Mohon tunggu...
taufan satyadharma
taufan satyadharma Mohon Tunggu... Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Joker dan Sengkuni

5 April 2019   14:45 Diperbarui: 5 April 2019   14:49 0 0 0 Mohon Tunggu...
Joker dan Sengkuni
Sengkuni dan Joker

Di luar hujan deras dan AC sore ini masih menunjukkan angka maksimal dengan mode freeze-nya. Tidak bisa saya sangkal bahwa hawa tersebut terasa dingin. Namun, tiba-tiba saya ingat kata salah seorang begawan, "Bukankah dingin itu terasa karena hilangnya kehangatan?". Sontak pikiranku mengarah ke segala sumber kehangatan di tengah kepungan hawa dingin tersebut.

Sembari mengungkum diri dalam jebakan zaman sembari scroll atas-bawah, kanan-kiri. Kekosongan ini sedikit mengabarkan kepadaku,

"Hey, kenapa kamu ingin pulang?"

"Coba lihat, semua memandangmu seolah menanti kematian." imbuhnya.

"Seorang figur seperti Joker saja mesti menyembunyikan ketegarannya di bilik sebuah 'happy face' yang sangat viral akhir-akhir ini." Jawabku nglantur. "Apakah kamu masih menganggap Joker gila? Lalu bagaimana dengan Si Sengkuni?" lanjutku semakin ngawur dengan membayangkan apa yang dialami seorang Joker belum ada apa-apanya dengan peristiwa psikologis yang mesti dijalani oleh soerang Sengkuni. Dan sedari awal mungkin hanya saya saja yang terlalu berhalusinasi membandingkan 2 karakter ini pada tempat yang sama.

Joker dan Sengkuni selama ini memang sering dimaknai sebagai seorang tokoh antagonis yang sering menjadi lawan kebaikan alias jahat. Apa yang dialami oleh seorang pelukis dan keluarganya yang ditolak tinggal di sebuah lingkungan yang telah bersepakat bahwa selain nonmuslim dilarang tinggal di daerah tersebut adalah gambaran dimana semua warga daerah tersebut seperti terjebak dengan kebenaran buta.

Kenapa tidak sekalian pohon, burung, batu, bahkan udara itu tidak kalian usir sekalian! Kalian sangat rasis sekali terhadap manusia yang berbeda keyakinan denganmu. Pohon nonmuslim itu kenapa masih kau ijinkan tinggal, bahkan kau elu-elukan sebagai sumber kesejukan di daerahmu. Mereka hanya berlagak ingin seperti Batman atau Punakawan saja.

Semua berebut tokoh protagonis dengan melihat syarat untuk menjadi protagonis itu hanya menurut versinya, atau golongannya saja. Yang entah memakai kacamata sudut pandang macam apa. Begitupun dengan Joker dan Sengkuni yang selama ini dipandang jahat hanya karena tindakannya yang berada diluar batas kewajaran manusia normal.

Bagaimana kalau Joker itu salah seorang wali Allah? atau bahkan seorang Sengkuni hanyalah jelmaan seorang Nabi Khidir? Saya disini bisa bercerita sesuai versi saya kan? Toh, pada akhirnya semua hanyalah fiksi. Kita hanya bisa menuduh perbuatannya tanpa melihat panjang perjalanan seperti apa yang telah mereka lalui kebelakang. Bahkan, jika kita melihat Azazil yang katanya Raja Iblis pun ternyata kisahnya sangat menarik. Ibadah orang-orang sok suci yang menolak nonmuslim untuk tinggal di lingkungannya tersebut jika digabungkan tidak akan bisa menandingi lama ibadahnya Sang Raja Iblis.

Sungguh unik memang apa yang terjadi belakangan ini. Bahkan, pemilihan pemimpin negara ini pun bak dagelan yang hanya mempertunjukkan kepintaran bangsa ini. Aku yang kurang pintar hanya terkagum-kagum melihat mereka saling mencemooh karena yang aku pahami mungkin hanya untung atau rugi. Banyak muncul analogi-analogi yang tak masuk akal muncul seperti hujan, yang akhirnya menjadi sebuah kebenaran. Sayangnya, kedaulatan pemikiran bangsa ini telah ter-setting sedemikian rupa agar malas berfikir. Agar kalau bisa makan 3x sehari. Agar kalau tidur jangan malam-malam, minimal 8 jam sehari. Dan sekolahlah yang tinggi agar jadi orang sukses dengan harta dan tahta. Agar menjadi orang terpandang. Menjadi seorang Mulkan Abdiyya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x