Mohon tunggu...
Taumy Firman
Taumy Firman Mohon Tunggu...

Alumni Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Diponegoro, Semarang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Asa Anak Pesisir Tambu

2 Maret 2019   22:45 Diperbarui: 2 Maret 2019   23:41 0 0 0 Mohon Tunggu...

Gontai langkah kecil di atas pasir pantai berwarna hitam akibat gelap subuh. Belum tampak aktivitas warga pantai disepanjang jalan yang kulewati menuju tempat pelelangan ikan. Tepat di sisi kiri bangunan, terpampang papan nama bertuliskan "Kawasan Perlindungan Laut" dengan peta tanpa skala beserta desa-desa disekitarnya. Sekitar 5 meter dari tempatku berdiri, terdapat dermaga kayu menjorok ke arah laut.

Sekitar 10 menit terdiam di atas dermaga menunggu matahari terbit hingga lazuardi berubah jingga sepanjang bentang khatulistiwa. Aku bergegas, membawa gayung berwarna merah bata, terbuat dari kemasan bekas pelumas 5 liter yang bagian atasnya dimodifikasi menggunakan kayu dan tali agar bisa untuk menimba air nantinya.

Di sepanjang jalan menuju tempat pemandian, hanya ditemani riak air laut dan hutan mangrove. Tepat diujung sana, terdapat jalan setapak dengan jembatan kecil dari batang pohon sagu. Jalan ini merupakan akses utama menuju tempat mandi berbentuk kolam terbuka, ukurannya tidak lebih dari 2 x 2 meter persegi. Dari sini, sumber air untuk mandi dan mencuci pakaian seluruh warga Pantai Tambu. Hampir setiap hari, hanya ada kami berempat yang selalu setia mandi di kolam terbuka. Aku dan La-tang, sobat seperjuanganku di tingkat akhir SMP dan dua adik kelasku. Semua proses mandi harus terselesaikan dan balik ke rumah sebelum pukul 6 pagi.

Hari senin merupakan hari pertama ujian akhir nasional tingkat SMP. Sengaja benar pagi-pagi menuju sekolah dengan jarak 5 kilometer dari tempat tinggal, agar bisa melihat ruangan tempat ujian yang akan diisi berdua puluh orang. Perasaan ragu, gugup dan kekhawatiran terlihat dengan jelas diraut wajah, bahkan rasa itu semakin membuncah saat lonceng dari rongsokan besi toko tukang service motor berbunyi nyaring. Ini lah saat penentu itu. Tanpa perlu disuruh, kami berbaris di depan kelas, 3 berbanjar menanti guru penjaga ujian tiba.

 "Selamat pagi pak guru" serentak salam kami ucapkan.

Pak Widiana selaku guru pengawas pun tersenyum menjawabnya, sambil menganjak berdoa sebelum ujian dimulai.

Tanpa perlu memperpanjang waktu lagi, satu per satu kertas soal dan jawaban dibagikan untuk mata pelajaran IPA. Ada 50 soal dan jawabannya diisi dengan memberikan tanda silang pada pilihan A, B, C atau D. Seketika itu pula, ruangan menjadi hening, hanya ada suara lembaran soal yang dibolak-balik. Sesekali terdengar suara soal-soal yang dibaca berulang-ulang oleh La-Tang, entah karena dia tidak paham maksud soalnya atau memang La-Tang tidak mengetahui jawabannya.

Sudah delapan puluh menit, raut muka mulai memerah, kernyit pada dahi benar-benar tercetak dengan jelas. Suara ujung pensil di atas kertas jawaban semakin ramai. Semua mulai sibuk membolak-balikan kembali lembaran soal dan memastikan lembar jawaban sudah terisi sempurna.

"Tinggal 5 menit lagi" suara lantang dari pak Widiana sempurna membuyarkan pikirin seluruh penghuni kelas. Aku pun sendiri sudah selesai sebelum 5 menit itu terucapkan sambil menunggu lonceng kembali berbunyi, sebagai pertanda akhir ujian.

"La-Tang bagaimana tadi, bisa tidak?" percakapan aku buka.

 "Lumayan, meskipun panik ketika pak Widiana mengucapkan tinggal 5 menit, langsung saya silang sepuluh nomor agar terisi semua" ujar La-Tang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3