Mohon tunggu...
Tamita Wibisono
Tamita Wibisono Mohon Tunggu... Creativepreuner

Here I am with all of my Destiny...perjalanan hidup itu ibarat bianglala kehidupan,tidak selamanya berada di satu titik. pergerakan antara kehidupan di bawah dengan diatas itu sungguh dinamis adanya...dan tiap ruang yang tercipta menjadi inspirasi untuk dijabarkan dalam untaian kata menjadi sebuah karya

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Jika Terlanjur Kalap Belanja Makanan, Sempatkan Berbagi untuk Mereka yang Membutuhkan

2 Mei 2020   23:01 Diperbarui: 2 Mei 2020   23:37 142 14 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jika Terlanjur Kalap Belanja Makanan, Sempatkan Berbagi untuk Mereka yang Membutuhkan
Dok.pri.jelang buka puasa semua ingin dibeli

Padahal sudah masak sendiri, kenapa masih tetap ingin beli ini itu untuk buka puasa? Inikah yang disebut dengan kalap atau lapar mata belanja makanan untuk berbuka puasa??!! Aduh, jangan sesali apalagi menyalahkan diri sendiri. Yuks saatnya berbagi.

Setiap petang menjelang, tak jauh dari hunian banyak lapak dadakan yang menjual aneka makanan untuk berbuka puasa atau yang kerap di sebut takjil. Umumnya para pedagang mulai menata meja portabel mereka dengan aneka macam pada jam 16.00. 

Tak berselang lama, lapak berderet di kanan dan kiri yang ada umumnya menyajikan gorengan, kolak, bubur sumsum, bihun,biji salak, asinan Betawi, arem-arem atau lontong isi oncom hingga aneka es itu mulai ramai didatangi pembeli. Tiap lapak yang ada menjual menu makanan yang hampir sama. Rata-rata mereka menjual mulai dari harga Rp. 1000/biji hingga Rp.5000/kemasan.

Pukul lima sore menjadi puncak keramaian dimana pembeli begitu ramai menyerbu pedagang pilihannya. Suasana petang pun sedemikian menggoda dengan iming-iming aroma dan wujud makanan untuk berbuka puasa.

Tak terkecuali saya. Meski sudah memasak sendiri dirumah, tetap saja singgah untuk membeli apa saja di salah satu pedagang yang ada. Pernah suatu ketika hujan turun dengan derasnya. Hanya karena rasa iba dengan pedagang yang tampak muram, saya pun akhirnya membeli makanan ala kadarnya sekedar menjalankan niat berbagi rejeki.

Dok pri. Menu berbuka antara hasil masak sendiri ditambah beli makanan tambahan lainnya
Dok pri. Menu berbuka antara hasil masak sendiri ditambah beli makanan tambahan lainnya
Seperti sore ini misalnya, saya sudah memasak kolak labu sendiri. Kurma pun sudah tersedia di rumah. Namun karena keinginan untuk menyajikan makanan bercita rasa gurih, saya pun membeli gorengan, dan dimsum. Akhirnya menu berbuka sore tadi terkesan banyak.

Sejatinya sunah nabi mengajarkan pada kita untuk jauh dari kalap dalam berbelanja makanan, khususnya untuk berbuka puasa. Cukup dengan 3 butir kurma saja, air secukupnya menjadi buka puasa yang dibutuhkan bukan yang sekedar diinginkan. Apadaya, meski telah ada kurma, kolak, tetap saja membeli makanan lain sekedar memenuhi keinginan.

Akhirnya, kolak yang saya masak sendiri dengan porsi lebih cenderung tersisih. Ya, kapasitas perut saat berbuka puasa memang harus dijaga. Jangan sampai kalap makan yang justru berakibat rasa sakit kemudian.

Lantas, jika sudah terlanjur kalap belanja makanan, apa yang harus kita lakukan kemudian? Memaksakan diri untuk menghabiskan, jelas sebuah paksaan yang beresiko. Membiarkan makanan tak terjamah, sebuah tindakan kemubadziran. Saatnya kita menebus rasa bersalah dari kalap belanja makanan dengan berbagi pada mereka yang membutuhkan.

Saya pun menyisihkan sebagain kolak hasil masak sendiri dan beberapa gorengan untuk tetangga terdekat. Semangkuk kolak dan beberapa gorengan yang jumlahnya berlebihan, bisa menjadi sarana berbagi bagi mereka di sekeliling kita yang membutuhkan. Daripada terbuang karena tak dimakan? .

Terlebih pada musim pendemi begini, jiwa solidaritas kita harus benar-benar dijaga. Jangan sampai lupa diri kenyang makan untuk sendiri, sementara ada tetangga atau orang lain yang tak bisa makan sesuatu untuk sekedar berbuka puasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x