Mohon tunggu...
Okti Li
Okti Li Mohon Tunggu... Ibu rumah tangga suka menulis dan membaca.

"Pengejar mimpi yang tak pernah tidur!" Salah satu Kompasianer Backpacker... Keluarga Petualang, Mantan TKW, Indosuara, Citizen Journalist, Tukang icip kuliner, Blogger Reporter, Backpacker,

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Strategi UMKM Masuk Pasar Internasional

20 Juli 2019   08:45 Diperbarui: 5 Agustus 2019   16:00 0 1 0 Mohon Tunggu...
Strategi UMKM Masuk Pasar Internasional
Kopiwriting semua foto dok pribadi 

Strategi UMKM Masuk Pasar Internasional

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) saat ini bisa dibilang sebagai motor penggerak roda perekonomian bangsa. Pengangguran banyak diserap, meski tidak terlihat tapi itu nyata.

Untuk melebarkan sayap usaha, UMKM perlu dorongan supaya bisa terus berkembang sehingga kestabilan ekonomi negeri tetap terjaga. Hal itu tentu saja perlu perhatian dari pihak terkait sehingga UMKM tidak lagi jalan di tempat melainkan melaju pesat.

Revolusi industri 4.0 yang cenderung memasarkan produk secara digital mau tidak mau harus diikuti para pelaku UMKM supaya tidak tertinggal. Marketing ofline bergeser menjadi online. Ini perlu dukungan dan upaya supaya yang awalnya hanya menguasai pasar dalam negeri bisa merambah mencapai pasar luar negeri alias internasional.

Menyikapi kondisi tersebut, mendukung pertumbuhan UMKM yang terus bergeliat, JNE bersama Kompasiana mengadakan JNE Kopiwriting dengan tema: "Menentukan Strategi yang Tepat di Pasar Internasional bagi UMKM"

Sejatinya kegiatan Kopiwriting akan diadakan di 7 kota dengan tema yang berbeda-beda. Beruntung saya bisa ikut menjadi peserta pada Kopiwriting pertama yang di gelar di Bandung pada Kamis, 18 Juli 2019 pukul 15.00 - 19.00 WIB bertempat di One Eighty Coffee, Jl. Ganesa No.3.

Hadir selaku pembicara terdiri dari Deputy General Manager JNE, Hasmeliyani Suseno; Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Noneng Komara; dan Aditya Rahman yang biasa dipanggil Adit Yara selaku Co-Founder NIION Indonesia, yakni pelaku UMKM tas lipat asal Bandung yang kini sudah menembus pasar mancanegara.

Narasumber Kopiwriting/foto dok pribadi 
Narasumber Kopiwriting/foto dok pribadi 



JNE Express Delivery

Selaku nara sumber pertama Ibu Hasmeliyani dari JNE memberikan banyak informasi terkait JNE update.

Selama ini masyarakat tahunya JNE adalah jasa pengiriman yang berkutat seputar pengiriman paket. Memang hal itu sesuai dengan visi misi dan values yang dimiliki JNE. 

Dimana JNE sendiri menginginkan jadi perusahaan rantai pasok global terdepan di dunia, memiliki misi ingin memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan secara konsisten, dengan berlandaskan values yang dimiliki berupa kejujuran, disiplin tanggung jawab dan visioner.

JNE selaku perusahaan jasa expedisi tidak terpisahkan dari 3 pilar e-commerce transaction yang meliputi pembayaran (payment gateway), merchant platform seperti marketplace, dan terakhir logistik. Karena setelah ada tiga point tersebut maka JNE baru bisa melakukan tugas semestinya.

Ibu Hasmeliyani menjelaskan pula jika saat ini, JNE sudah memiliki beberapa informasi terbaru yang diupdate di tahun 2019.

Tahukah jika 48 dari 100 pengiriman yang dilakukan JNE adalah mengirimkan produk fashion? Tahukah jika JNE memiliki lebih dari 4.200 perusahaan relasi? JNE telah melakukan 300 pengiriman melalui udara ke lebih dari 514 destinasi per hari, lho.

JNE juga sudah memiliki gateaway system untuk memantau pengiriman secara internasional. Dengan jangkauan tersebut tidak heran jika JNE mengklaim telah sukses mengirimkan sebanyak lebih dari 22juta buah paket per bulan, yang ditunjang oleh hampir 9 ribu kendaraan bermotor, dan hampir 2500 kendaraan roda empat. Semua itu tercapai berkat sekitar 45 ribu karyawan yang dipekerjakan dengan lebih dari tujuh ribu network.

Yang unik dari JNE dan ini luar biasa bisa kita ketahui, kalau hastag #JNE sampai saat ini sudah dipakai lebih dari 1 M. Dengan total follower 400K (ini sama dengan jumlah penduduk Brunei Darussalam tahun 2015) aplikasi My JNE sudah didownload oleh lebih dari 1 M pengguna. Dan yang paling baru JNE pun sudah memiliki 600 warehouses.

Sesuai dengan perkembangan jaman, JNE menyesuaikan perusahaan dengan kondisi kecanggihan teknologi terkini. Ada sistem baru yang dilakukan JNE meliputi JNE Online Booking, pembayaran di JNE saat belanja di e-commerce, dan pembayaran melalui Gopay atau OVO.

Proses pengiriman lebih cepat dan aman karena kurir JNE saat ini dilengkapi dengan automatic mobile device dimana treking barang kiriman bisa kita pantau sudah sampai di mana.

Dan pelayanan yang paling baru dari JNE adalah adanya "Fulfillment" from delivery to manage. Jika sebelumnya kita mengenal JNE sebagai jasa pengiriman paket, maka saat ini JNE sudah merambah ke penjualan barang dengan memiliki warehouse yang menyediakan produk, informasi dan sekaligus pembayaran.

Ini kesempatan bagus bagi para pelaku UMKM, karena dengan memproduksi sudah bisa bekerja sama dengan JNE untuk memasarkan sekaligus dibantu dalam transaksi penjualan.

Tidak hanya itu, JNE juga telah merangkul pelaku usaha dengan melakukan sharing sessions untuk UMKM melalui seminar online, dan business skill for digital marketing di 16 kota. JNE juga telah menjalankan kerja sama dengan beberapa marketplace (marketplace sinergy) seperti Shopee roadshow, Tokopedia makerfest 2018, dan belajar ngelapak bersama komunitas Bukalapak.

Yang tidak pernah banyak diketahui publik, JNE pun memiliki program CSR melalui kegiatan mendukung program Wahana Visi Indonesia, Santunan anak Yatim, dan dukungan terhadap program Foodbank of Indonesia.

Untuk memudahkan setiap transaksi di JNE sudah lama JNE mengeluarkan kartu JNE Loyalty Card. Pemilik Kartu JLC ini memiliki kesempatan mendapatkan promosi, penawaran dan berbagai hadiah menarik mulai liburan, emas batangan sampai mobil idaman. Sudah ada lebih dari seratus ribu member JLC yang memanfaatkan kesempatan baik ini, lho!

Presentasi Deputy General Manager JNE/foto dok pribadi 
Presentasi Deputy General Manager JNE/foto dok pribadi 

Jadi JNE saat ini bukan hanya sekadar kurir pengiriman paket, namun sudah merambah ke berbagai lini usaha sesuai dengan kondisi dan kecanggihan teknologi.

JNE yang berdiri tahun 1990 sudah lama bisa melayani pesanan oleh-oleh nusantara melalui Pesona, menjadi pelayan di kepabeaan, antar jemput di bandara, JNE sudah menjadi third party e-commerce management (TPEM) bagi marketplace di Indonesia, JNE sudah melaunching Jemput Asi Seketika (Jesika) dan yang terbaru JNE Fulfillment yang bisa membantu kita para UMKM untuk memasarkan sekaligus menjual produk ke jenjang pasar yang lebih luas.

Strategi Tepat UMKM di Pasar Internasional

Mewakili Ibu Atalia Ridwan Kamil yang tidak bisa hadir di acara, Ibu Noneng Komara selaku Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menyampaikan jika Dekranasda adalah lembaga independen dan nirlaba mitra pemerintah dalam meningkatkan daya saing kerajinan daerah.

Dengan adanya Dekranasda, yang membawahi pelaku usaha makro, meso, dan mikro, diharapkan bisa mengimplementasikan kebijakan untuk mencapai ekonomi yang mandiri.
 
Dekranasda memiliki visi jadi lembaga inovatif dan kolaboratif dalam mendukung Jabar Juara dengan kriya yang berkualitas.

Hal itu dilalui dengan tahapan misi yang terdiri dari menyiapkan perajin inovatif yang bisa mengembangkan tradisi daerah jadi selera internasional, meningkatkan daya saing produk kerajinan melalui pengembangan kreativitas kelas dunia, menjalin kemitraan dan kerja sama dengan lembaga nasional juga internasional di bidang industri ekonomi kreatif, serta menembus pasar global melalui produk lokal.

Pengelolaan UMKM di Jawa Barat ini sendiri melalui berbagai cara. Dengan pengelolaan secara sederhana mulai dari penetapan status badan hukum, pencatatan keuangan dan penggunaan fasilitas komputer.

Melihat kinerja usaha dari sisi keuangan perolehan laba usaha mikro dan kecil menunjukkan kondisi stabil. Ini menunjukkan prospek UMK di Jabar lebih baik sekitar 42%. Tidak heran kalau UMKM mendominasi jumlah usaha di Jabar. UMK jadi penyerap tenaga kerja terbanyak, sebanyak 74% dari total tenaga kerja non-pertanian.

Padahal pelaku UMK ini pada umumnya perorangan karena skala usaha masih kecil. Jadi seluruh proses dilakukan sendiri.

Untuk terus mendorong para pelaku usaha meningkatkan produksi serta kualitas, maka Dekranasda membuat langkah serta kebijakan yang mana didalamnya terdapat banyak program kegiatan.

Program Dekranasda Jabar:

1.Peningkatan kemampuan SDM atau pengrajin supaya memiliki daya saing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2