Mohon tunggu...
TauRa
TauRa Mohon Tunggu... Konsultan - Rabbani Motivator, Penulis Buku Motivasi The New You dan GITA (God Is The Answer), Pembicara Publik

Rabbani Motivator, Leadership and Sales Expert and Motivational Public Speaker. Instagram : @taura_man Twitter : Taufik_rachman Youtube : RUBI (Ruang Belajar dan Inspirasi) email : taura_man2000@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Menunda Pilkada Sama dengan "Miskin"

28 September 2020   22:13 Diperbarui: 28 September 2020   22:15 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tunda Pilkada adalah solusi cepat yang bisa dilakukan pemerintah untuk mencegah, atau minimal mengurangi kencangnya laju penyebaran wabah yang terjadi saat ini. Tetapi benar kah itu satu-satunya cara? Jika iya, maka sebaiknya itu dilakukan. Tetapi jika tidak, maka itu juga pilihan yang punya konsekuensi logis.

Menunda Pilkada sama dengan "miskin". Itu yang coba akan kita uraikan sesaat lagi. Tetapi sebelum kesana, saya ingin mengajak kita melihat beberapa hal yang bisa ditangani tanpa "ditunda" dengan pendekatan yang berbeda.

Sekolah dan Kuliah misalnya. Apakah ditunda? apakah pendidikan bisa ditunda akibat sebuah wabah? Tidak. Buktinya setiap orang tetap bisa merasakan pendidikan di tengah wabah saat ini. Ya, pendidikan harus tetap lanjut tanpa ada penundaan. Yang diubah adalah metode atau approach nya. Jika sebelumnya dilakukan melalui tatap muka, maka sekarang diubah menjadi secara virtual.

Pendidikannya tetap lanjut, tetapi pendekatannya diubah. Target nya masih sama, caranya diubah. Terlepas dari kontroversi yang ada didalamnya, tetapi yang jelas metode ini sudah berjalan beberapa bulan dan perlahan banyak kendala sudah mulai teratasi.

Contoh lainnya adalah bekerja di kantor. Jika selama ini bekerja secara live di kantor, maka sekarang dilakukan dengan metode work from home atau bekerja di rumah. Esensi bekerjanya sama, meski cara dan pendekatannya berbeda. Tujuannya tetap sama yaitu mencapai target yang sudah ditentukan perusahaan.

Rasanya dua contoh ini sudah cukup mewakili dan bisa dijadikan argumen awal kenapa Pilkada tetap harus dilanjutan. Pilkada nya tetap sama, tetapi pendekatan dan caranya silakan disesuaikan dengan cara yang sesuai dengan situasi yang ada, itu intinya.

Kenapa? karena kepemimpinan di sebuah kota atau kabupaten terlalu "riskan" untuk hanya dijabat seorang dengan label Pjs atau Pj atau sejenisnya. Sebuah daerah butuh pemimpin yang definitif agar dapat mengeluarkan kebijakan yang definitif pula, termasuk kebijakan terkait penanganan wabah dan sebagainya.

Lalu kenapa menunda Pilkada sama dengan "miskin" sesuai dengan judul di atas?

Ya, jika Pilkada ditunda, maka itu sama dengan miskin kreativitas. Menunda hanya mengundur waktu pelaksanaan. Tidak ada jaminan kalau wabah ini akan berlalu cepat (kita tetap berdoa agar secepatnya berlalu). Pertanyaannya, bagaimana kalau wabah ini terus akan ada? sampai berapa lama akan ditunda? apakah kekosongan kepemimpinan di suatu wilayah tidak termasuk hal yang mendesak untuk dipenuhi?

Kita harus ingat, tentu kita punya argumentasi kenapa harus Pilkada ditunda. Tetapi pemerintah juga punya argumentasi kenapa Pilkada harus tetap dilanjutkan dengan agenda yang sudah ditentukan. Adalah hal yang lebih penting dibanding sekadar menunda yaitu menggunakan kreativitas Pemerintah untuk bagaimana caranya tetap melaksanakan Pilkada, tetapi dengan keamanan dan protokol kesehatan yang tetap dijalankan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun