Mohon tunggu...
Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Mohon Tunggu... Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Menghikmahi Puasa dan Berbagi Kebahagiaan Menyambut Fitri

9 Mei 2021   20:35 Diperbarui: 9 Mei 2021   20:49 287 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menghikmahi Puasa dan Berbagi Kebahagiaan Menyambut Fitri
foto oleh @pieu_kamprettu

Dalam suasana Ramadhan, dulur-dulur nampak masih antusias untuk duduk dan sinau bareng dalam rutinan Maneges Qudroh ke-123 yang diselenggarakan di Panti Daruus Sundus, Borobudur. Ba'da tarawih, satu per satu dulur mulai berdatangan membawa energi cinta untuk memaknai tema rutinan "Puasa: Menuju ke Kampung Keabadian". Jadwal dan waktu yang tertera dalam poster hanya menjadi penanda adanya kegiatan, karena khusus dalam bulan ini banyak yang harus ditimbang kembali mengingat ragam aktivitas di lingkungannya masing-masing.

Ketika dulur yang datang dirasa sudah cukup, acara pun segera dimulai sekitar pukul 21.00 dengan pembacaan surah An-Nur oleh Mas Kirun. Lantunan nada yang dibawakan cukup eksotis untuk mendatangkan aura-aura yang positif sebagai pintu acara pada malam ini. Lalu dilanjutkan dengan melakukan wirid dan sholawat Munajat Maiyah bersama-sama, sebagai pondasi dan pengingat kebersamaan kita pada rutinan ini sebagai salah satu upaya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan kekasihNya.

Sekalipun dalam lingkup Maneges Qudroh sendiri dengan aktivitas wirid dan sholawat yang sering dilakukan, namun tak nampak raut kebosanan ataupun kejenuhan dengan perjalanan aktivitas tersebut. Justru yang terlihat kegiatan ini seolah menjadi peristiwa mesditasi tersendiri bagi dulur-dulur yang sering melakukannya bersama. Katarsis-katarsis itu selalu menerangi para pejalan tertentu yang  cahanya terpantul melalui gesture bahasa tubuh ketika bermunajat.

Pak Dadik sebagai peramu mukadimah tema acara, mulai mmeberikan penjelasan terkait bahasan yang akan dijadikan landasan sinau bareng. Beliau menjelaskan bahwa sebagai manusia, tentunya ketika kita berpuasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum saja. Ada hal lain yang perlu ditahan, utamanya terkait dengan hawa nafsu. Menyadur dari buku "Tuhan pun Berpuasa" tentang spektrum rasa yang dipaksa untuk berpuasa, Pak Dadik pun mengajak dulur-dulur yang hadir untuk menggunakan terminologi yang sama dalam memandang makna puasa. Dengan harapan kita mampu selamat dalam kembali pulang ke kampung keabadian.

Kemudian Pak Eko sedikit memberikan respon terkait tema dengan menjelaskan kaitannya dengan surat Al-Baqarah ayat ke-183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Menurut Pak Eko, tidak hanya puasa, bahkan semua ibadah yang kita lakukan bukan lain hanya untuk menambah kadar ketaqwaan kita terhadap Allah Swt.

Masih menanggapi terkait tema, Pak Sholeh juga mencoba memberikan gambaran penghikmahan puasa melalui induk ikan arwana yang tetap tidak mau makan selama telur-telurnya belum menetas. Dan masih banyak lagi tentunya contoh-contoh laku manusia yang tidak hanya dilakukan oleh manusia. Pak Sholeh menembahi bahwasanya untuk memulai sesuatu perbuatan baik itu mudah, namun untuk menjaganya agar tetap istiqomah itu yang menurut beliau tidak mudah. Seperti halnya dengan goal kita berpuasa untuk menuju fitri, urusannya tidak hanya secara dhohir tapi juga kesiapan hati. Pak Sholeh memungkasi kalau hati kita masih kegondelan hal-hal duniawi, hal tersebut akan menjadi beban yang berat ketika menghadap ke haribaan-Nya.

foto oleh @pieu_kamprettu
foto oleh @pieu_kamprettu
Puasa untuk Menapaki Puncak Ridlo

Setelah tadi bermunajat cukup lama dan langsung dilanjutkan sesi pertama tadi, lantas digulirkan sebuah hiburan dari Mas munir dengan musikalisasi puisi "Sekuntum Laila"-nya untuk mencairkan suasana yang mulai terlihat serius. Sembari menikmati kopi ataupun jajanan yang sudah tersedia, ataupun dengan menyalakan sebatang rokok dan meresapi sebagian pemikiran yang sudah tertangkap. Semua dulur memiliki cara terbaiknya sendiri untuk menikmati hiburan yang diberikan oleh Mas Munir.

Pak Adi sebagi moderator kemudian langsung mengajak para dulur yang hadir untuk aktif memberikan respon. Bahkan dengan sedikit melakukan strategis, Pak Adi menunjuk wakil dari kelompok yang sudah terbentuk dalam workshop bulan kemarin. Gayung bersambut dan tak perlu menunggu waktu lama, masing-masing perwakilan turut memberikan tanggapan dan pertanyaan yang nantinya bisa diberikan tanggapan oleh narasumber utama pada malam hari ini, yakni Gus Iwan Mujab.

Dari kelompok pelajar, Mas Toing menjelaskan dari apa yang telah dibaca dari buku "Tuhan pun Berpuasa", bahwa puasa itu menahan diri dan tidak mengambil segala sesuatu yang sudah tersaji dihadapan kita. Andaikata puasa itu merupakan sebuah latihan, lalu kapan ujiannya? Pak Nonang yang merasa dirinya "pernah berkeluarga" mengatakan bahwa dirinya sampai sekarang pun masih merasa sebatas belajar puasa dan tidak akan pernah khatam dengan puasa. Namun, Pak Nonang memiliki harapan bahwa proses belajar puasa terus-menerus ini pasti ada apresiasi atau hasilnya.

Kemudian sebagai wakil dari yang sudah berkeluarga, Mas Kirun mencoba mengaitkan puasa dengan rasa sabar. "Sabar itu kadar olah rasanya sepiro?" tanya Mas Kirun. Karena tentu ada situasi saat bagaimana harus bersikap nuruti dan tidak menuruti. Misalnya ketika memakai kalimat pernyataan dari Mbah Nun, bencilah aku setinggi gunung, maka akan kubalas cinta setinggi langit. Mas Kirun lantas menyimpulkan kalau jangan-jangan sabar sendiri merupakan sebuah laku puasa. Dan untuk meminimalisir mudarat yang diakibatkan, apakah puasa dalam bentuk sabar terdapat toleransinya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN