Mohon tunggu...
Taufan Azzima
Taufan Azzima Mohon Tunggu...

Non Secolae Set Vitae Discimus. Hehe.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Caleg Atlet, Nasionalisme, dan Melempemnya Prestasi Indonesia

3 April 2014   03:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:09 0 0 1 Mohon Tunggu...

Menjelang pemilihan legislatif 9 April nanti, kita dapati banyak caleg yang berkompetisi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari wakil rakyat petahana, pengusaha, aktivis, hingga selebritis. Dan tak ketinggalan, para atlet atau mantan atlet yang pernah membawa nama bangsa ke ajang internasional. Di antara mereka ini ada, misalnya, Ricky Subagja dan Nil Maizar.

Kita mengenal Ricky Subagja sebagai pebulutangkis legendaris yang pernah meraih Piala Sudirman, Piala Thomas, SEA Games, Asian Games bersama Tim Indonesia, All England, serta medali emas Olimpiade Atlanta 1996. Prestasi Ricky tentunya bukan itu saja. Masih banyak prestasi ia torehkan di berbagai ajang bulutangkis bergengsi lainnya. Maka tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai salah satu legenda bulutangkis Indonesia.

Adapun Nil Maizar, sebagai pemain sepak bola pernah bergabung dengan tim nasional Indonesia Garuda II pada periode 1989-1991. Selain itu, ia juga pernah magang di klub elite Eropa Sparta Prague pada 1990. Setelah gantung sepatu pada 1999, Nil Maizar tidak lantas meninggalkan begitu saja dunia sepak bola. Tercatat, ia pernah menjadi pelatih klub sepak bola nasional Semen Padang. Bahkan pernah menggantikan Alfred Riedl sebagai pelatih tim nasional Indonesia. Selama menjadi pelatih itulah ia turut merasakan kesusahan yang dialami timnas Indonesia lantaran konflik internal PSSI tahun 2012 yang lalu.

Dari rekam jejak mereka di dunia olah raga, dan barangkali juga caleg-caleg lain yang berlatar belakang serupa, tentunya kita tak meragukan sumbangsih mereka untuk bangsa ini. Terlebih, bidang olahraga merupakan salah satu bidang di mana nasionalisme sebuah bangsa mengekspresikan dirinya. Setiap kali timnas Indonesia tampil di ajang internasional, misalnya, antusiasme kita pun meningkat untuk menyebut diri sebagai orang Indonesia. Perkara timnas kita kalah dan kita pun kecewa, itu lain soal. Namun yang jelas, laga atlet-atlet kita mewakili nama bangsa di berbagai kancah olahraga selalu bisa memancing jiwa nasionalis kita. Oleh karena itu, membangun olahraga nasional merupakan upaya yang selalu lebih dari sekadar mencari medali atau piala.

Namun sayangnya, dasawarsa terakhir kita seperti mengalami “kejatuhan” di dunia olahraga. Prestasi demi prestasi memang masih kita dapatkan, meski cuma sesekali, namun kejayaan di masa lalu, seperti kejayaan bulutangkis di kancah internasional atau kedigdayaan timnas sepak bola kita di kancah—setidaknya—Asia Tenggara, terasa sebagai memori yang sudah sangat jauh di belakang sana.

Saat ini kita tentunya berharap Indonesia kembali berjaya di kancah olahraga. Namun kita semua sadar, peluang itu tak mungkin terwujud dengan semata-mata mengandalkan “bibit-bibit” atlet unggul di antara 200-an juta penduduk Indonesia. Satu sistem pengelolaan yang baik, terutama pembinaan, amat berpengaruh terhadap kemajuan olahraga nasional. Dan satu hal ini sifatnya “sistemik”; selalu membutuhkan campur tangan yang sifatnya politis. Tanpa kepedulian dari pemerintah dan kebijakan-kebijakan yang pas, “bibit-bibit” unggul yang kita miliki takkan pernah terbangun dengan baik untuk menjadi atlet yang siap merebut prestasi di gelanggang-gelanggang dunia.

Oleh karena itu, kita tentu berharap usaha para atlet senior atau mantan atlet untuk masuk ke dunia politik sebagai caleg dalam pemilu kali ini dapat berpengaruh baik ke dunia olahraga kita nantinya. Jika mereka terpilih, semoga akan lebih banyak kebijakan-kebijakan yang diformulasikan dengan baik untuk membangun olahraga nasional. Toh kiprah sebagai atlet membuat mereka paham benar apa yang kita butuhkan di bidang olahraga.

Tinggal nantinya, ketika sudah berhasil duduk sebagai legislator, semoga mereka bisa mendayagunakan akses politik itu untuk melakukan yang terbaik baik bulutangkis kita, bagi sepak bola kita, dan bagi cabang-cabang olahraga lain di mana kita pun memupuk nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Rujukan: