Tamita Wibisono
Tamita Wibisono ibu rumah tangga multi talenta

Here I am with all of my Destiny...perjalanan hidup itu ibarat bianglala kehidupan,tidak selamanya berada di satu titik. pergerakan antara kehidupan di bawah dengan diatas itu sungguh dinamis adanya...dan tiap ruang yang tercipta menjadi inspirasi untuk dijabarkan dalam untaian kata menjadi sebuah karya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Srikendi Mencari Cinta Episode Persiapan Lamaran

12 Januari 2019   23:20 Diperbarui: 13 Januari 2019   01:02 496 6 1
Cerpen | Srikendi Mencari Cinta Episode Persiapan Lamaran
sumber : Karya sasmitawinata-barli-mutual-art

Cerita sebelumnya ....

Siang yang menyengat di Desa Gagah Dara. Semenyengat kabar akan dilamarnya Srikendi putri semata wayang mbok Lurah oleh Thoyib,pemuda kaya mendadak. Halaman rumah mbok lurah yang bersuami saudagar beras itu tengah dipasangi "terob" alias tenda bukan berwarna biru. Sedari pagi hampir semua pedagang sayur, ikan, daging ayam, telur, hingga jajanan pasar mengalihkan sebagian dagangannya ke rumah keluarga terpandang level kampung itu. Sebagian diborong, sebagiannya lagi pedagang itu berikan sebagai bentuk pelunasan "hutang" yang harus dibayar atas "piutang mbok lurah kepada pedagang itu saat mereka memiliki hajat.

Begitulah sebuah tradisi Kampung. Saat ada seseorang yang hendak punya hajat entah itu Mantu (menikahkan anak), atau Sepitan (sunatan) hingga hajatan lain, maka lazim orang yang punya kemampuan ekonomi berlebih akan titip sumbangan berupa bahan makanan yang dibutuhkan. Biasanya berupa beras, daging ayam, telur, minyak goreng, hingga rokok. Jumlahnya lumayan banyak. Ukuran beras, minimal titip sumbang berkisar antara 25-100 kg. Begitupun telur , minyak dan rokok yang diberikan dalam jumlah hitungan pak.

"mbok, tolong panggilkan pak carik" pinta Srikendi pada sang ibu yang pernah menjabat sebagai kepala desa selama lebih dari 32 tahun.

Mbok Lurah yang tengah sibuk mondar mandir menerima tamu informalnya itu "ngelus dada". Tidak mengerti apa yang menjadi "karep" alias keinginan Srikendi. Anak gadisnya itu mau menerima lamaran si Thoyib dengan syarat ada perjanjian pranikah.

Seumur-umur mbok lurah menjadi Kepala desa di Gagah Dara, baru kali ini dia mendengar ada perjanjian segala. Seperti mau jual beli tanah saja, begitu dia menanggapi kehendak anak perempuannya.

"Kang Carikmu masih di Balai desa, masih ada rapat LKMD, nanti setelah selesai rapat dia baru bisa kesini" terang mbok lurah panjang lebar menjawab permintaan Srikendi.

"Kalo begitu, tolong kasih ini saja ke Pak Carik, minta tolong diketik rapi"

"Nanti malam pas acara lamaran, surat  itu harus sudah siap"

"Kalo tidak ada surat itu, mending lamarannya batal saja" Tangan Srikendi mengulurkan beberapa lembar  kertas berisi tulisan tangan seraya mempertegas apa yang jadi kehendaknya

Mbok lurah menerima kertas-kertas itu dari tangan Srikendi, berulang  tampak ia mengeleng-gegelengkan kepala sembari menarik nafas

"Duh Gusti..paringono sabar" lirihnya

"No...Parno..." Lantang mbok lurah memanggil pesuruh kepercayaan

Laki-laki tinggi dengan perawakan ceking itu muncul tergopoh

"Nggih Bu" seketika Parno sigap dan siap menjalankan perintah mbok lurah

Lengkap mbok lurah memberi arahan atas apa yang harus Parno lakukan.

Parno yang sudah mengabdikan diri sejak kali terakhir mbok lurah menjabat, langung menunaikan apa yang harus dilakukan demi tetap berlangsungnya acara lamaran antara Srikendhi dan Thoyib.

Kaki panjangnya bergegas mengayuh sepeda ontel menuju balai desa. Lembaran kertas yang dia bawa, dimasukkannya dalam tas plastik  berwana hitam. Dicantelkan di sisi kiri pegangan setang. Peluhnya mengucur membasahi kemeja berbahan tipis yang warnanya telah memudar. Parno begitu semangat untuk menyambut acara malam nanti. Sebab mbok lurah memberinya baju baru yang bagus dalam ujuran lelaki yang bernama lengkap Suparno itu.

Tiba di depan balai desa, Parno menghentikan kayuhan sepeda. Kendaraan roda dua tanpa motor itu dia tuntun memasuki pelataran yang sudah setahun ini dipasang paving block. Dana desa merubah wajah pembangunan di Gagah Dara. Berbeda dengan jaman ketika mbok lurah masih menjabat dulu. Hanya kas desa tyang berasal dari tanah bengkok yang menjadi harapan atas laju pembangunan. Selebihnya dari gotong royong warga yang dengan suka rela menyokong kepemimpinan mbok lurah yang arif bijaksana. 

Seksana Parno melihat sekitar. Beberapa sepeda kayuh berbaris rapi. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Begitupun Sepeda motor yang terparkir di halaman pusat pemerintahan desa yang sudah hampir setengah abad dia tinggali. Ada pula kendaraan roda empat dengan logo aparat keamanan. Benar kata mbok Lurah, ada rapat di Balai Desa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3