Tasi Nugroho Mauloyo
Tasi Nugroho Mauloyo Penulis

🏰Pp. Al-amien Ngasinan Kediri IAIN KEDIRI, jurusan Hukum Keluarga Islam "Jika kau mengatakan wanita itu lemah maka aku mengatakan wanita adalah Raja bukan Ratu"

Selanjutnya

Tutup

Humor

Antara Keliru Paham, Rasa, dan Nikmat

15 Mei 2019   01:29 Diperbarui: 15 Mei 2019   01:36 28 1 0
Antara Keliru Paham, Rasa, dan Nikmat
Dokpri


Sebagian kecil orang sering meremehkan adanya perhatian yang diberikan padanya. Karena menganggap bahwasanya hal kecil tidak mempunyai arti baginya atau bisa dibilang tidak menguntungkan pada dirinya.  

Memandang dengan mata realistis berdasarkan konsep pemikiran bahwasanya perhatian yang orang lain berikan tidak membuatnya berubah, mungkin bertambah keren, maco atau apalah. Merasa dalam dirinya sudah tidak perlu diperhatikan dengan alasan bahwa dia sudah baik dan juga terkadang ada yang merasa risih tidak mau diperhatikan. 

Orang yang seperti ini sangat disayangkan, padahal diberikanya perhatin merupakan sebuah tanda kasih sayang dengan memberikan nasihat. Mungkin saja tidak mengerti rasanya bagaimana di diamkan, padahal Sakit Yang lebih sakit karena di diamkan. 

Dengan maksud tidak dianggap, bayangkan saja ketika anda berbicara tetapi tidak diperhatikan dan di diamkan saja oleh yang kau ajak bicara. Jika boleh akan ku parut mukanya lalu ku jadikan sambel. Aneh, merasa sok kuat dengan dirinya sendiri dengan tidak menyadari bahwa seorang manusia adalah makhluk sosial yang harus saling berkomunikasi satu sama lain dengan memberikan timbal balik. Setidaknya ketika tidak ingin diperhatikan ya berilah tanggapan senyuman atau bilang iya, agar yang menngajak komunikasibtidak merasa kecewa dengan tujuan untuk menyenangkan orang lain.

Sudah ya tentang perhatianya, jangan baper yang kurang diperhatikan oleh pasanganya. Tidak bermaksud memyinggung hanya saja mengingatkan jangan baperan, hehe. Tentang perhatian ada hubungan dengan sekarang yang terjadi pada kita ini. Karena jarang diperhatikan maka akan diperhatikan dalam tulisan ini. 

Pada bulan Ramadhan yang mulia ini, kita sebagai umat islam dituntut untuk melaksanakan rukun islam yang ketiga yaitu puasa. Yang dikenal dengan istilah jawa yaitu posoan , yang berarti puasa atau menahan diri dari makan dan minum dari sahur sampai buka puasa serta mengekang hawa nafsu untuk menjadi insan yang lebih baik. Lantas mengapa dinamakan posoan? Tidak poso saja? 

Oke, saya jelaskan bahwasanya kata kerja yang tidak dibubuhi kalimat -an berarti belum melakukan pekerjaan atau masih menjadi kata saja. Beda lagi ketika sudah dibubuhi atau di tambah -an maka sedang melakukan pekerjaan, jika dalam kaidah bahas arab disebut fi'il Mudhori' , yang artinya akan atau sedang melakukan pekerjaan. Misalkan seperti Tahlilan, Manakiban, Diba'an dan lain-lain. Cobak kita preteli satu persatu (lepas), kata Tahlil berarti masih berupa tulisan atau teks dan jika ditambahai an atau Tahlilam maka sedang atau sudah melakukan tahlil (baca tahlil), begitu juga dengan manakib, diba'an dll.

Kembali lagi ke posoan, bahwasanya untuk mendapatkan barokah dan pahala kita harus memperhatikan dan melaksanakan aturan-aturan yang dianjurkan bagi orang berpuasa dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dan yang perlu diperhatikan lagi dalam berpuasa adalah niat, merupakan syarat utama untuk melakasnakan puasa. Tanpa adanya niat maka puasa kita hanya akan mendapatkan lapar dan haus saja. 

Selebihnya mungkin bagi yang berbadan gemuk akan sedikit terkurangi menjadi sedikit langsing, hehe. Jadi dalam berniat bukan sekedar ucapan yang keluar dari mulut saja, tetapi niat untuk berpuasa untuk menjadi lebih baik juga harus diperhatikan. 

Mulut mengucapkan, akal membenarkan, hati membenarkan dan juga langkah membenarkan, perlu adanya pemahaman dalam niat. Bukan sekedar mengetahui artinya tetapi juga memahami bahwasanya puasa untuk menjadi lebih baik dari tahun kemarin dan hari esok lebih baik dari pada hari ini, enaknya ngomong seperti itu. Seperti yang banyak dicontohkan oleh para ulama dan kyai ketika berceramah bahwasanya "orang berpuasa itu seperti ngentung atau menjadi kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu yang indah".

Selanjutnya yang perlu diperhatikan selain niat, tentang pernyataan ibumu ketika didapur sedang memasak kolak untuk menu berbuka puasa itupun ketika masih kecil. Jika di ingat-ingat lebih dalam maka mustahil untuk tertawa. 

Adanya salah paham tentang mencicipi makanan untuk mengetahui rasa keasinan atau kemanisan seperti manisnya diriku. Wehh,,, pernah kutanyakan pada ibuku ketika waktu kecil "buk, kulo nyicipi angsal?" Dijawab saja "oleh jajalo". 

Setelah mencicipi aku berkomentar dengan polosnya "ehh, enak buk agak manis wisan" disahut saja sutilku atau alat untuk mengaduk kolak itu "heh, kok gak sampean buwak mari nyicipi?" Dengan santainya aku menjawab "lahh, nggih tak telen buk la nyicipi pripun terusan?", tertawa saja orang-orang disekitarku. 

Lalu ibuku memberitahu "le, nek nyicipi ki cuman dirasakne ning ilat (lidah) mari ngunu di buwak maneh, jawamu melu-melu ibukmu tapi gak ngerti, makane nek ndak ngerti tanglet rien" ..ngaka sajalah bisanya hahaha. Jadi mengenai cicip-mencicip makanan biarlah kaum hawa tugasnya, dari pada akan dicurigai. 

Mencicip hanya merasakan bukan menikmati. Antata merasakan dan menikmati mempunyai perbedaan namun berhubungan. Merasakan merupakan bagian dari kenikmatan atau menikmati. Orang menikmati sudah tentu merasakan tetapi untuk merasakan belum tentu menikmati. Karena terkadang rasa itu bisa membohongi. Jika merasakan hanya ada dilidah namun ketika sudah menyentuh kata menikmati maka tempatnya adalah hati yang tak mampu untuk bohong dan dibohongi..
Wasslam..