Mohon tunggu...
Okti Li
Okti Li Mohon Tunggu... Ibu rumah tangga suka menulis dan membaca.

"Pengejar mimpi yang tak pernah tidur!" Salah satu Kompasianer Backpacker... Keluarga Petualang, Mantan TKW, Indosuara, Citizen Journalist, Tukang icip kuliner, Blogger Reporter, Backpacker,

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Ngaladog, Nostalgia Masa Kecil Saat Ramadan

19 April 2021   23:55 Diperbarui: 23 April 2021   15:00 656 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ngaladog, Nostalgia Masa Kecil Saat Ramadan
Ilustrasi jalan-jalan sore. (sumber: jacoblund via kompas.com)

Jangankan Urang Sunda, hampir semua warga Indonesia sudah tidak asing dengan istilah ngabuburit, bukan? 

Tapi sebaliknya saya yakin, jangankan orang di luar suku Sunda, asli urang Sunda saja apalagi generasi milenial-nya belum tentu tahu dengan istilah ngaladog. Apalagi istilah ngaladog ini kalah populer dibandingkan dengan istilah ngabuburit yang sudah menasional.

Hayo, apa itu ngaladog? Kalau secara bahasa bakunya saya juga artinya tidak tahu pasti. Hanya kalau diibaratkan, istilah ngaladog dari bahasa Sunda yang kerap kami (anak-anak kelahiran tahun 80-an di Bandung) pakai itu, kurang lebih artinya berpetualang. 

Istilah ngaladog bisa digambarkan dengan aktivitas berjalan rame-rame tanpa tujuan pasti sambil menghabiskan waktu, menunggu saat berbuka.

Maksud tanpa tujuan pasti di sini adalah setiap ngaladog tidak pernah direncanakan mau berangkat ke mana, atau mau main apa. 

Tapi biasanya ngaladog kami ujungnya mentok di persawahan, kebun, atau perumahan markas Seskoad di Turangga dimana di sana ada sebuah taman umum yang bagi anak-anak kampung seperti saya dan teman-teman

Taman yang di dalamnya ada ayunan dan sosorodotan itu masih cukup wah, karena saat itu taman sejenis belum ada di tempat lain.

Oya, sebelumnya perkenalkan saya anak perempuan yang jalingkak (artinya mirip tomboy mungkin ya) kelahiran tahun 80 dan menghabiskan masa kecil di Gumuruh Batununggal Kodya Bandung. 

Teman ngaladog saat itu, selain Agus adik kandung saya yang usianya beda setahu lebih, juga ada teman main satu kampung yang sama-sama jalingkak juga yaitu Nia, adik kakak Angga dan Anggi, adik kakak Hani dan Desti, serta Ari, Mimi, Hendi, Sadikin dan Upi.

Kami sekolah di SDN Kridhawinaya (sekarang sekolah itu sudah tidak ada) di Maleer, Binong. Hanya Nia yang beda sendiri, dia sekolah di SD swasta yang saat itu kami menyebutnya SD tingkat, merujuk pada bangunannya yang mewah dan bertingkat. 

Nia memang termasuk orang berada. Yang saya ingat neneknya bekerja di perumahan Seskoad di Turangga. Namun kalau soal ngaladog Nia juga tidak pernah absen. Meski sesekali pulangnya dimarahin orang tuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x