Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kompasianival 2017 dan KutuBuku

21 Oktober 2017   06:55 Diperbarui: 30 Oktober 2017   09:07 1045 16 13
Kompasianival 2017 dan KutuBuku
dokpri


KOMPASIANIVAL 2017 mendapat ujian. Lha, gimana ndak? Sudah diworo-worokan (warning) kalau hajatan tahunan ini di Pasar Festival, kok ujug-ujug dipindah. "Ya, dibatalin sepihak, Pak," ujar Wida ketika ketemu dalam sebuah acara kompasianinal kecil perhal gas di hotel samping Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat.

Walah.

Yo wis, ngikut aja. Mesti menghitung ke tempat yang lebih nyempil di kawasan Kemang deket Kong Agil, kanca ngapak asal Brebes penjaga gawang Planet Kenthir. Jangan-jangan ini sihir dia secara edan-edanan -- biar Kompasianivalnya di situ. Karena komunitas yang sama seperti KutuBuku di bawah naungan Kompasiana pernah memenangkan TS dalam lomba paling kenthir: Ngomongin toleransi yang serius dengan kemasan humor! Jangkrik.

Nah, menyinggung KutuBuku juga kan? Iya. Karena KutuBuku yang hadir dari metamorfosa Peniti Community yang disepakati bareng peletak utama dan penting Kompasiana Pepih Nugraha. Hingga kemudian dibahas dan diutak-atik oleh Wardah Fajri menjadi KutuBuku -- bahkan kemudian logonya dibuatkan oleh Kompasiana seperti sekarang. Penggalaman dan pergulatan komunitas yang TS gagas bareng Isson Khairul, sebagai si cerdas. Ya, ndak jauh-jauh karena kutubuku bukankah bersinggungannya dengan itu: buku, bagian penting berliterasi di era milenial kini sekalipun.

dokpri
dokpri

Tahun kemarin, ya tahun 2016 di ujung pemerintahan Kang Pepih, KutuBuku ketiban pulung. Diberi kesempatan tunggal dari komunitas Kompasiana. Berdampingan dengan Grup Kompas-Gramedia. Maka ketika Menlu Retno L.P Marsudi sebagai keynote speaker mampir, paling lama TS ajak ngobrol. Bahwa kompasianer yang tersebar hingga ke luar negeri, menulis dan membukukan di KutuBuku: Gaganawati Stegmann, Tjiptadinata Effendi, Gordi, dan banyak lagi. 

Apa karena mewakili sebagai komunitas yang konsisten menerbitkan buku dari naskah para Kompasianer? Jelas. Itu yang dirasakan kami. Sehingga per Kompasianival kini di Kemang sudah ada 63 (enam puluh tiga) judul buku yang terbit. Terbaru, Mawar dari Cihideung (Erni Wardhani) dan Nyanyian Sarbeni (Neni Nurachman). Dua-duanya dari tanah Sunda, dan perihal anak-anak. Dan yang paling kebul-kebul dari dapur karya Kompasianer yang berkredo: satu hari satu tulisan Ikhwanul Halim. Yakni kumpulan puisi: Kafe Pojok & Barista tak Bernama dan Bobo Pengantar Dongeng.

Oya, ada kumpulan cerpen Bertajuk: Orang-orang yang Menyerah karya Sugoyanto Hadi, pengarang sejak delapan puluhan alumni UGM. Hari ini pas ia ulang tahun dan bukunya sedang proses.

dokpri
dokpri

Sesungguhnya, Kompasianival menjadi lebih seru dan klop apalagi dimix-kan. Antara kompasianer dengan pihak non komunitas (institusi besar) rekanan Kompasiana dan Nara Sumber kompeten, yang kali ini menghadirkan Mbak Titiek Puspa (saya memanggilnya memang mbak sejak beberapakali mewawancarainya pada 80-90an di rumahnya di Jalan Sukabumi 23-A daerah Manggarai, Jakarta Selatan). Juga penulis sekaliber Eka Kurniawan dan Jokpin yang puisi-puisi waduh banget jika menilik judulnya. Seperti main-main saja.

"Mestinya seperti Mas Seno Gumira Adjidharma yang dihadirkan di Kompasianival," cetus Kompasianer senior saat ngobrol di Gancit, Kompasianival 2015. Ya, saat itu pengarang papan atas yang kini rektor IKJ hadir di stan KutuBuku bareng budayawan M. Sobary.

Kalau Kompasianival diklaim sebagai terbesar dari yang sebelum-sebelumnya, syukurlah. Karena dicatat sudah 2500 manusia akan tumplek-blek di Kemang -- yang langganan macet per akhir pekan (bener ya Kong Agil?). Jelas, ajang tidak main-main dalam menampung netizen, blogger atau warganet lainnya. Dan kompasiana, mau tidak mau telah mendadar kompasianer bertebaran ke berbagai penjuru wadah para blogger (Wah, termasuk Kang Pepih, nih? Yang janji mau ketemuan dengan awak).


Kompasiana dengan awaknya yang masih muda semua, di bawah komando Isjet (COO Kompasiana) telah menemukan jalannya sebagai media warga --  atau apa pun namanya -- yang bisa begini. Ya, meski di belakangnya ada nama besar KOMPAS, tentu.

Selamat berkompasianival!

*** foto-foto: dok pri TS


Foto-foto dok KutuBuku