Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mas Arswendo, Padamu Kami "Mengabdi"

19 Juli 2019   20:03 Diperbarui: 19 Juli 2019   20:06 0 18 6 Mohon Tunggu...
Mas Arswendo, Padamu Kami "Mengabdi"
KArya Mas Wendo yang fenomenal, dan bahkan judulnya menginspirasi. Ilustrasi dibuat oleh Mas S. Rahardjo (orang Gramedia). Foto: Bukalapak.

Tak terbilang anak-anak muda kabur kanginan terdampar dan ditampung di Majalah HAI pada delapan puluhan awal. Penampungnya, siapa lagi kalau bukan Mas Wendo, Pemred Majalah remaja "nakal".

"Kamu mau nulis apa?" tanyanya entengan.

Aku  satu di antara mereka: Hilman Lupus, Gola Gong, dan lainnya. Yang disebut mereka, memang tidak terikat sebagai karyawan Majalah yang berada di Lantai Tiga,  Jalan Palmerah Selatan 22 di mana kantornya berbarengan dengan (redaksi) majalah Intisari dan Bobo. Bisalah disebut nyantrik, atawa sebagai freelancer. Redaksi KOMPAS, berada di gedung sampingnya.  

Meski bukan karyawan tetap, para penulis ini mendapat kesempatan yang lumayan. Seperti pertanyaannya "mau nulis apa?" yang terlontar darinya -- yang berarti ada jaminan darinya. Ada uang transport dan hotel jika menulis dengan "nara sumber" di luar kota. Sedangkan honornya tetap, misalnya seratus lima puluh ribu (waktu itu ya gedelah). Bahkan, aku satu di antara yang dibayar sebelum majalah terbit, lima edisi mingguan majalah itu.

Tidak terbilang pula dari sebaya yang kemudian menjadi karyawan. Caranya, ya dengan menjadi pembantu serabutan. Ada yang mulai ikut-ikutan wawancara, memotret dan bahkan dari menjadi penjaga malam dan pelayan. Yang terakhir ini, bisa menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Bintang, malah.

Jadi, tidak ikut test untuk bisa masuk bekerja di Kelompok KOMPAS-Gramedia, sebagai raksasa media yang disiplin. Inilah kemudian, kita bekerja dengan cara yang guyup, dan kreatif. Kerap di atas jam kantor bubar, kami biasa mengerjakan apa saja. Ada yang menulis, menggambar, meneliti foto yang akan dimuat di majalah yang rubrikasinya ada Komik, cerpen, Cerbung dan Novelet.

Mas Wendo memang "nakal" alias penuh gagasan dari balik kaos oblong, celana jeans dan sepatu sendal. Ia flamboyan. Sangat hafal dengan anak-anak kabur kanginan itu. Menyapa dari jauh, dan menolong para gelandangan seperti kami. 

Termasuk dalam soal memberi honor sebelum tulisan dimuat-tayang. Ini yang membuat Mbak Sri, sekretaris dan keuangan HAI kelimpungan. Nalangi dulu. Pernah Kadir Wong, tetangga dan teman Mas Satmowi Atmowiloto (kakak Mas Wendo) dari Solo nungguin sampai kantor tutup, dan terpaksa gigit jari. "Lha, opo aku disuruh mbubarke rapat mereka," katanya, karena ia tak bisa membantu.

Sisi ini yang membuat kami mengabdi pada Mas Wendo. Kami diajak kerja cerdas. Sehingga ketika ada fotografer freelance mendapat gambar hasil jepretannya bagus, tak segan ia akan memuji dengan caranya. "Ngerti selera bossmua aja," tandas lekaki selalu gondrong itu. Namun pada saat reporter pulang tak membawa hasil, dengan ringan pula Mas Wendo akan meledek: Alah, gayamu saja. Nyentrik. Nggak bisa cuma ... ngejar gitu aja nggak bisa."

Pada saat usianya masih tiga puluh tahun dan menjadi Pemimpin Redaksi majalah remaja itu, ia paling senior dari awak HAI. Paling hanya Mas Wedha, yang kemudian menjadi Bapak Pop Art Indonesia itu. Sehingga ia yang kurang mempercayai dengan penampilannya itu, seperti anti mainstream di lingkungan Penerbit KOMPAS-Gramedia besar. 

Namun tangan dinginnya, membuktikan. Sehingga tak hanya menjadi Pemred namun kemudian Direktur Divisi Majalah: membawahi majalah yang ada di kelompok ini. Tabloid Nova, HAI, Bobo, dan Motor Plus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2