Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Music Artikel Utama

"Best I Ever Had", Mencium Bau Sejarah Tak Berarti Harus Kembali ke Masa Lalu

27 Mei 2020   14:27 Diperbarui: 30 Mei 2020   16:45 2377
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ada yang mengatakan bahwa saat ini kita hidup dalam keanekaragaman pada masa postmodernis yang bercirikan diskontinuitas historis. Benarkah sejarah kehidupan manusia bisa terputus?

Siapa yang tidak mengingat masa-masa ketika masih di SMA, baik pengalaman pahit, manis, baik, buruk, menyenangkan atau memalukan? Ketika berjalan bersama teman-teman sepulang sekolah, ada yang bercanda lepas seolah dunia hanya dipenuhi kebahagiaan tanpa ada sedikit pun masalah.

Atau ketika ada yang murung, mungkin karena mendapatkan nilai rendah  saat ujian, atau mendapatkannya cintanya bertepuk sebelah tangan. 

Ada juga yang berjalan berduaan dengan malu-malu karena mereka adalah sepasang remaja yang sedang kasmaran. Tak jarang kelompok yang jahil suka menggoda pasangan yang kasmaran ini, entah karena sekadar usil atau merasa cemburu karena mendapati diri sendiri hanya menjadi bagian gerombolan.

Itu hanya sedikit deskripsi dari sekian banyak kenangan masa lalu lainnya yang bisa ditemukan kembali oleh manusia dalam dirinya sendiri melalui cermin sejarah mana kala bertemu dengan pemicu yang tepat. 

Kita dapat terpicu mencium jejak-jejak masa lalu dari cerita-cerita, dari fakta-fakta menarik atau kebiasaan-kebiasaan yang dulu sering kita lakukan. Itu merupakan serangkaian peristiwa yang mampu menyentuh perasaan.

Sentuhan pada perasaan membuat manusia berfilsafat. Maka tidak heran mengapa Socrates secara jenaka mengatakan bahwa seorang suami yang banyak mengalami tekanan berpotensi menjadi filsuf. Seolah lelucon, tapi ada benarnya. 

Coba rasakan sendiri, bahwa tekanan terhadap perasaan membuat manusia menjadi banyak berpikir. Aku berpikir maka aku ada kata Descartes, sesuatu yang tidak dipikirkan sama dengan tidak ada, kata Socrates.

Friederich Hegel mengemukakan bahwa filsafat adalah cermin bagi sejarah. Melaluinya manusia bisa memikirkan sesuatu mendahului pengalamannya. Memikirkan sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat atau didengarnya.

Maka tidak mudah untuk mengatakan bahwa manusia berpikir yang dengan sendirinya berfilsafat bisa mengalami sejarah yang terputus dalam kehidupannya. Mengapa begitu? Sebab manusia punya cara cerdik untuk menyambung hidupnya berikut seluruh kenangan, catatan peristiwa dan sejarah dirinya sendiri dalam sebuah lagu.

Lagu adalah cara cerdik manusia untuk mengintegrasikan pikiran dan perasaannya serta membawa seluruh kenangan ikut serta di dalamnya melintasi segala zaman. Oleh sebab itu ada istilah tembang kenangan, golden hits, dan istilah-istilah lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Music Selengkapnya
Lihat Music Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun