Mohon tunggu...
Taufiq Sentana
Taufiq Sentana Mohon Tunggu... Guru - Pendidikan dan sosial budaya

Praktisi pendidikan Islam. peneliti independen studi sosial-budaya dan kreativitas.menetap di Aceh Barat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengingat Tardji, Presiden yang Mabuk

29 Juli 2021   12:10 Diperbarui: 29 Juli 2021   12:36 26 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengingat Tardji, Presiden yang Mabuk
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Masyarakat sastra Indonesia pada bulan lalu  mengapresiasi ulang tahun ke 80 penyair Sutardji Calzoum Bahri, tepatnya tanggal 24 Juni 2021. Belum ada saya baca berita tentang itu, tapi mengingat posisi dan capaiannya, tentulah ada sedikit seremoni ala normal baru sekarang.

Para pengamat banyak menyebut Tardji sebagai lokomotif pembaru puisi modern Indonesia setelah Chairil Anwar. Tardji mulai dipertimbangkan dengan kredo/prinsip karyanya yang membebaskan kata kata dari makna, dengan maksud memungkinkan makna baru. Iapun melekatkan kembali puisi pada mantra (semacam bagian dari asal puisi). Selain dari pilihan kata yang bebas, iapun memperhatikan tipografi, bentuk tampilan puisi, ada yang kotak bersegi, tangga, pot, zig zag dan beberapa lainnya.

Disebut pula bahwa gaya membacanya pun seperti membaca mantra. Adapun perihal mabuknya dipanggung saat tampil, telah diakuinya sebagai kesalahan dan menjadi bagian dari  percariannya.  Bahkan puisinya pun yang banyak “menyimpang ” dari puisi umumnya, dianggap para ahli sebagai wujud pencarian Tuhan. Belakangan, esai dan puisinya mengerucut pada rasa spiritual dengan irisan gejala sosial dan kehidupan masyarakat kita.

Maka iapun telah dikenal sebagai pembawa warna baru perpuisan Indonesia, gelar Presiden Penyairpun disandangnya,  dan sepertinya belum ada suksesi akan itu. 

Banyak penghargaan dan undangan sastra yang telah ia terima pula, yang bisa diakses bebas dengan mesin pencari google. Tiga kumpulan puisinya yang terkenal adalah  O, Amuk dan Kapak.

Adapun penulis, mulai akrab dengan namanya sejak 1995, lewat buku buku di pustaka pesantren dan beberapa yang dibeli sendiri. Gaya pemilihan katanya  yang bebas,  sempat memengaruhi pendekatan awal saya dalam menulis puisi.
 
Berikut ada puisi Tardji dengan judul ” O”

dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

Demikianlah sekelumit catatan tentang  Presiden penyair Indonesia. Dari catatan ini kita bisa belajar tentang usaha pembaruan yang mesti terus dilakukan, mempertahankan kualitas(gaya khas), terus berkarya dan interaksi dengan Tuhan juga mesti dipelihara dan ditingkatkan.[]

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN