Mohon tunggu...
Tabita Larasati
Tabita Larasati Mohon Tunggu... disainer

suka jalan-jalan dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ajakan Hijrah di Kalangan Maba

25 September 2020   20:22 Diperbarui: 25 September 2020   20:40 18 2 0 Mohon Tunggu...

Dua dekade ini ada dua kata yang laku keras di kalangan generasi muda muslim. Pertama adalah halal yang kedua adalah hijrah.

Arti harafiah dari halal adalah diperbolehkan atau dibenarkan (bahasa Arab). Halal biasanya merujuk pada jenis makanan yang harus dipastikan aman dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam hal ini patut dilihat jenis makanannya, caranya memperoleh sampai pada bagaimana promrosesannya, karena semuanya harus sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Islam melarang umatnya mengkonsumsi daging babi, darah dan bangkai. Islam juga melarang memakan hewan yang mati karena dicekik, dipukul atau jatuh. Lawan halal adalah haram yang artinya dilarang atau tidak dibenarkan menurut syariat Islam.

Hanya saja dalam perkembangannya, halal bisa merujuk pada obyek atau aktivitas. Kemudian Islam menyebut hal yang tak diizinkan sebagai haram.

Kata kedua adalah Hijrah. Belakanga kata hijrah santer terdengar di berbagai kalangan. Gerakan hijrah sangat populer tidak saja pada anak-anak muda, tapi juga ibu-ibu, teman dan saudara kita. Kita juga mendapati kata hijrah pada kalangan artis sampai pesohor negeri.

Arti harafiah dari hijrah adalah berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Kita tentu ingat perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah untuk memperluas dakwahnya. Di Madinah, Nabi mendapat banyak pengikut lalu islam berkembang pesat sejak saat itu.

Makna lebih luas dari hijrah adalah berpindah dari keadaan yang semula buruk menjadi keadaan yang lebih baik. Juga dari kodisi yang sudah baik menjadi kondisi yang jauh lebih baik lagi, dibarengi berbagai upaya untuk membuat segalanya lebih baik. Sehingga arti hijrah yang lebih luas adalah proses terus menerus untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara berfikir dan cara berucap dan bersikap lebih baik dari sebelumnya.

Semisal seorang aparatur militer  negara yang dahulu galak dan suka memukul anak buah, selalu berupaya untuk mengendalikan emosinya. Setelah beberapa saat dia berhasil mengendalikan diri, dan menjadi lebih penyabar dan baik terhadap anak buah dan lingkungan sekitar. Ini adalah salah satu contoh tepat untuk proses hijrah seseorang.

Namun sebagaian dari masyarakat kita mengartikannya secara sempit, semisal perubahan penampilan dari tidak memakai jilbab kini menjadi jilbab. Atau lelaki memelihara jenggotnya menjadi lebih panjang. Namun, meski penampilannya banyak berubah, di kedalaman dan akhlaknya, tidak berubah sama saja dengan tidak hijrah.

Atau ada juga hijrah adalah berarti lebih rajin mempelajari al-Quran dan hadist nabi. Jika itu untuk kebaikan bersama dan menjadi lebih bijak, itulah hijrah yang benar. Namun jika dilakukan berdasar tafsir yang salah, yaitu tafsir tekstual maka pemaknaannya akan sempit.

Ini yang sering terjadi pada anak-anak muda khususnya mahasiswa baru. Atas nama hijrah mereka terpukau dengan beberapa organisasi kemahasiswaan yang mendalami Islam. Mereka dibawa oleh beberapa seniornya untuk mendalami agama tapi sejatinya yang dipelajari adalah pemaknaan sempit soal agama.

Situasi inilah yang menjadi pangkal dari merebaknya intoleransi dan radikalisme di kalangan mahasiswa. Karena itu, marilah bersama-sama waspada dan melihat apakah ada virus-virus radikalisme muncul di tengah-tenah adik-adik mahasiswa baru. Jika iya, kita harus cepat mengatasinya dengan memberikan konteks yang tepat bagi  tafsir dan pemaknaannya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x