Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil

https://www.youtube.com/channel/UC23hqkOw50KW12-6OHvnbQA

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Satu Jam bersama "Abdi Dalem", Aparatur yang Tidak Pernah Pensiun

29 September 2019   16:59 Diperbarui: 30 September 2019   09:34 1258 10 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Satu Jam bersama "Abdi Dalem", Aparatur yang Tidak Pernah Pensiun
Ilustrasi Abdi Dalem, di Pelataran Keraton Yogyakarta (dokpri)

Demi memanfaatkan sedikit sisa waktu pada hari di mana saya akan kembali pulang dari Yogya, saya mengunjungi Keraton Yogyakarta dan Museum Kereta.

Saya memilih destinasi wisata budaya dan sejarah itu, selain karena dekat dengan tempat saya menginap, juga karena alasan khusus yang lain. Saya ingin bertemu dengan abdi dalem.

Alasan ini dilatarbelakangi oleh fakta sejarah yang baru saja saya ketahui, bahwa ternyata Sultan Hamengku Buwono (HB) IX adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tidak tanggung-tanggung, dia adalah PNS pertama di Indonesia. Sultan HB IX menjadi PNS terhitung mulai tahun 1940 yang lalu.

Abdi dalem adalah sebutan bagi orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan sultan dengan mengikuti segala aturan yang ada. Sebagai pelayan keraton dan sultan, abdi dalem tidak mengenal hari libur.

Sebagai pelayan keraton dan sultan yang tidak mengenal hari libur, tentu saja abdi dalem sangat mengenal keseharian kehidupan sultan. Saya mengunjungi keraton, untuk mencari tahu sejauh mana para abdi dalem mengetahui fakta, bahwa sultan adalah juga seorang abdi nusa bangsa dan abdi masyarakat.

Sultan HB IX pernah juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri Republik Indonesia dalam kabinet Ampera, pada masa pemerintahan Presiden Sukarno. Selanjutnya, beliau juga pernah menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada masa Kabinet Pembangunan I, yakni pada masa-masa awal ketika Republik Indonesia dipimpin oleh Presiden Suharto.

Sultan HB IX dilantik menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang kedua pada 23 Maret 1973, dan menjabat hingga tahun 1978. Beliau lahir pada tahun 1912 dan meninggal pada tahun 1988 dalam usia 76 tahun. Dengan demikian, Sultan menjadi PNS pada usia 28 tahun.

Tentu saja, sesampainya di keraton saya tidak langsung sembarang menodong para abdi dalem dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja sama sekali tidak relevan dengan tugas dan peran mereka. Saya menyempatkan diri berkeliling keraton.

Saya sempat melihat-lihat Bangsal Mangunturtangkil, yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan pelantikan Sultan. Aula ini terakhir digunakan pada saat pelantikan sultan yang "berkuasa" saat ini, Sultan HB X, pada 7 Maret 1989.

Sementara itu, di ruangan yang memajang foto-foto kereta kuda milik karaton, setidaknya ada 12 foto kereta keraton dengan berbagai bentuk dan ukuran. Di ruangan sebelahnya, ada foto-foto Sultan Keraton Yogya. Sultan yang pertama sampai yang ketiga tidak memiliki foto, maka di sana hanya terpampang foto Sultan IV hingga X.

Saya bertemu dengan seorang abdi dalem yang bertugas di museum kereta. Ia adalah pak Suhardi. Beliau menjadi abdi dalem sejak tahun 1978. Salah satu kenangannya terhadap Sultan HB IX, adalah ketika pada tahun 1985, Sultan menganugerahinya nama Mas Wedono Joyo Runtiko.

Bersama Pak Suhardi, Abdi Dalem di Museum Keraton, Yogyakarta (dokpri)
Bersama Pak Suhardi, Abdi Dalem di Museum Keraton, Yogyakarta (dokpri)
Kata wedono bisa diartikan sama dengan sebutan untuk jabatan Camat, yang memimpin unsur perangkat daerah kecamatan di sebuah wilayah pemerintahan Kabupaten atau Kota di Indonesia saat ini. Sedangkan untuk namanya sendiri, Joyo berarti kemenangan, dan Runtiko berarti pagar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN