Mohon tunggu...
Okti Li
Okti Li Mohon Tunggu... Freelancer - Ibu rumah tangga suka menulis dan membaca.

"Pengejar mimpi yang tak pernah tidur!" Salah satu Kompasianer Backpacker... Keluarga Petualang, Mantan TKW, Indosuara, Citizen Journalist, Tukang icip kuliner, Blogger Reporter, Backpacker,

Selanjutnya

Tutup

Kurma Artikel Utama

Ngaladog, Nostalgia Masa Kecil Saat Ramadan

19 April 2021   23:55 Diperbarui: 23 April 2021   15:00 6427
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gatrik, boy-boyan, galah, berbagai permainan anak jaman dulu yang sekarang terlupakan. Dok pribadi

Pada tahun 1990an, liburan sekolah SD itu bisa sebulan lebih. Selain bertepatan dengan bulan Ramadan juga bertepatan dengan masa kelulusan anak kelas 6. Jadi hampir sebulan full setiap harinya waktu kami habiskan dengan ngaladog.

Beda dengan anak zaman sekarang yang lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah dengan menonton televisi hingga bermain gadget, anak jaman dulu --sekarang sudah jadi orang tua di usianya yang sudah kepala empat sekian-sekian---lebih banyak menghabiskan liburan di lingkungan sekitar kampung atau daerahnya dengan bermain bersama anak-anak sekampung yang tidak mudik ke handai taulannya.

Pada masa itu, Kota Bandung masih banyak lahan sawah dan rawa. Belum banyak tempat pelesir seperti mall atau wahana permainan anak apalagi gadget. Rawa dan makam Cibangkong yang sekarang jadi lokasi Trans Studio Mall dulu adalah tempat ngaladog saya dan barudak gang masjid At Taufik dari Gumuruh.

Dulu jalan Gatot Subroto masih sepi. Kami ngaladog menyusuri jalan kecil dari Gumuruh ke Terusan Martanegara, lalu ke Turangga dan menyusuri rel kereta hingga sampai di Cibangkong.

Perumahan Rancamanyar, dulu masih berupa persawahan dan kebun-kebun yang banyak pohon dengan buah yang bisa dipetik seperti mangga, kersen atau jambu biji. Entah milik siapa tapi kami anak-anak kampung selalu merasa bebas untuk memetik dan membawa pulang untuk dijadikan camilan saat berbuka tiba.

Saat ngaladog di persawahan, Ari yang suka memimpin ngajak kami ngurek atau mencari belut hanya dengan menggunakan tangan. Anak perempuannya tidak mau kalah juga, biasanya mencari keuyeup atau kepiting sawah. 

Terus dimasukkan ke dalam kaleng dan dibawa pulang. Tidak bosan mencari kepiting sawah dan membawanya pulang meski sesampainya di rumah isi kaleng selalu dibuang oleh si mamah. Wkwkwkwkkk...

Jika mengingat semua itu, betapa rindunya saya dengan kebersamaan masa kecil di Bandung. Rindu dengan teman-teman yang kini entah berada di mana. Hanya Nia yang masih bisa berkomunikasi karena kebetulan saya menemukan akun sosial medianya.

Ngaladog memiliki arti yang sangat dalam untuk saya. Tidak sebatas pengisi liburan saat bulan puasa sekaligus kenaikan kelas tapi juga memiliki aktivitas yang penuh kenangan karena semakin ke sini permainan saat ngaladog itu kini susah untuk dijumpai lagi.

Beberapa permainan yang jadi kenangan ketika ngaladog bersama anak kampung gang masjid At Taufik Gumuruh saat itu:

Ngalodong

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun