Mohon tunggu...
Taufik Uieks
Taufik Uieks Mohon Tunggu... Dosen - Dosen , penulis buku travelling dan suka jalan-jalan kemana saja,

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Dari Hindu Menuju Islam Jawa di Tugu Yogya

22 Juli 2022   21:07 Diperbarui: 22 Juli 2022   21:17 723
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Tugu Golong  Gilig," demikian tulisan yang tertera di atas dinding setinggi sekitar 4 meter. Di depan dinding ini ada replika tugu berwarna putih diapit relief dengan latar belakang marmer hitam.

Anehnya bentuk replika tugu Golong Gilig ini berbeda dengan bentuk Tugu yang ada di tengah perempatan jalan dan dikenal dengan nama Tugu Pal Putih.

Di sini juga ada maket Sumbu atau Poros filosofis yang merupakan garis lurus dari tugu, Kraton hingga ke selatan di Panggung Krapyak.  Kompleks Keraton juga dilengkapi dengan 4 buah pojok Beteng .

Relief : Dokpri
Relief : Dokpri

Tiga buah prasasti berisi informasi menjelaskan sekilas mengenai monumen yang ada di sini:

Prasasti pertama menjelaskan mengenai  Tugu Pal Putih atau De Witte Pal te Jogjakarta .  Ada denah Penampang tugu lengkap dengan ukuran dan tinggi masing-masing bagian yang terdiri dari selasar, kaki, tubuh, kepada, dan kemuncak. Tinggi tugu secara total sekitar 12.4 meter dengan lebar bagian bawah 8,8 meter.

Prasasti : dokpri
Prasasti : dokpri

Dijelaskan bahwa Tugu Golong Gilig yang asli dibangun pada 1755 dengan bentuk Golong (bulat ) di puncak  dan Gilig (Silinder) pada tubuhnya . 

Tugu ini   runtuh akibat gempa pada 10 Juni 1867 dan baru pada 1889 Sultan HB VII memerintahkan tugu ini untuk dibangun kembali.

Residen Belanda saat itu Y Mullemester dan dibiayai oleh Patih Danurejo V.  Tetapi bentuk rancangan ny berbeda dengan yang asli.  Tugu Baru yang diberi nama Tugu Pal Putih ini diresmikan pada 13 Oktober 1889 dan ditandai dengan Candra sengkala "Wiwara Harja Manggala Praja" yang menunjukkan tahun Jawa 1819.

Penjelasan seperti di atas dapat dibaca pada keempat sisi prasasti pada tugu yang ditulis dalam aksara Jawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun