Mohon tunggu...
Inovasi

Global Warming adalah Ancaman Atau Bukan ? (Keraguan vs Kerpercayaan)

13 Juni 2016   01:20 Diperbarui: 13 Juni 2016   01:34 275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Globalisasi adalah ancaman atau bukan dalam tulisan ini saya ingin menulis sebuah resum dari artikel   yang berjudul Challenging Global Warming as a Social Problem: An Analysis of the Conservative Movement’s Counter-Claimsyang ditulis oleh Aaron M. McCright dan Riley E. Dunlop yang berupa analisis mengenal masala global warming.

Seperti yang kita tau bahwa masala global warming ini adalah masala yang sampai saat ini menjadi masala yang menimbulkan banyak perdebatan, beberapa kalangan seperti kalangan ilmuwan mengatakan bahwa ini adalah masala yang perlu ditangani secara serius. Karena itu, diperlukan sikap aktif manusia terutama untuk mengurangi resiko atau dampak dari global warming. Kemudian muncul kalangan oposisi yang mengatakan bahwa ini merupakan isu yang sengaja di timbulkan untuk kepentingan, maka tidak perlu di tangani secara serius. Pernyataan tersebut selanjutnya dikuatkan oleh beberapa alasan yaitu: bukti dasar dari adanya global warming masih lemah, jika harus terjadi global warming akan memberikan keuntungan dan kebijakan tentang global warming hingga aksi internasional hanya akan berdampak negatif (McCright & Dunlap, 2000: 510).

Berikut beberapa penjelasan atau definisi mengenai Agen Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. Menjelaskan bahwa global warming ialah peningkatan suhu rata-rata di permukaan bumi, baik yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi pada saat ini. Sebagian besar kejadian dipengaruhi oleh peristiwa efek rumah kaca di atmosfir bumi. Global warming inilah yang menyebabkan adanya perubahan iklim.

Kemudian menurut Natural Resources Defense Council.  Mereka menjelaskan bahwa global warming adalah krisis lingkungan dan kemanusiaan terbesar yang terjadi pada saat ini. Atmosfer bumi sangat panas karena terperangkap oleh gas karbondioksida yang bisa mengancam perubahan iklim dan dapat menimbulkan bencana di permukaan bumi. NRDC ini juga menghimbau kepada seluruh masyarakat di muka bumi untuk bertindak melawan global warming agar efek buruknya bisa berkurang bagi kehidupan manusia. Adapun dampak dari global warming yaitu mengakibatkan kenaikan permukaan laut, perubahan iklim, kerusakan pada organisme dan ekosistem serta pengaruh terhadap ketersediaan air dan pertanian. Menurut laporan dari IPCC (Intergovernmental on Panel Climate Change) suhu global rata-rata akan meningkat dengan laju 0,3 derajat celsius per dasawarsa. Suhu global rata-rata tahun 1890 dengan 14,5 derajat celsius dan pada tahun 1980 naik menjadi 15,2 derajat celsius. Diperkirakan untuk tahun 2030 hingga 2050 suhu global rata-rata naik 1,50 sampai dengan 4,5 derajat celsius (Fadliah, 2008: 3).

Kedua sisi yang saling mempertentangkan fenomena global warming menyajikan argumen masing-masing. Dalam hal ini, media memiliki peran dalam menyampaikan kedua pandangan tersebut. Media yang awalnya menyajikan pengetahuan mengenai pemanasan global, lama-kelamaan memberi porsi pada pihak skeptis dan menyajikan ruang perdebatan seputar global warming.

 Dalam Artikel yang berjudul Challenging Global Warming as a Social Problem: An Analysis of the Conservative Movement’s Counter-Claimsyang ditulis oleh Aaron M. Mc Cright dan Riley E. Dunlop menjelaskan bahwa gagasan dan pendapat dari kelompok oposisi. Khusus di Amerika, persoalan pemanasan global akan sangat sulit didialogkan perihal adanya faktor kepentingan dan persepsi yang berbeda dari kedua kelompok. Misi utama untuk menyelamatkan lingkungan sekaligus mengurangi polusi seringkali dikalahkan oleh berbagai macam kebijakan yang pro terhadap industri. Apalagi kelompok oposisi ini juga mendapat ruang yang sangat besar dalam media, sehingga memberikan kemudahan bagi mereka untuk mendiseminasikan gagasan-gagasan yang mereka miliki. Bahkan isu tentang pemanasan global pun telah dimasukan ke dalam kebijakan politik dari para penguasa. Hal inilah yang menyulitkan bagi para ilmuwan untuk meyakinkan gagasan-gagasan dan fakta-fakta akan adanya pemanasan global.

Di lain pihak, sebuah film documenter berjudul Inconvenient Truth yang bergenre science-fiction (sci-fi) menunjukkan keyakinan atua kepercayaan terhadap adanya global warming sebagai isu yang problematis. Film yang dirilis pada tahun 2006 dan dibintangi Al Gore, seorang mantan wakil presiden di era Bill Clinton ini mendapatkan penghargaan Academy Award atau piala Oscar di tahun 2006. Sementara pemerannya sendiri, Al Gore bersama dengan IPCC dianugerahi Nobel Perdamaian oleh Komite Nobel di Oslo, Norwegia berkat usahanya menyelamatkan bumi dan memberi kesadaran masyarakat tentang global warming (Rusbiantoro, 2008, hal.4). Fakta-fakta yang ditampilkan di dalam film ini merupakan bentuk nyata dari global warming sekaligus sebagai bentuk pendekatan persuasif yang dilakukan oleh Al Gore kepada masyarakat Amerika khususnya dan dunia umumnya untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan serta belajar untuk menghidupkan kembali cara-cara tradisional dalam kehidupan setiap hari. Untuk bisa mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah dengan pengefisiensian barang elektronik dan kendaraan bermotor.

Lalu bagaimana kita harus menentukan pilihan jika melihat masala global warming saya menyarankan bahwa perlu adanya keseriusan dalam hal melihat masala global warming ini sebagai suatu yang perlu dilihat lagi terkait kebernaranya sebagai suatu masala terkait kepentingan ekonomi ataukah ini merupakan suatu masala yang terjadi karena benar-benar terjadi akibat tindakan manusia terhadap alam.

Perlu adanya sikap septis dari kita agar selalu bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih dan jelas untuk semua hal dalam hal ini terkait masala global warning.

 

Refrensi :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun