Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Aquaman", Pesan Moral tentang Pelestarian Lingkungan dari Penguasa Atlantis

19 Desember 2018   02:59 Diperbarui: 19 Desember 2018   07:30 1186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai narasi pembuka dalam film yang berjudul Aquaman ini adalah sebuah kutipan tentang laut dari penyair Jules Verne, bahwa laut adalah perwujudan dari sesuatu yang supranatural dan luar biasa, katanya:

"Letakkan dua perahu di lautan, tanpa angin dan gelombang, mereka akan tetap berdekatan."

Ungkapan yang bagi saya terasa sebagai simbolisasi pesan bahwa berbicara tentang laut berarti berbicara tentang hidup dan hubungan-hubungan dalam kehidupan.

Saya tidak akan melakukan tinjauan atas profil karakter atau plot cerita yang sudah banyak dilakukan oleh penikmat maupun kritikus film yang juga ada di kompasiana. Saya lebih tertarik memparafrase narasi menarik yang saya temukan sepanjang film sebagai sebuah pesan moral tentang lingkungan.
Berbicara tentang lingkungan tentu tidak terlepas dengan dunia fisik sebagai lokus atau wilayah tempat berlangsungnya suatu peristiwa. 

Dalam film ini tentu saja lokusnya adalah laut, ada juga daratan, dan sebuah tempat lagi yang dulunya merupakan daratan, namun akhirnya tenggelam ke dasar lautan. Sebuah tempat yang bernama Atlantis, benua yang hilang dalam catatan mitologi Yunani kuno.

Untuk menjembatani hubungan antara cerita film yang bersifat fiksi dengan pesan moralnya yang nyata, maka perlu kiranya sedikit tinjauan tentang mitologi Atlantis, sebagai sebuah pengantar.
Setidaknya koleksi memori saya tentang cerita Atlantis mulai sejak kisahnya diangkat dalam sebuah artikel pada majalah bulanan Kartini edisi tahun 1990-an yang sudah punah. Kalau tidak salah judul artikel itu adalah: Tenggelamnya Benua Atlantis.

Jika membayangkan bahwa Atlantis memang benar sebuah fakta, maka setidaknya menurut catatan Plato (427-348 SM) yang menyebut namanya pertama kali dalam buku Timaeus dan Kritias, yang ditulis tahun 360 SM, saat umur Plato 67 tahun.

Pada buku Timaeus, Plato berkisah:
“Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar. Dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya. Di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena. Namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir. Tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut. Negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam."


Sementara itu, kalau menurut catatan Plato dalam Kritias, Atlantis dulunya mungkin terhampar di seberang pilar-pilar Herkules, sebuah tempat yang pada masa kini diduga sebagai selat Gibraltar di sekitar perairan Mediterania, dekat Pulau Kreta.

Dalam catatan Plato itu juga digambarkan bahwa Atlantis adalah bangsa yang hidup pada zaman peradaban perunggu tinggi, sezaman dengan bangsa Aegea, Minoa, Mycenaea, Hittie, Mesir dan Babylonia.

Pada masa keemasannya juga Atlantis menaklukkan mulai dari Libya hingga Mesir, sebuah kerajaan yang dalam film ini dinamakan kerajaan Deserter, gurun. Juga menaklukkan Eropa sampai Tirenia, mungkin itulah yang dinamakan kerajaan Trench yang berada di lautan Tirenia.

Bahkan, pada tahun 1966, seorang arkeolog Yunani menyimpulkan bahwa Pulau Santorin, lebih kurang 96 km sebelah utara Pulau Kreta adalah Atlantis yang dimaksudkan Plato, yang mana berdasarkan catatan sejarah mengalami bencana ledakan dahsyat gunung api pada tahun 1500 SM.

Terlepas dari kontroversi atas pendapat apakah Atlantis adalah fiksi atau fakta, yang jelas cerita ini telah menginspirasi karya-karya penulis zaman Renaisans, literatur modern, mulai dari fiksi ilmiah, hingga komik dan film, seperti Aquaman ini.

Apa yang menarik tentang lingkungan dalam film ini?

Dalam sebuah dialog antara Arthur dengan Mera di Gurun Sahara, dalam pencarian Trisula Orin, Raja Atlantis, sebagai kunci bagi Arthur untuk dapat menghentikan perang antara kerajaan-kerajaan di dalam dunia lautan dan perang antara dunia lautan dengan daratan,  Mera mengkritik kejinya manusia yang hidup di dunia daratan. 

Katanya: "Manusia daratan telah berabad-abad membuang limbah pabrik yang beracun ke lautan, limbah buangan rumah-rumah tangga di selokan yang bermuara ke laut dan mengotorinya dengan sampah yang menggunung di lautan."

Arthur adalah putra mahkota Atlantis yang bedarah campuran, hasil pernikahan Tom, seorang manusia biasa, lelaki penjaga mercusuar, dengan Atlan, sang ratu Atlantis. Sedangkan Mera adalah putri dari Raja Nereus, raja kerajaan Xebel.

Setidaknya ada tujuh nama kerajaan yang disebutkan di dalam film ini, yakni kerajaan Atlantis, Xebel, Deserter, Fisherman, Trench, kerajaan yang hilang di inti bumi dan kerajaan Brine.

Dalam film ini deskripsi tentang penghuni kerajaan Trench dan Brine adalah berupa makhluk monster yang sangat jelek, menakutkan dan ganas. Sebagai makhluk hasil dari proses devolusi. Mungkin berkaitan dengan penurunan kualitas hidup karena tercemar limbah beracun dan berbahaya dari pabrik-pabrik yang telah berlangsung berabad-abad.

Kerajaan Fisherman memang digambarkan dihuni oleh warga yang sebagian merupakan penyair dan filsuf. Makhluk laut yang berevolusi semakin pintar, namun dalam wujud ikan-ikan yang bisa berbicara. Mungkin hasil mutasi akibat tercemar air limbah selokan dan sampah-sampah plastik yang menggunung di lautan.

Kerajaan Deserter bahkan digambarkan hanya tinggal lautan pasir yang tidak lagi menyisakan sedikitpun kehidupan.

Kerajaan yang hilang di inti bumi, memang dihuni oleh makhluk hidup, sebagian dinosaurus dan ada pula monster raksasa penjaga trisula Orin, yang pasti membuat hidup di sana sangat terisolasi.

Sedangkan, kerajaan Atlantis yang dipimpin raja Orm dan kerajaan Xebel yang dipimpin Raja Nereus, memang diisi manusia normal berkekuatan super, namun menggambarkan ilustrasi teori politik sebagaimana deskripsi Plato atas mitologi Atlantis, berisi ambisi untuk saling mengalahkan dan nafsu untuk berkuasa.

Film Aquaman menyisipkan pesan moral, sebagaimana kata Atlantis menjadi sebuah ungkapan untuk menjelaskan semua peradaban prasejarah yang pernah sangat maju, namun akhirnya menghilang.
Maka, seperti celetukan bernada sinis Putri Mera kepada Arthur dalam perjalanan pencarian Trisula Orin, di sebuah ruangan bawah tanah di Gurun Sahara:

"Terkadang pikiran terbaikmu justru dihasilkan saat kau tidak berpikir",

karena kita manusia sudah terbukti bisa sangat merusak bagi alam dan kehidupan manusia sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun