Mohon tunggu...
tatang sunendar
tatang sunendar Mohon Tunggu...

saya seorang trainer bagi pendidik dan tenaga kependidikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pendidikan Negara Kita Monoton, Apanya yang Monoton Pak Jokowi ?

30 Oktober 2017   01:06 Diperbarui: 30 Oktober 2017   01:33 0 1 0 Mohon Tunggu...

Menarik apa yang presiden Jokowi sampaikan saat upacara  hari sumpah pemuda di Istana Bogor yang disElenggarakan secara santai namun penuh makna, saat dialog dengan pemilik ruang guru presiden  selanjutnya mengulas dengan panjang lebar bahwa pendidikan kita ini monoton,bukan kali ini saja presiden jokowi mencubit dunia pendidikan kita. Seperti perlunya penyempurnaan kurikulum yang memperkuat pendidikan vokasi. Perlu adanya mata kuliah tentang meme di perguruan tinggi, peran lulusan IPB, UNPAD  dan perguruan tinggi lainnya saat memberikan kesempatan bicara di suatu kampus  yang dkunjungi beliau.

Saat bedialog dengan  pemuda kreatif yang merintis aplikasi ruang guru sebuah perusahaan edukasi berbasis teknologi  presiden menyampaikan "pendidikan kita sudah  terlalu terlalu lama monoton, masalah besar kita  adalah georgrafi  kita yang terdiri dari ribuan pulau. Tidak mudah menjangkau dari pusat sampai kepelosok pelosok.Presiden yang mempunyai  banyak sumber informasi sudah barang tentu setiap ucapnnya didasarkan pada data yang akurat tidak hanya asal diucapkan, begiitu pula saat menyampaikan pendididkan negera kita monoton  namun apanya yang monoton ?

Berbicara pendidian kita dikelompokan menjadi pendidikan formal, pendidikan non formal serta pendidikan informal, ketiga jenis pendidikan tersebut mempunyai karakteristik sendiri, banyak faktor yang sangat mempengaruhi  di ketiga jenis pendidikan tersebut, untuk pendidikan formal diantranya  adalah kurikulum,sumberdaya guru, sarana prasarana,  serta banyak faktor lainnya

kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan  mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran yang digunakan  sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tuntutan   pendidikan, kurikulum setiap saat dilakukan penyempurnaan disesuaikan dengan tuntutan jaman, seperti sekarang sedang diilakasanakan krukulum 2013.

pada krukulum 2013 ada tiga hal yang akan dicapai kurikulum yaitu peningkatan karakter, kompetensi serta literasi  dalam peningkatan kualitas karakter pedidikan diarahkan untuk meningkakan iman, taqwa, cinta tanah air,rasa ingin tahu,insisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi  kepemimpinan serta kesadaran sosial dan budaya, penguatan pendidikan karakter merupakan upaya untuk mengahadapi lingkungan yang terus berubah, peningkatan kompetensi diarahkan untuk meningkatkan ketrampilan  berpikir dalam memecahkan masalah-masalah, kreativitas,komunikasi  dan kolaborasi ,sedangkan gerakan literasi diarahkan untuk meningkatkan dalam hal litersi  baca tulis,berhitung,literais sains,  literasi informasi komunikasi  literasi keuangan  serta  literasi budaya dan kewaraganegaraan

dalam masalah sumberdaya guru memang dirasakan masih membutuhkan perhatian yang serius, mengingat kulaitas dan kuanitas  guru guru dinegara kita masih perlu ditingkatkan,   masih ditemukan banyaknya ketimpangan jumlah guru dan siswa bahkan tidak sedikit dalam suatu sekolah guru yang ada mayoritas gurunya honorer yang masih membutuhkan proses pembinaan lebih lanjut mengingat pola rekrutmen yang belum terstandar.

Kalau penulis tangkap  apa yang pak presiden Jokowi sampaikan tentang monotonnya pendidian kita, lebih diarahkan pada proses pembelajaran di kelas yang menurut pengamatannya mungkin masih dilaksanakan tidak semenarik  jika menggunakan teknologi,padahal dalam standar proses pendidikan kita seorang guru didorong utnuk melaksanakan proses PEMBELAJARAN YANG AKTIF,INOVATIF , KEREATIF DAN MENYENANGKAN. 

(PAIKEM)  juga didorong menggunakan strategi,metode.pendekatan mengajar yang bervariatif sesuai dengan karakteristik anak dan lingkungan belajar  namun sekali  lagi dorongan untuk mengajar yang PAIKEM belum seluruhnya  guru guru disekolah sekolah belum melaksnakannya dengan baik. Tapi dengan demikian semoga cubitan pak jokowi menjadi morivasi bagi para pengambil kebijakan, praktisi pendidikan serta pengelola sekolah dan kelas bisa menjadikan bahan pertimbangan untuk memperbaikinya.   Semoga saja