Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Membasmi Bibit Kebencian di Bulan Ramadan

17 Juni 2017   11:40 Diperbarui: 17 Juni 2017   11:48 182 2 0
Membasmi Bibit Kebencian di Bulan Ramadan
Photo : aksi.dutadamai.id

Oleh Tabrani Yunis

Kegaduhan politik dan hiruk pikuk pelaksanaan Pilkada Jakarta telah mempertontonkan kepada kita bahwa panggung politik itu telah memporak-porandakan semangat berbangsa dan kesatuan kita. Betapa tidak,  semua aktivitas politik yang terjadi, berjalan penuh dengan  bibit kebencian. Kebencian antar lawan politik yang tergambar dalam sikap dan perbuatan para actor politik di tanah air, Indonesia tercinta ini, terutama di Jakarta sebagai pusat kekuasaan. Jakarta sebagai episentrum segala hal. Misalnya selain sebagai pusat pemerintahan, juga sebagai pusat kegaduhan dan bahkan pusat kejahatan. Semua hal demikian  sangat terasa sebelum datangnya bulan Ramadan.   Buktinya, berbagai kasus besar  bahkan tergolong mega, terjadi di pusat pemeritahan ini. Kasus-kasus besar dan kecil yang terjadi telah menyita banyak energy dan perhatian kita, apalagi berlansung terus,  terjadi silih berganti.

Kita pasti ingat bagaimana alot dan rumitnya kasus yang membelenggu Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang dikenal dengan Ahok dengan kasusnya tuduhan melakukan penistaan agama, telah mengantarkannya ke hotel prodeo. Dalam perjalanan kasus ini, telah membuat masyarakat Indonesia, terutama di Jakarta terpecah belah dan saling membenci di antara masing-masing pendukung, bahkan  di luar Jakarta, karena berbau SARA, telah menghasilkan bibit-bibit kebencian sesame anak bangsa. 

Selain kasus Ahok, yang masih memendam benih kebencian tersebut, ada lagi kasus yang besar dan yang juga sarat dengan benih kebencian terhadap pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, dalam kasus yang tergolong aneh itu membuatnya bertandang ke Arab Saudi hingga kini, yang membuat penyelesaian kasusnya menggantung. Belum lagi kasus Novel Baswedan yang  bernasib yang naas, karena disiram dengan air keras yang membuat Novel menderita dan menanti pengungkapan kasusnya, hingga munculnya kecurigaan pada keterlibatan jenderal POLRI. Lalu, kemudian kasus-kasus lain yang mengandung tumbuhnya benih kebencian itu bahkan munculnya kasus mengalirnya dana ke rekening Amien Rais yang ikut mencoreng nama baik tokoh nasional ini. Semua kasus ini ikut mengguncang negeri tercinta ini.

Pendek cerita, tata kehidupan bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah dan menghargai sesama, mendekati seabad kemerdekaan Indonesia, tata kehidupan, bangsa ini terasa sangat rapuh, akibat dari hilangnya tata karma berpolitik santun. Para pemimpin, politisi, dan bahkan wakil-wakil rakyat yang menjelma dari rakyat, telah membuat suasana negeri ini ke dalam kondisi yang mengkhawatirkan. 

Semakin jarang kita melihat pemimpin yang jujur bijaksana, atau arif serta mau dan committed menjaga dan mengawal arah perjuangan bangsa ini. Yang terjadi adalah mereka saling memperkaya diri sendiri, yang wujud nyatanya adalah banyak pejabat Negara yang terjebak dalam kasus korupsi yang berujung ke rumah tahanan atau melarikan diri ke tempat persembunyian dan lain-lain. Semua ini, melahirkan rasa tidak puas, rasa kecewa, bahkan rasa benci di kalangan masyarakat yang tidak sanggup melihat dan merasakan dinamika kehidupan yang demikian.

Lalu, dalam hal menyikapi persoalan-persoalan ketidakadilan, ketidakjujuran dan kesungguhan para penyelanggara Negara, selama ini banyak diekspresikan oleh mereka yang tidak puas dengan berbagai cara. Ada yang melakukan kritik lewat media cetak, lewat diskusi-diskusi di televisi dan bahkan sekarang ini, sejalan dengan kemajuan teknologi informasi yang serba digital, dunia maya menjadi tempat mencurahkan segala bentuk uneg-uneg. Uneg-uneg yang berterbaran itu menerbangkan berbagai macam bentuk kebencian yang melahirkan tindak dan sikap radikal dari kalangan-kalangan yang radikal.

Betapa pula hati kita terasa tercabik-cabik, ketika menyaksikan berbagai  peristiwa tindak kekerasan, yang melebihi sifat binatang yang suka dengan cakar-cakaran dan saling membunuh. Selama ini, tindak kekerasan atau nama agama, atas nama segalanya seakan menjadi sesuatu yang biasa. Kita masih ingat dan sangat segar dalam ingatan kita akan apa yang terjadi baru-baru ini, tragedi berdarah yang mengenaskan  dan memilukan  terjadi di kampung Melayu, Jakarta. Peristiwa aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang mungkin merasa tidak puas atau merasa sakit hati terhadap kondisi Indonesia atau mungkin terhadap jalannya pemerintahan dan sebagainya, lalu melakukan aksi brutal dengan aksi bom bunuh diri yang menghantam sejumlah orang di kampung Melayu, Jakarta pada tanggal 24 Mai 2017 itu.

Ini adalah pertanda bahwa benih-benih kebencian yang selama bersemi di sanubari bangsa ini, terus bertunas dan tumbuh dan terus tumbuh membesar dan memanas hingga meletup dalam berbagai bentuk aksi,  terror hingga aksi bunuh diri, seperti pengeboman yang terjadi di Kampun Melayu tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa selama ini benih-benih kebencian yang sering berujung dengan merebaknya sikap intoleransi antar umat beragama, berwajah kekerasan dan keberingasan antar suku dan bahkan di kalangan para politisi dan pemegang kekuasaan sekali pun adalah bukti betapa bangsa ini sudah semakin kehilangan daya pengikat.

Bangsa yang semakin suka mengunyah-ngunyah fitnah dan saling benci, bahkan semakin munafik atawa hipokrit. Dengan kondisi semacam ini, bangsa kita semakin mudah diadu domba, semakin mudah terjebak dalam perpecahan dan saling melakukan aksi radikalisme yang sesungguhnya menjadi ketakutan kita bersama. Akibatnya, banyak anak bangsa yang merasa kehilangan rasa aman, rasa nyaman serta terancam masa depan, karena ulah kita yang terus menyemai kebencian yang kemudian tumbuh menjadi kemurkaan itu.  Padahal negeri ini didirikan adalah untuk melindungi segenap bangsa, sebagaimana diamanahkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Selayaknya, bangsa ini bercermin, berkaca dan melakukan refeleksi secara jujur, melihat kembali akan kemana arah perjalanan bangsa ini mau dibawa. Apalagi, saat ini ada momentum bulan Ramadan, bulan yang melatih insan yang beriman dan bertaqwa kepada Allah merupakan bulan yang mampu mendidik diri masing-masing insan untuk mau menahan diri, menahan emosi, jujur, mengerjakan hal-hal yang benar serta melatih kesabaran, seharusnya bangsa ini bisa mengajak kembali semua pihak yang sedang menyemai kebencian itu, berhenti menabur benci, fitnah dan intrik-intrik politik busuk yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat bangsa Indonesia itu.

Kiranya, tak dapat dipungkiri, bahwa selama bulan puasa Ramadan ini,  ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan, masyarakat Indonesia yang multi kultur, multi agama an multi wilayah geografis, masih bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman. Segala bentuk intoleransi, rasanya selama Ramadan ini terasa hilang. Bangsa Indonesia ternyata bisa kembali merajut rasa cinta, solidaritas se bangsa dan se negara, serperti yang dahulu kita bangun bersama. 

Selama bulan Puasa Ramadan ini juga, hati kita, menjadi lebih dingin, ;lebih tenang dalam mengahdapi segala gejolak yang terjadi di tanah air. Maka, selayaknya bulan Ramadan ini dijadikan bulan untuk membasmi semua bibit kebencian yang selama ini menggerus jiwa bangsa kita. Tentu banyak cara untuk membasminya. Semua terpulang pada kita. Mau kemana kita bawa bangsa ini. 

Bangsa yang besar dan kuat adalah bangsa yang menghilangkan rasa benci dan menggantikannya dengan cinta kasih sayang, homat menghormati, saling jujur dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang sudah kita jadikan sebagai the way of life itu. Bangsa yang taat dan patuh pada ajaran agama juga akan membuat tata kehidupan bersama menjadi lebih baik dan damai. Mari kita berpikir dan Selamat berpuasa, sambal menyambut datangnya hari nan fitri.