membuatku senyum. Kecil sekalipun.

“Di mana kau, R?”

Kutinju matahari.

Melintas tiga orang pengamen.

"Mengapa harus takut pada matahari ...."


***  

Jogja, Minggu 14/5