Mohon tunggu...
Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Mohon Tunggu... Akuntan - Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Perlombaan Mencari Ampunan

19 Mei 2022   15:52 Diperbarui: 19 Mei 2022   15:58 65 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
unsplash/mufid-majnun

Hagemoni lebaran telah usai, semua telah tertulis dalam kenangan masing-masing setelah sekian tahun peristiwa mudik lebaran dan berkumpul bersama keluarga terbatasi karena pandemi. Kerinduan telah terobati, hingga kini aku, kita, dan mereka kembali menabung rindu demi mencari penghidupan. Kembali berlomba tidak hanya demi hal-hal yang baik, akan tetapi juga berlomba demi untuk mendapatkan ampunan kembali.

Sebab dalam perjalanan ini, tidak semua yang akan kita lakukan akan berbuah kebaikan. Akan selalu datang banyak ujian yang menguji diri, baik itu terkalit kelaparan, ketakutan, ataupun tentang kekurangan. Sehingga hal tersebut tak ayal membuat diri seringkali lalai. Sekalipun, kita sudah merasa telah berjalan dan melakukan hal yang baik, bahkan telah waspada terhadap segala sesuatunya. Tapi, tidak semua akan berjalan sesuai dengan rencana.

Justru, perasaan merasa atau "rumongso" baik acapkali menjadi jalan masuk bagi hal-hal yang buruk. Karena dalam kebaikan itu, kita akan benar-benar diuji. Hal ini sama seperti kita sedang menempuh suatu bab pelajaran, maka Sang Guru pun akan memberikan ujian kesulitan sesuai dengan bab yang sedang dipelajari oleh muridnya. Untuk mengetahui, seberapa dalam mereka telah mendapati ilmu untuk mengatasi ujian tersebut.

Lantas, ujian-ujian itu dalam kehidupan bermanifestasi ke berbagai permasalahan yang masing-masing kita hadapi sehari-hari. Ujian yang sudah dipersiapkan bahkan sebelum kita diciptakan. Dan segalanya itu sangatlah mudah bagi Sang Maha Pencipta. Pertanyaannya, apakah keadaan itu mempersulit hidup kita, ataukah pada akhirnya justu kita akan mendapat banyak kemudahan?

Dan lihatlah saat musim gugur datang, bunga-bunga itu mati. Namun setelahnya saat musim semi datang, mereka kembali bermekaran dengan indahnya, sebelum akhirnya gugur kembali. Semua itu memiliki putaran roda kehidupannya sendiri apabila kita memperhatikannya dan juga membacanya. Tidak hanya membaca ayat-ayat yang tertulis, akan tetapi juga membaca ayat-ayat yang tidak tertulis melalui semesta kehidupan yang begitu luas, baik di langt maupun di bumi.

Ya, sebenarnya dalam hidup ini, kita telah dipenuhi oleh balutan nikmat. Meskipun terselip diantaranya duka-duka lara yang melalaikan. Sementara kita, terkadang terlalu sombong dengan tipu daya perasaan ataupun prasangka.

"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (57:23)

Dan sudah berapa banyak kita menyombongkan diri? Baik sadar atau tidak sadar? Sudah berapa banyak kata-kata itu terlontar, tanpa pernah dipikarkan dahulu konsekuensinya. Sudah berapa banyak hati terlukai, tanpa pernah kita ketahui bahwa kita telah membuat perasaan yang lain sakit. Sudah berpa banyak kita terlalu sibuk akan hal-hal yang menurut kita baik, sedangkan di saat yang sama kita lalai untuk meminta ampunan.

Tidak semua hal menjadi sesuatu yang kita sukai bahkan membencinya, sehingga tak sadar akan menyebabkan kita berlaku tidak adil kepadanya. Padahal, sesungguhnya rasa adil itu sangatlah dekat dengan taqwa (kewaspadaan). Bukankan dalam mencinta pun akan selalu terkandung perasaan suka, sekaligus benci?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan